Startseite / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

Teilen

SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

last update Veröffentlichungsdatum: 20.04.2026 15:52:16

Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya.

Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD.

Tahun-tahun berlalu tanpa pernah menjalin komunikasi, Neneng masih tidak menyangka, Lilis pergi di usia semuda itu.

“Assalamualaikum, Neng Lilis. Emak mau mandikan kamu. Tolong bantu Emak, ya, Neng.” Mak Acih membelai punggung tangan Lilis.

Neneng menatap bibinya dengan tatapan bingung, tapi buru-buru ia tepiskan perasaan itu, karena Mak Acih kemudian mulai merentangkan tangan kanan Lilis.

“Neng, kamu berdirinya di sebelah sana.” Mak Acih menunjuk sisi kiri jenazah Lilis, berseberangan dengan tempatnya berdiri. Neneng menurut. Mak Acih memberi isyarat agar Neneng mengikuti gerakannya.

Tangan Lilis yang tadi direntangkan, sikunya kemudian ditekuk. Diteruskan pada bagian ketiak yang juga ikut direntangkan dan ditekuk.

Dilanjutkan pada bagian kaki yang diluruskan terlebih dahulu baru kemudian ditekuk di bagian lutut dan bagian pangkal pahanya. Mak Acih mengulangi sampai dua kali, agar persendian jenazah sedikit lemas dan mudah dimandikan.

Sementara Neneng, walau masih canggung, tetap berusaha mengikuti setiap gerakan yang dilakukan Mak Acih.

“Lalaunan, nya, Neng, karunya janazahna mun dicepeng kasar teuing.”

(Pelan-pelan, ya, Neng. Kasihan jenazahnya kalau pegangnya terlalu keras.)

Mak Acih memperingatkan Neneng yang masih tampak  kaku memperlakukan jenazah Lilis. Neneng mengangguk gugup.

“Tun, ayo bantu buka bajunya Lilis,” perintah Mak Acih pada Atun yang tahu-tahu sudah menangis di sampingnya. Atun mengangguk.

Mereka membuka baju Lilis, dengan tetap menutupi tubuhnya menggunakan kain batik panjang.

Mak Acih meletakkan jenazah Lilis dengan posisi kepala agak tinggi, kemudian mulai menyikat gigi, membersihkan lubang hidung, lubang telinga, celah ketiak, serta celah jari kaki dan jari tangannya, baru kemudian ke rambutnya.

Setelah itu, Mak Acih menekan-nekan perut jenazah untuk mengeluarkan kotorannya.

“Siram yang banyak, Neng. Biar kotorannya hanyut,” ujar Mak Acih. Ia kini sedang menceboki jenazah Lilis dengan jari yang sudah dilapisi kain.

Neneng menurut. Sejujurnya ia merasa mual saat prosesi ini, tapi berusaha disembunyikan, karena teringat pesan Mak Acih agar jangan banyak berkomentar mengenai prosesi pemandian jenazah. Sang bibi mengerti, prosesi istinja akan membuat tidak nyaman bagi orang yang baru pertama kali memandikan jenazah seperti Neneng.

“Mandikeunna bari ditutupan samping wae, Neng. Usahakeun tong ningali auratna, tapi mun kapaksa, teu nanaon,” bisik Mak Acih, sambil menyiramkan air pada jenazah Lilis. Neneng mengangguk.

(Memandikannya sambil ditutupi kain saja, Neng. Usahakan jangan secara langsung melihat auratnya, tapi kalau terpaksa, tidak apa-apa.)

“Nawaitul ghusla adaa’an hadzihil mayyitati lillahi ta’aala.”

“Bismillahirrahmanirrahim.”

Jenazah Lilis mulai dimandikan dengan sabun, tidak lupa, rambut panjangnya dikeramasi dan dikepang menjadi tiga bagian. Kuku yang terlihat panjang pun ikut dipotong.

“Siram dari ujung kepala sampai ujung kaki, bagian yang kanan dulu, baru yang kiri. Masing-masing siramannya ganjil. Tiga, lima, atau tujuh. Terserah,” ujar Mak Acih.

Neneng mengangguk patuh. Menerima gayung yang diberikan Mak Acih, dan mulai membasuh jenazah Lilis.

“Hayu siram lagi, Neng.” Mak Acih memiringkan bagian kanan jenazah Lilis. Setelah dibasuh air oleh Neneng, Mak Acih kemudian membalik bagian kiri tubuhnya.

Setelah selesai, jenazah Lilis kembali disiram air dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, setelah itu diakhiri dengan membasuh jenazah menggunakan air kapur barus.

