Home / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)

Share

ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)

Author: Diah Pitasari
last update publish date: 2026-04-20 16:06:05

Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka.

Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi yang terkadang membuat lupa. Menyilaukan mata dengan keindahannya yang membuai. Merelakan cita-cita yang semasa hidup belum sempat terlaksana.

Dan pergi hanya menyisakan kenangan, entah memori indah atau buruk pada sanak kerabat yang walau berat, tetap harus rela si Fulanah tinggalkan.

Adalah Imah. Seorang ibu muda berusia 25 tahun. Tujuh tahun berumah tangga, namun Sang Mahakuasa, belum kunjung menganugerahi buah hati yang lama diidamkan Imah dan sang suami. Tak putus asa, berbagai metode untuk kesuburan pun mereka coba. Dan ikhtiar itu membuahkan hasil. Imah akhirnya dinyatakan hamil.

Manusia adalah makhluk tak berdaya kuasa, karena segala takdir merupakan milik Sang Raja Manusia. Di usia kandungan yang tinggal menghitung minggu menjelang melahirkan, perempuan lembut itu, menjemput ajalnya.

....

“Aya naon, Mang?” tanya Imah saat menyadari becak yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti di pinggir jalan.

(Ada apa, Paman?)

“Ada yang hajatan, Teh. Jalannya ditutup. Becak saya enggak bisa lewat,” sahut Mang Sukri, tukang becak yang sudah lama menjadi langganan Imah.

Imah membuka tirai penutup becak di depannya.

“Wah, iya, Mang. Apa putar balik aja?”

“Iya, Teh. Ini Mamang mau putar balik.” Mang Sukri memutar becaknya, mencari jalan alternatif lain yang bisa dilalui.

“Kalo ada yang hajatan sampai nutup jalan gini, Mamang jadi muter-muter, ya, Mang?” tanya Imah, saat becak sudah kembali melaju.

“Iya, Teh. Yah, mau bagaimana lagi. Sudah kebiasaannya kayak gitu. Padahal, kata orang tua jaman dulu, nutup jalan orang itu pamali,” ujar Mang Sukri di sela-sela tarikan becaknya.

“Untung masih ada jalan alternatif, ya, Mang?”

“Iya. Ngomong-ngomong, Teh Imah ke pasar sendirian aja?” tanya pria paruh baya yang masih tampak cekatan mengayuh becak itu.

“Iya, Mang. ’A Iksan lagi ada kerjaan, jadi enggak bisa nemenin." Imah menyebut nama sang suami, seraya merapikan belanjaan yang berserak di lantai becak yang ia tumpangi.

Sekarang adalah hari ulang tahun pernikahannya yang ke tujuh, dan demi momen istimewa itu, Imah berniat memasak yang spesial dan berbeda dari biasa.

Perempuan berkulit kuning langsat itu juga membeli daster baru berpotongan seksi yang rencananya akan ia pakai sebagai bentuk kejutan untuk sang suami. Imah jadi senyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi sang lelaki pujaan saat melihatnya memakai daster berwarna pink itu.

Imah memandang sekeliling. Lamunannya terhenti demi menyadari becak yang ia tumpangi melambat dan sedikit terseok.

“Kenapa, Mang?” tanya Imah khawatir, seraya berpegangan pada bangku becaknya.

“Jalannya nanjak, Teh,” sahut Mang Sukri dengan suara terengah.

Imah menatap ke luar, ia baru ingat, jalan alternatif ini melewati tanjakan curam, karena bagian bawah tanjakannya terdapat lintasan rel kereta api.

“Kade, Mang, Ah. Urang turun heula atuh, nya?” tanya Imah, seraya mempererat Cengkeramannya pada besi dinding becak.

(Hati-hati, ya, Paman. Apa saya turun saja?)

Belum sempat Mang Sukri menjawab, becak yang kini sudah dalam posisi menurun itu, tiba-tiba meluncur sendiri tanpa bisa dikendalikan.

Mang Sukri berusaha menahan laju kencang becak semampu yang ia bisa, namun tarikan kuat gravitasi tak mampu dilawan tuas rem becak tuanya.

Hingga akhirnya becak itu meluncur jatuh melewati jalan berbatu yang belum di aspal, dan baru berhenti ketika roda becak terperosok masuk ke dalam saluran irigasi yang berada di sisi kiri jalan.

Membuat tubuh Imah terlempar jauh dari becak, diiringi jerit ketakutannya yang menyayat hati. Tubuh perempuan cantik itu mendarat pada saluran irigasi, menyisakan luka berdarah di mana-mana. Termasuk darah yang mengalir keluar dari pahanya.

