MasukBeberapa hari terakhir, udara Desa Cijeruk terasa kurang nyaman di kulit. Dikarenakan, cuaca berawan menyebabkan radiasi panas matahari yang menyinari permukaan bumi, tertahan oleh awan saat akan terpantul kembali ke angkasa, sehingga membuat cuaca menjadi lembap.
Biasanya sengatan panas itu akan menguap seiring turun hujan. Setelahnya, suasana sejuk akan kembali dapat dirasakan warga Desa Cijeruk. Siang itu, Mak Acih berjalan seorang diri. Melangkah menyusuri jalan setapak di pinggir areal persawahan desa yang menghampar luas. Ia baru saja pulang dari mengantar makan siang untuk Aki Amin. Sudah seminggu ini, sang suami bekerja menggarap sawah milik Haji Kosim, salah satu juragan beras di desanya. Sekalian lewat, sepulangnya dari sawah, Mak Acih berencana membeli sayur di warung milik Ipat, tetangga desa. Ketika sebuah suara tertangkap gendang telinga Mak Acih kala melewati rumah Kokom, seorang teman sebayanya. “Mak! Ih, malu itu dilihatin orang. Bajunya dipakai dulu kalau mau keluar rumah!” “Enggak mau. Emak lagi gerah. Enggak mau pakai baju.” Tak lama seorang perempuan sepuh terlihat keluar dari rumah bercat pudar itu. Langkahnya agak lambat, karena postur tubuh yang gemuk. Ia tampak kegerahan, tangannya tak henti mengipasi leher dan dada dengan kipas tangan yang terbuat dari anyaman bambu. Tubuh bagian atasnya hanya ditutupi kutang, sejenis Bra yang terbuat dari kain kaku, tanpa kawat dan busa. Biasanya memiliki panjang sebatas pusar. Kutang jenis ini lazim dipakai perempuan pada masa itu. Sementara pada bagian bawah tubuh, perempuan sepuh itu menutupinya dengan kain batik panjang. “Mun hareudang mah, mandi atuh, Mak. Ulah awas kitu.” Seorang perempuan paruh baya keluar dari rumah menyusul si perempuan sepuh sambil membawa sehelai kebaya berwarna hijau di tangannya. (Kalau gerah, mandi, aja, Mak. Jangan -kutangan- begitu.) “Sudah mandi. Tapi masih gerah.” Perempuan sepuh bernama Kokom itu duduk di balai-balai teras rumahnya. “Euleuh euleuh, aya naon iyeu meuni raribut?” Sapa Mak Acih pada Kokom yang tak kunjung berhenti mengipasi tubuh. Padahal cuaca tidak terlalu panas, dan rasanya aneh kalau perempuan sepuh berwajah ramah itu sampai harus mengipasi tubuh secara berlebihan. (Wah-wah. Ada apa ini pada berisik?) “Eeeh, Mak Acih. Mau ke mana, Mak?” sapa perempuan paruh baya bernama Euis, yang merupakan anak sulung dari Kokom. Belum sempat Mak Acih menjawab, Kokom sudah keburu menyahut, “Emak mbung mandi sorangan. Emak mah hayang dipandianna ku si Acih.” (Emak enggak mau mandi sendiri. Emak maunya dimandiin sama si Acih.) Mak Acih dan Euis kontan tertawa terbahak. “Atuh ai hayang dipandian ku urang mah, maneh kudu euweuh heula, Kom.” ujar Mak Acih di sela tawanya. (Atuh kalau mau dimandikan sama saya, kamu harus meninggal dulu, Kom.) “Tuh, dengerin, Mak,” sahut Euis sambil menyodorkan baju di tangannya pada Kokom, yang kembali ditolak oleh perempuan bertubuh gemuk itu. “Heu-euh atuh, isukan maneh kadieu deui, nya, Cih. Pandian urang,” jawab Kokom pada Mak Acih yang kembali tertawa. (Iya atuh, besok kamu kemari lagi, ya, Cih, buat mandiin saya.) “Hush! Emak ngomong apa, sih? Ada-ada