Beranda / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 2)

Share

ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 2)

Penulis: Diah Pitasari
last update Tanggal publikasi: 2026-04-20 16:13:11

Neneng dan Mak Acih memasuki rumah duka yang sudah dipenuhi para pelayat. Keluarga tampak berkumpul mengelilingi jenazah Imah, sementara isak tangis terdengar disela-sela suara orang yang riuh mengaji.

Mak Acih menyalami Eti, ibunda Imah yang langsung menangis dalam pelukannya. “Sing sabar, Ti. Karunya ka Imah. Jangan ditangisi terus.” Mak Acih menepuk-nepuk bahu Eti untuk menguatkan hati perempuan paruh baya itu.

(Yang sabar, Ti. Kasihan ke Imah.)

Mak Acih kemudian bersalaman dengan bebera
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    EPILOG (SELAMANYA CINTA)

    Dini hari yang sunyi. Kabut tebal perlahan turun menyelimuti Desa Cialas.Di sepertiga malam yang dingin itu, Mak Acih baru saja selesai melaksanakan Salat Tahajud. Sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan bersama Aki Amin.Usai mengucap salam, Mak Acih menangkupkan kedua telapak tangan mendoakan seluruh keluarganya. Meminta ampunan serta kelapangan kubur bagi mereka yang telah meninggal, juga memohon keselamatan, dan kesehatan bagi sanak saudara yang masih hidup, lalu berdzikir lama.Baru kemudian ia mengadu. Berkeluh tentang keresahannya. Setelah seminggu, sejak bencana longsor terjadi, Mak Acih tidak memiliki banyak waktu mencurahkan kegalauan dalam keheningan pada Sang Khalik.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    JARIYAH SANG PEMANDI JENAZAH (Bab 3)

    Neneng menatap jenazah Mak Acih yang sudah dikafani dan disemayamkan di ruang tamu rumahnya. Menunggu untuk diberangkatkan ke masjid dan disalatkan.Raut wajah sang bibi tampak tenang dan damai. Seperti sedang tertidur. Seolah ia pergi tanpa beban dan penyesalan.Setitik air mata perlahan jatuh menetesi pipi Neneng. ‘Ah, Bibi, lihatlah mereka semua yang datang, ingin mengucapkan salam perpisahan yang terakhir untukmu.’ Neneng berbisik dalam hati, menatap sekelilingnya yang penuh dengan manusia.Mereka semua hendak memberikan penghormatan terakhir, dengan mendoakan sang pemandi jenazah yang terkenal amanah dalam menjalankan tuga

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    JARIYAH SANG PEMANDI JENAZAH (Bab 2)

    Subuh yang syahdu. Matahari pagi masih malu-malu menampakkan cahaya hangatnya.Neneng membuka pintu belakang rumah Mak Acih, hendak menuju ke kamar mandi yang terpisah dari rumah induk. Ketika dilihatnya Mak Acih sedang menimba air dari sumur tersebut.Dihampirinya sang bibi yang tak menyadari kehadirannya.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    JARIYAH SANG PEMANDI JENAZAH (Bab 1)

    “Bukit Hejo memang benar dikeramatkan oleh leluhur kita.”Suara gumaman berhenti. Mereka semua fokus menyimak ucapan Ustadz Agum selanjutnya.“Kalau saya, ambil pengertiannya begini, Bukit Hejo sengaja dikeramatkan, agar ada semacam perasaan sungkan, kalau kita sebagai warga Desa Cialas sengaja mau merusak atau membabat habis pepohonan di hutan tersebut.”

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 6)

    Sore yang cerah di Desa Cialas.Selepas Salat Ashar di masjid desa, Ustadz Agum mengajak seluruh jemaah yang hadir untuk melaksanakan Salat Gaib, bagi seluruh korban yang jenazahnya diputuskan tetap terkubur di lokasi bencana terakhir.“Saudara-saudara sekalian, ayo, silakan saf dan posisinya di atur.” Ustadz Agum mengatur posisi jamahnya.Setelah dirasa posisinya sudah sesuai, ia pun memulai prosesi Salat Gaib, diikuti para penduduk desa.“Bismillahirrohmannirrohiim. Ushalli alaa mayyitil ghaaibi arba’a takbiiraatin fardlal kifaayati imaaman lillahi ta’aalaa.” Ust

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 5)

    “Sepertinya tanah milik Haji Kosim, Kang Ustadz. Sawah beliau ada di bawah Bukit Hejo. Ada juga, tanah milik warga, tapi cuma sedikit yang kena longsor. Kenapa gitu, Kang Ustadz?” tanya RT Madun.Ustadz Agum terdiam sejenak. “Kalau berkenan, kira-kira Haji Kosim bersedia tidak, ya, dibayari tanahnya untuk dijadikan lokasi pemakaman masal terakhir.”“Kok begitu, Kang Ustadz?” tanya Badar tak mengerti

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)

    Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 1)

    Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status