Sudah tiga hari ini Zivanya merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, namun ia terus mengabaikannya, menganggapnya sekadar kelelahan biasa akibat kesibukannya di sekolah. Pagi itu, aroma kopi yang biasanya menjadi candu paginya justru membuat perutnya bergejolak tidak nyaman. Zivanya buru-buru meletakkan cangkirnya, menutup hidungnya dengan telapak tangan."Bu Ziva kenapa? Mukanya pucat," tanya Bi Inah, pembantunya yang sedang menyiapkan sarapan Kaisar, memperhatikan raut wajah Zivanya yang terlihat pucat."Nggak apa-apa, Bi. Mungkin cuma masuk angin," jawab Zivanya sambil tersenyum kecil, meski tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang terasa sedikit mual.Ia mencoba melanjutkan aktivitas paginya seperti biasa. Menyiapkan bekal Kaisar dan memastikan Ariyan sarapan sebelum berangkat ke gym miliknya. Rasa pusing ringan terus membayangi sepanjang pagi. Bahkan ketika mengantar Kaisar ke sekolah, Zivanya harus menepikan mobilnya sebentar di pinggir jalan, menahan mual yang tiba-tiba menye
Read more