aja.” Euis mendelik kesal. Mak Acih kembali tertawa. Dan setelah puas saling berbalas canda, Mak Acih lalu berpamitan untuk meneruskan perjalanan menuju warung sayur milik Ipat. ... Pagi itu, Mak Acih sedang mempersiapkan sarapan untuk Aki Amin, ketika terdengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. “Assalamualaikum.” “Wa ‘Alaikumsalam.” Mak Acih bergegas menuju pintu. “Aya naon, Jang?” sapa Mak Acih pada seorang pria muda yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya. “Maaf, Mak. Saya disuruh manggil Mak Acih sama Aki Amin ke rumah Nini Kokom,” ujar pemuda 20 tahun, yang Mak Acih kenal bernama Dedi, anak sulung Euis. “Aya naon, kitu?” tanya Mak Acih. (Ada apa, ya?) “Nini maot, Mak. Cikeneh.” (Nenek meninggal, Mak. Barusan.) “Maot?” Mak Acih membelalakkan mata. Menatap pemuda jangkung itu dengan tatapan tidak percaya. Belum sempat Dedi menjawab, dari masjid terdengar suara sepiker yang mengumumkan berita duka tentang meninggalnya Kokom. “Itu baru diumumin di masjid. Bisa kan Emak datang sekarang?” tanya Dedi lagi. “Innalillahii waa inna Ilayhi raajiuun.” Mak Acih mengangguk. “Iya, Emak ke sana sekarang.” “Terima kasih, Mak. Permisi.” Dedi mencium tangan Mak Acih, lalu beranjak pergi meninggalkan rumah itu. “Siapa, Mak?” tanya Aki Amin setelah Mak Acih menutup pintu. “Si Dedi, cucunya Kokom, ngasih tau kalau Kokom barusan meninggal. Itu tadi ada pengumumannya di masjid, Abah enggak dengar?” tanya Mak Acih, seraya mempersiapkan perlengkapannya ke dalam tas. “Innalillahii waa inna Ilayhi raajiuun. Abah tadi dengarnya cuma samar-samar, Mak. Cuma Emak yang dipanggil?” “Atuh, Abah juga ikut. Kata Dedi disuruh bantu gali makam,” sahut Mak Acih. “Oh. Hayu atuh kita berangkat sekarang.” Abah bangkit dari duduknya. “Kerjaan abah di Haji Kosim gimana?” “Ke sawahnya habis ngegali makam saja. Nanti ngasih kabarnya lewat si Usep, sekalian lewat.” Aki Amin menyebut nama tetangga mereka yang sama-sama bekerja menggarap sawah Haji Kosim. “Sekalian lewat rumah Neneng, Bah. Emak mau sekalian ngajak dia. Hayu atuh, kita berangkat.” Mak Acih sudah siap dengan tas perlengkapannya. Tanpa diperintah dua kali, Aki Amin langsung bangkit dari duduknya, mengikuti Mak Acih yang bersiap pergi. ... Mak Acih dan Neneng memasuki rumah Kokom yang sudah dipenuhi para pelayat yang membludak sampai memenuhi ujung jalan masuk ke rumah itu. Sungguh pemandangan indah, tatkala hari kematian tiba, ada banyak saudara dan sahabat yang menyempatkan diri datang melayat dan mengantar hingga ke peristirahatan terakhir. Satu pertanda yang diberikan Tuhan, untuk menunjukkan bahwa si Fulan atau Fulanah, semasa hidup adalah orang baik. “Yang melayat banyak, ya, Mak.” Neneng tampak terpesona di tengah-tengah lautan manusia di sekitarnya. “Alhamdulillah. Berarti Almarhumah orang baik. Semoga besok kita kaya begini, Neng. Banyak yang datang mendoakan.” “Aamiin.” Mak Acih dan Neneng langsung bersalaman dengan Euis dan beberapa sanak saudara dari Kokom. Mereka sedang mengelilingi jenazah yang sudah ditutupi kain batik. Wajah mereka tampak sembap dan muram. Beberapa kali terdengar isak tertahan bercampur suara orang mengaji