Setelah proses pemandian selesai, Mak Acih  meminta bantuan Atun untuk membantu mewudhukan jenazah anaknya.

“Nawaitul wudhu-a li hadzihil mayyitati lillahi ta’alaa.”

Mak Acih baru saja akan membasuh wajah jenazah Lilis, ketika tiba-tiba telinganya berdenging, dan ia merasakan suasana sekitarnya berubah menjadi sunyi. Tak ada suara orang menangis, tak ada suara apa pun. Yang terdengar hanya suara angin  berembus pelan.

Mak Acih menatap sekitar. Ia kebingungan. Masih terlihat jelas orang-orang di sekitarnya berlalu-lalang. Bahkan Neneng masih berdiri di sampingnya, membantu mengambilkan air. Namun, kenapa mendadak tiba-tiba telinganya tak bisa menangkap suara apa pun.

Bahkan orang-orang di sekitarnya tak menunjukkan reaksi apa-apa. Mereka tetap bersikap biasa, seolah semua baik-baik saja.

Masih di tengah kebingungan, Mak Acih menoleh pada jenazah Lilis. Dan ia sungguh terkejut, demi mendapati perempuan cantik itu tahu-tahu sudah duduk di hadapannya dengan raut wajah kaku dan tatapan kosong menatap lurus ke depan. Rambut dan tubuhnya masih basah dan meneteskan air. Kedua tangannya memegangi kain batik, menahan kain itu, menutupi dada.

Mak Acih terpaku. Dadanya berdegup kencang. Pikirannya berusaha meyakinkan bahwa ini tak nyata, tapi yang terlihat oleh mata, rupanya tak mampu dicerna akal dan logika.

Sosok Lilis masih duduk diam dengan posisi yang sama.

“Neng.” Akhirnya setelah beberapa saat, Mak Acih berhasil menguasai diri dan menguatkan hati, untuk menyapa perempuan manis itu.

“Kunaon?” tanyanya hati-hati.

“Hampura, Mak. Urang hayang disampurnakeun.” Lilis menjawab dengan suara lirih. Nada suaranya datar dan pelan.

(Maaf, Mak. Saya ingin (jasad saya) disempurnakan)

“Disampurnakeun kumaha?” Mak Acih menatap Lilis heran.

(Disempurnakan bagaimana?)

“Urang boga pamake, Mak.” Lilis masih dengan suara datar, meraba sekujur tubuh dengan tangannya sendiri. Mak Acih terkesiap. Ia melihat beberapa bagian pada tubuh Lilis tampak bersinar terang tak lazim.

(Saya punya pemakai -susuk-, Mak.)

Lilis kembali memegang kain dengan kedua tangan, lalu diam, seolah sedang menunggu jawaban Mak Acih.

“Iya, Neng, Emak ngerti,” ujar Mak Acih.

“Nuhun, Mak,” sahut Lilis.

“Bi. Bibi kunaon?” sebuah tepukan di bahunya menyadarkan Mak Acih dari lamunan.

Sontak ia menoleh menatap orang yang tadi menepuknya, yang ternyata adalah Neneng. Sedang menatapnya heran.

Mak Acih menatap sekitar. Suasana sudah kembali seperti biasa. Suara orang-orang yang sesaat tadi tidak terdengar, kini kembali dapat ditangkap gendang telinga.

Mak Acih mengarahkan pandangan pada sosok Lilis yang terbaring di atas batang pisang menunggu proses pemandian selanjutnya.

“Sabar, ya, Neng,” bisik Mak Acih sambil membelai rambut Lilis.

“Tun, di sini ada pohon kelor?” Mak Acih berbisik pelan di telinga Atun yang langsung mengernyitkan dahi tidak mengerti.

“Buat apa, Mak?” tanyanya heran.

“Nanti Emak jelaskan, ya, Tun,” jawab Mak Acih. Ia tidak punya waktu menjelaskan sekarang.

Atun coba mengingat-ingat. “Itu di samping kulon rumah, Mak. Ada pohon kelor, kayaknya.”

Mak Acih mengangguk mengerti.

“Neng, tolong petikin daun kelor, ya, kata Atun, pohonnya ada di samping kulon rumah. Bawanya pakai tas, jangan sampai kelihatan orang,” perintah Mak Acih.

Neneng menatap sang bibi dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia ingin bertanya, tapi wajah Mak Acih yang seolah menyiratkan perintah, ‘jangan banyak tanya. Cepat lakukan saja perintah Emak!’, membungkam rasa penasarannya.