Beberapa orang yang berada di tempat kejadian langsung sigap menolong, membawa Imah menuju rumah sakit terdekat.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Setelah beberapa saat mendapat perawatan, dini hari itu, Imah dinyatakan meninggal dunia.

...

“Kasihan Imah, ya, Bi. Masih muda sudah meninggal. Suaminya juga nangis terus,” ujar Neneng saat mereka dalam perjalanan menuju rumah duka di mana jasad Imah disemayamkan.

Jenazah sang calon ibu itu belum dimandikan, karena permintaan keluarga yang lebih memilih memandikan dan mengurus sendiri jasad Imah di rumah mereka.

“Ajal enggak pandang usia, Neng,” jawab Mak Acih. Neneng mengangguk setuju. Tak ingin bertanya lagi. Ia paham benar sifat sang Bibi yang irit bicara.

“Mamang udah duluan, ya, Bi?” tanya Neneng.

“Sudah. Tadi disuruh bantu gali makam. Oya, perlengkapan Bibi enggak ada yang ketinggalan kan?”

Neneng memeriksa tas pandan dalam pelukannya. “Lengkap, Bi.”

Mak Acih tersenyum. Senang dengan sikap cekatan sang keponakan.

“Neneng!” Sebuah panggilan mengejutkan mereka. Sontak Mak Acih dan Neneng menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata adalah Yati, salah seorang tetangga desa.

“Mak.” Yati tersenyum menyapa, sembari mengajak Mak Acih dan Neneng bersalaman.

“Mau melayat juga, Ti?” tanya Mak Acih.

Perempuan bertubuh berisi itu mengangguk. “Iya, Mak. Kasihan, ya, Mak si Imah.”

“Yah namanya juga ajal, Ti,” sahut Mak Acih.

Yati geleng-geleng kepala, menunjukkan sikap menyesal.

Beberapa warga yang bertemu di jalan, dengan tujuan sama-sama ingin melayat Imah, turut menyapa Mak Acih mengajak bersalaman.

Neneng berjalan bersama Yati, terpisah agak jauh di belakang Mak Acih.

“Neng, mau tanya, dong,” ujar Yati dengan suara berbisik.

“Tanya apa?”

“Kemarin kok proses memandikan Lilis rada lama, ya? Terus ada yang lihat kamu petik daun kelor segala? Memangnya jenazah Lilis kenapa? Kok pakai daun kelor segala?” tanya Yati dengan nada penuh rasa ingin tahu.

Neneng mengernyitkan dahi tidak suka. Sejak awal Yati menyapa mereka tadi, Neneng sudah yakin, perempuan ceriwis itu pasti punya maksud lain. Dugaannya tak meleset. Tujuan Yati rupanya ingin mencari bahan gosip baru.

Dan Neneng tak habis pikir, karena orang yang sudah meninggal pun tak luput menjadi bahan ghibahnya.

“Memandikan jenazah Teh Lilis agak lama, karena saya baru pertama ikut memandikan, Teh. Jadi masih belum lihai. Potong-potong kafan sama mandikannya juga masih banyak tanya-tanya sama Bibi,” jelas Neneng dengan nada sedikit tegas.

Berharap Yati mengerti sikap tak sukanya dan tak lagi bertanya soal proses memandikan jenazah Lilis kemarin.

“Ih, kamu mah pelit. Cuma minta cerita sedikit aja, enggak dikasih.” Yati tampak cemberut.

Neneng tiba-tiba ingat, Yati-lah yang kemarin kasak-kusuk bergosip bersama beberapa perempuan saat jenazah Lilis masih disemayamkan di rumah duka.

“Teh, cek Bibi, ulah sok ngomongkeun nu geus maot. Pamali. Nu enggeus mah enggeus, ulah sok diomongkeun kagorengan na. Urang nu hirup keneh mending ngado'akeun Almarhumah wae.” Neneng mengingatkan, lalu mempercepat langkah menyusul Mak Acih yang berjalan di depannya. Meninggalkan si biang gosip berjalan sendirian.

(Kak, kata Bibi, jangan suka membicarakan (orang) yang sudah meninggal. Pamali. Yang sudah ya sudah, jangan lagi membicarakan keburukannya. Lebih baik, kita-kita yang masih hidup ini, sebaiknya mendoakan saja.)

...