di ruangan itu. Mak Acih menundukkan kepala seraya mendoakan Almarhumah. Ah, ajal memang tak bisa diduga. Baru kemarin mereka masih bersenda gurau, berbalas canda seolah tak ada firasat apa-apa, sekarang tahu-tahu Kokom sudah memakai jasanya. Beberapa tahun terakhir, Mak Acih telah menyaksikan satu persatu kawan sebaya yang pergi mendahului. Entah kapan gilirannya tiba. Perempuan sepuh itu selalu berharap, ia pergi dengan cukup membawa bekal dan sudah memberikan Jariyah ilmu yang bermanfaat bagi orang sekitar. “Euis, tempat memandikannya sudah disiapkan?” tanya Mak Acih pada Euis yang tampaknya paling syok di antara saudaranya yang lain. “Sudah, Mak. Di teras samping rumah. Hayu Euis antar.” “Hayu.” Euis mempersilakan Mak Acih dan Neneng bangun terlebih dulu, sementara ia menyusul di belakang. Hal yang wajar, kalau Euis yang paling terpukul dengan kepergian Kokom. Karena semenjak sang suami yang juga merupakan ayah dari Euis meninggal, Kokom memutuskan tinggal di rumah Euis. Perempuan paruh baya itu juga sama-sama sudah ditinggal meninggal suami. Jadilah mereka saling mengurusi satu sama lain, dan bekerja serabutan apa saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski kekurangan, Kokom tak pernah bersikap kikir kepada siapa pun. Ia selalu berbagi dan ringan tangan dalam membantu sesama. Tak jarang, ia kerap mengajak tetangga untuk makan bersama di balai-balai rumahnya. Maka tak heran, kematiannya meninggalkan banyak kenangan indah bagi kerabat dan sahabat yang ditinggalkan. ... Euis dan rombongan pelayat baru saja pulang dari kompleks pemakaman desa menuju rumah masing-masing. Mak Acih yang sedari memandikan jenazah Kokom, belum kembali pulang ke rumah, bergegas menghampiri Euis saat perempuan beranak dua itu baru saja duduk di atas tikar. Digenggamnya jemari Euis dengan erat. Agak berat, Mak Acih memaksakan bibirnya berkata, “Euis ... hampura, nya. Kamari Emak ngomong kitu teh tibang heureuy. Teu nyangka si Kokom teh bakal euweuh beneran ayeuna. Sakali deui, hampura nya, Neng.” (Euis, maaf, ya. Kemarin Emak ngomong begitu itu cuma bercanda. Enggak menyangka kalau si Kokom, sekarang beneran akan meninggal. Sekali lagi, maaf, ya, Nak.) Euis tersenyum. “Heu-euh Mak, teu nananon. Da enggeus waktuna meureun. Sugan kamari Emak ngomong hayang dipandaian ku Mak Acih teh, keur ¹mamakasih.” (Iya, Mak. Tidak apa-apa. Mungkin memang sudah waktunya. Mungkin kemarin Emak ngomong mau dimandikan sama Mak Acih tuh, sedang *mamakasih.) Mak Acih menarik nafas lega. “Terima kasih, Neng. Emak dari tadi kepikiran terus. Takut kamu salahin Emak.” “Engga, atuh, Mak. Euis malah berterima kasih, Emak udah mau bantu mengurus jenazah Emaknya Euis.” Euis balas menggenggam erat jemari Mak Acih. “Alhamdulillah, Neng. Kokom meninggalnya bagus. Badannya bersih. Wajahnya berseri-seri, bibirnya senyum bahagia. Sepertinya Kokom udah tenang dan enggak berat ninggalin keluarga,” ujar Mak Acih, mengingat jenazah Kokom yang tampak sempurna dalam pengurusannya tadi pagi. “Alhamdulillah, Mak. Mak Kokom juga tenang sekali waktu meninggal. Sepertinya Emak memang sudah siap kalau sewaktu-waktu akan dipanggil Pangeran Nu