Dengan terburu-buru, ia kemudian pergi menuju samping rumah tempat pohon kelor itu tumbuh.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Kommentare (2)
goodnovel comment avatar
Diah Pitasari
Iya.. Mana banyak banget lagi. Ampe sebadan-badan. Semoga kita enggak kepikiran begitu yaa
goodnovel comment avatar
Arz Kaf
waduh Lilis pake susuk?
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    EPILOG (SELAMANYA CINTA)

    Dini hari yang sunyi. Kabut tebal perlahan turun menyelimuti Desa Cialas.Di sepertiga malam yang dingin itu, Mak Acih baru saja selesai melaksanakan Salat Tahajud. Sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan bersama Aki Amin.Usai mengucap salam, Mak Acih menangkupkan kedua telapak tangan mendoakan seluruh keluarganya. Meminta ampunan serta kelapangan kubur bagi mereka yang telah meninggal, juga memohon keselamatan, dan kesehatan bagi sanak saudara yang masih hidup, lalu berdzikir lama.Baru kemudian ia mengadu. Berkeluh tentang keresahannya. Setelah seminggu, sejak bencana longsor terjadi, Mak Acih tidak memiliki banyak waktu mencurahkan kegalauan dalam keheningan pada Sang Khalik.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    JARIYAH SANG PEMANDI JENAZAH (Bab 3)

    Neneng menatap jenazah Mak Acih yang sudah dikafani dan disemayamkan di ruang tamu rumahnya. Menunggu untuk diberangkatkan ke masjid dan disalatkan.Raut wajah sang bibi tampak tenang dan damai. Seperti sedang tertidur. Seolah ia pergi tanpa beban dan penyesalan.Setitik air mata perlahan jatuh menetesi pipi Neneng. ‘Ah, Bibi, lihatlah mereka semua yang datang, ingin mengucapkan salam perpisahan yang terakhir untukmu.’ Neneng berbisik dalam hati, menatap sekelilingnya yang penuh dengan manusia.Mereka semua hendak memberikan penghormatan terakhir, dengan mendoakan sang pemandi jenazah yang terkenal amanah dalam menjalankan tuga

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    JARIYAH SANG PEMANDI JENAZAH (Bab 2)

    Subuh yang syahdu. Matahari pagi masih malu-malu menampakkan cahaya hangatnya.Neneng membuka pintu belakang rumah Mak Acih, hendak menuju ke kamar mandi yang terpisah dari rumah induk. Ketika dilihatnya Mak Acih sedang menimba air dari sumur tersebut.Dihampirinya sang bibi yang tak menyadari kehadirannya.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    JARIYAH SANG PEMANDI JENAZAH (Bab 1)

    “Bukit Hejo memang benar dikeramatkan oleh leluhur kita.”Suara gumaman berhenti. Mereka semua fokus menyimak ucapan Ustadz Agum selanjutnya.“Kalau saya, ambil pengertiannya begini, Bukit Hejo sengaja dikeramatkan, agar ada semacam perasaan sungkan, kalau kita sebagai warga Desa Cialas sengaja mau merusak atau membabat habis pepohonan di hutan tersebut.”

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 6)

    Sore yang cerah di Desa Cialas.Selepas Salat Ashar di masjid desa, Ustadz Agum mengajak seluruh jemaah yang hadir untuk melaksanakan Salat Gaib, bagi seluruh korban yang jenazahnya diputuskan tetap terkubur di lokasi bencana terakhir.“Saudara-saudara sekalian, ayo, silakan saf dan posisinya di atur.” Ustadz Agum mengatur posisi jamahnya.Setelah dirasa posisinya sudah sesuai, ia pun memulai prosesi Salat Gaib, diikuti para penduduk desa.“Bismillahirrohmannirrohiim. Ushalli alaa mayyitil ghaaibi arba’a takbiiraatin fardlal kifaayati imaaman lillahi ta’aalaa.” Ust

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 5)

    “Sepertinya tanah milik Haji Kosim, Kang Ustadz. Sawah beliau ada di bawah Bukit Hejo. Ada juga, tanah milik warga, tapi cuma sedikit yang kena longsor. Kenapa gitu, Kang Ustadz?” tanya RT Madun.Ustadz Agum terdiam sejenak. “Kalau berkenan, kira-kira Haji Kosim bersedia tidak, ya, dibayari tanahnya untuk dijadikan lokasi pemakaman masal terakhir.”“Kok begitu, Kang Ustadz?” tanya Badar tak mengerti

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)

    Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 1)

    Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status