*Anaking Jimat awaking, Merupakan peribahasa sunda, yang artinya ‘Anakku Jimat Tubuhku’. Bisa juga bermakna Anakku Pujaan hati, Belahan Jiwa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Arz Kaf
kasian banget imah,, niat mau memberikan kejutan malah berkahir tragis..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 5)

    “Sepertinya tanah milik Haji Kosim, Kang Ustadz. Sawah beliau ada di bawah Bukit Hejo. Ada juga, tanah milik warga, tapi cuma sedikit yang kena longsor. Kenapa gitu, Kang Ustadz?” tanya RT Madun.Ustadz Agum terdiam sejenak. “Kalau berkenan, kira-kira Haji Kosim bersedia tidak, ya, dibayari tanahnya untuk dijadikan lokasi pemakaman masal terakhir.”“Kok begitu, Kang Ustadz?” tanya Badar tak mengerti

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 4)

    Hari kelima, total ada tujuh jenazah yang ditemukan. Mereka akhirnya dimakamkan dengan langsung menggunakan kantong jenazah sebagai pengganti kain kafan, dan dalam satu lubang pemakaman masal.“Neng, apa kira-kira, besok jenazah korban akan ditemukan semua?” tanya Mak Acih di sela-sela persiapan acara tahlil. Beberapa hari kemarin, acara tahlil diadakan di lapangan desa.Namun, tadi sore, selesai pemakaman masal, hujan mulai turun. Ustadz Agum memutuskan, tahlilan malam ini diadakan di masjid desa saja.Warga desa yang antusias mengikuti tahlil sejak hari pertama, menurut.Mereka memasang terpal di pelataran masjid untuk men

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 3)

    Hari kelima.Pencarian jenazah kembali dilakukan. Tim SAR dan aparat desa bertekad menemukan lebih banyak lagi korban yang tertimbun untuk dikebumikan secara layak.“Mak, karena biasanya di hari ke 4 ini, jenazah korban sudah rusak, dan ada kemungkinan juga, mulai terkontaminasi bakteri, nanti disucikannya dengan cara tayamum saja. Mak Acih juga harus pakai sarung tangan karet ini, ya, biar aman.” Ustadz Agum memberikan sekotak sarung tangan karet pada Mak Acih yang langsung mengangguk, dan memasukkannya ke dalam tas pandan.“Berapa orang lagi yang belum ditemukan, Ustad?” tanya Mak Acih.“Kira-kira lima be

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 2)

    “Subhanalloh, Aki Amin orang baik. Allohu Akbar.” Jaya tak henti bertasbih, mereka yang hadir di sana pun ikut bertasbih.Setelah itu, tanpa buang waktu lagi, karena sebentar lagi akan diadakan proses pemakaman masal, maka Mak Acih memutuskan untuk menyegerakan memandikan jenazah sang suami.Mak Acih, Samih dan Nanang, mulai menggosok setiap bagian tubuh Aki Amin. Surip dan Jaya, bagian menyirami.“Tangan inilah yang dulu Abah pakai untuk menghidupi kita.” Mak Acih menggosok bagian tangan kanan Aki Amin, lalu Samih yang berseberangan di bag

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    HUJAN DALAM MIMPI (Bab 1)

    “Mak, Abah sudah ketemu!” teriaknya dari luar bilik pemandian jenazah perempuan.Mak Acih terpaku sesaat. Jantungnya berdetak kencang, sementara tubuhnya mendadak lemas. Samih dan keluarga Carwen, jenazah yang sedang dimandikan, langsung tanggap, dan memegangi tubuhnya agar tak terjatuh.“Nanti, Nang. Emak lagi tanggung,” sahut Mak Acih, dari dalam bilik pemandian.“Ternyata, jenazah Abah benar tertimbun pohon asem yang roboh, Mak.” Nanang berteriak lagi dari luar.“Iya, Nang,” sahut Mak Acih.“Sudah. Ema

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 8)

    “Tadi itu benar Teh Epih sama Anah, Mak?” tanya Samih khawatir, saat melihat Mak Acih dan Neneng memasuki bilik pemandian. Saat itu, ia sedang menggantikan Mak Acih memandikan jenazah salah seorang warga desa.“Iya, Mih.” Mak Acih tertunduk lesu. Mengusap air matanya yang kembali mengalir.Samih ikut menangis sesenggukan. Apa yang menjadi kekhawatirannya benar-benar terbukti. Sejujurnya ia ingin menangis berteriak-teriak untuk melegakan perasaan dan rasa sesak di dada, tapi ia meyakinkan diri, bahwa itu tak ada gunanya. Toh, tidak akan bisa menghidupkan kembali jasad sang kakak sepupu dan keponakan. Samih tetap meneruskan memandikan jenazah membantu sang Ibu, sementara Neneng berada di dalam rumah, bertugas mengafani jenazah.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    RUMAH BARU UNTUK PARDI (Bag 1)

    Pagi yang cerah di Desa Cialas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kesejukan dan aroma segar udara pegunungan. Aki Amin melangkah sendirian menuju sawah Haji Kosim yang terbentang luas dan bertanah subur. Berada tepat di bawah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar berusia tua. Ia dan beberapa te

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

    Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status