Agung.” Euis mengusap matanya yang tiba-tiba terasa basah oleh air mata. “Yang sabar, ya, Neng. Semoga Kokom ditempatkan bersama barisan orang-orang beriman. Meninggalnya tidak menyusahkan orang. Insya Alloh Husnul Khotimah, Neng.” Mak Acih menepuk pelan bahu Euis yang mengangguk mengerti. ... Kematian, bagi sebagian insan kerap dianggap sebagai suatu perpisahan. Namun, bagi Mak Acih, kematian adalah berakhirnya masa peminjaman jasad yang telah diberikan Sang Pencipta. Kematian bahwasanya merupakan pertanda, bahwa telah tiba saatnya bagi Jiwa untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan, saat masih meminjam jasad sebagai perantara eksistensi mereka di muka bumi. Selesai. ... ¹Mamakasih, merupakan istilah, yang berarti firasat atau pertanda seseorang akan meninggal. Biasanya terasa antara 40 atau 100 hari sebelum si Fulan meninggal dunia.Beberapa hari terakhir, udara Desa Cijeruk terasa kurang nyaman di kulit. Dikarenakan, cuaca berawan menyebabkan radiasi panas matahari yang menyinari permukaan bumi, tertahan oleh awan saat akan terpantul kembali ke angkasa, sehingga membuat cuaca menjadi lembap. Biasanya sengatan panas itu akan menguap seiring turun hujan. Setelahnya, suasana sejuk akan kembali dapat dirasakan warga Desa Cijeruk.Siang itu, Mak Acih berjalan seorang diri. Melangkah menyusuri jalan setapak di pinggir areal persawahan desa yang menghampar luas. Ia baru saja pulang dari mengantar makan siang untuk Aki Amin. Sudah seminggu ini, sang suami bekerja menggarap sawah milik Haji Kosim, salah satu juragan beras di desanya.Sekalian lewat, sepulangnya dari sawah, Mak Acih berencana membeli sayur di warung milik Ipat, tetangga desa. Ketika sebuah suara tertangkap gendang telinga Mak Acih kala melewati rumah Kokom, seorang teman sebayanya.“Mak! Ih, malu itu dilihatin orang. Bajunya dipakai dulu kalau mau kelua
Mak Acih berpesan pada Neneng agar membuatkan kafan untuk Asih, sementara ia meminta ijin memakai kamar kosong untuk mengganti pakaiannya yang basah. Untung saja Mak Acih selalu membawa baju ganti saat sedang bekerja. Bekal tambahan kalau sewaktu-waktu dibutuhkan.Selesai berganti baju, Mak Acih kembali menemui Neneng yang masih menggunting-gunting kain kafan untuk Asih. Mak Acih bergegas membantu menggelar kain kafan di samping jenazah.Lembar demi lembar kain terpasang, sesudahnya kemudian dialasi lembaran kapas pada lapisan teratas. Mak Acih meletakkan jenazah Asih di atas lembaran kapas tadi. Plasentanya ikut dibungkus dengan kain kafan dan diletakkan di bagian bawah lutut, sementara tali pusat yang masih terhubung, dibungkus dengan kapas. Helai demi helai kafan kemudian ditutup dan diikat, dengan hanya menyisakan bagian wajah yang tetap dibiarkan terbuka.“Silakan yang mau lihat wajah Almarhumah buat yang terakhir, sebelum kafannya Emak tutup.” Mak Acih memandang berkeliling, la
