Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah menjalin komunikasi, Neneng masih tidak menyangka, Lilis pergi di usia semuda itu.“Assalamualaikum, Neng Lilis. Emak mau mandikan kamu. Tolong bantu Emak, ya, Neng.” Mak Acih membelai punggung tangan Lilis.Neneng menatap bibinya dengan tatapan bingung, tapi buru-buru ia tepiskan perasaan itu, karena Mak Acih kemudian mulai merentangkan tangan kanan Lilis.“Neng, kamu berdirinya di sebelah sana.” Mak Acih menunjuk sisi kiri jenazah Lilis, berseberangan dengan tempatnya berdiri. Neneng menurut. Mak Acih memberi isyarat agar Neneng mengikuti gerakannya.Tangan Lilis yang tadi direntangkan, sikunya kemudian ditekuk. Diteruskan pada bagian ketiak yang juga ikut direntangkan dan ditekuk. Dilan
Terakhir Diperbarui : 2026-04-20 Baca selengkapnya