Neneng dan Mak Acih memasuki rumah duka yang sudah dipenuhi para pelayat. Keluarga tampak berkumpul mengelilingi jenazah Imah, sementara isak tangis terdengar disela-sela suara orang yang riuh mengaji. Mak Acih menyalami Eti, ibunda Imah yang langsung menangis dalam pelukannya. “Sing sabar, Ti. Karunya ka Imah. Jangan ditangisi terus.” Mak Acih menepuk-nepuk bahu Eti untuk menguatkan hati perempuan paruh baya itu. (Yang sabar, Ti. Kasihan ke Imah.) Mak Acih kemudian bersalaman dengan beberapa orang kerabat Imah, termasuk Iksan, suami dari Almarhumah. Pria muda itu tampak muram. Matanya sembab dan memerah. Kesedihan masih tampak di raut wajahnya. Mang Sukri yang selamat dari kecelakaan dan hanya mengalami patah tulang pada bagian tangan kirinya, turut pula hadir di sana. Pria kurus itu berulang kali meminta maaf pada keluarga, yang sudah mengikhlaskan kepergian Imah. Sebuah suratan yang tak dapat ditolak. Ingin menuntut tanggung jawab materi pun percuma. Mang Sukri bukanlah oran
Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cijeruk. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka.Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cijeruk, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi yang terkadang membuat lupa. Menyilaukan mata dengan keindahannya yang membuai. Merelakan cita-cita yang semasa hidup belum sempat terlaksana. Dan pergi hanya menyisakan kenangan, entah memori indah atau buruk pada sanak kerabat yang walau berat, tetap harus rela si Fulanah tinggalkan.Adalah Imah. Seorang ibu muda berusia 25 tahun. Tujuh tahun berumah tangga, namun Sang Mahakuasa, belum kunjung menganugerahi buah hati yang lama diidamkan Imah dan sang suami. Tak putus asa, berbagai metode untuk kesuburan pun mereka coba. Dan ikhtiar itu membuahkan hasil. Imah akhirnya dinyatakan hamil.Manusia adalah makhluk tak berdaya kuasa, karena segala takdir merupakan milik Sang Raja Manusia. Di usia
“Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya sama semua, Bi?” tanya Neneng. Mak Acih mengangguk.“Bikin tali lima atau enam helai, yang satu buat cadangan saja. Lebar talinya kira-kira segini.” Mak Acih menunjukkan sejengkal jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk huruf V. Neneng lagi-lagi menurut. Ia memotong tali sesuai perintah Mak Acih.“Sekarang bikin kain untuk cawatnya, Neng,” ujar Mak Acih. Ia mengambil sehelai kain yang kemudian digunting berbentuk segitiga menyerupai popok bayi.Mak Acih mengambil sehelai kain lagi berukuran kira-kira 100x100 CM, yang kemudian dilipat menjadi bentuk segitiga. “Ini untuk kerudungnya,” terang Mak Acih.“Sekarang kita buat untuk sarungnya. Kamu ukur kira-kira ukuran dari pinggang ke ujung k
Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia menutup tas agar tidak ada orang yang melihat isi di dalamnya. Dengan langkah lebar, Neneng bergegas masuk kembali ke dalam bilik pemandian. Beruntung, para pelayat yang hadir, tidak ada yang menyadari apa yang sedang dilakukan perempuan berperawakan sedang itu.Tanpa menunggu ditanya, Neneng menyerahkan tas pandan berisi daun kelor pada sang bibi yang langsung membuka dan mengeluarkan isinya. Perempuan sepuh itu mengusap-usap daun kelor di tangan, sambil merapal beberapa bait doa.“Tun, Neng, tolong dibantu doa Al-Fatihah, biar dilancarkan segala urusan Lilis,” ujar Mak Acih pada dua perempuan di depannya yang langsung mengangguk meski tatapan mereka menyiratkan kebingungan.“Bismillahirroh