LOGINWarga Desa Cialas biasa memanggilnya Mang Ijum—pria lima puluh tahun, yang berprofesi sebagai pedagang sayur keliling di desa. Biasanya, Ijum berangkat menuju pasar untuk berbelanja sayur saat dini hari.Dia membawa dua keranjang yang terbuat dari bambu, dianyam berbentuk tabung lebar berdiameter lima puluh cm. Dia menggunakan bilah bambu untuk memikulnya, di depan dan belakang tubuhnya. Langkahnya ringan, melintasi jalan setapak di antara rimbun pohon rambutan dan kecapi. Semak belukar tampak basah oleh embun, melembapkan sandal karetnya yang sudah tipis.Ijum biasa ke pasar untuk membeli sayuran tertentu, yang tidak ditanam oleh para petani sayur di kaki gunung, untuk dijual kembali. Saat subuh, biasanya dia sudah sampai di pasar, lalu kembali ke desa dan mulai berkeliling—menjajakan dagangannya pada pukul 7 pagi. Kalau sampai siang dagangannya tak habis, dia menaruh sisa sayuran di warung Ipat, istrinya, yang akan melanjutkan penjualan, sed
Tiba-tiba MakAcihmerasakan deru angin kencang yang tadi membawanya, kembali menggulung tubuh.Membuatnya seperti tersedot dalam pusaran warna yang berputar kuat. MakAcihmemejamkan matanya. Dan saat ia kembali membuka netra, tahu-tahu ia sudah berada dalam bilik pemandian, di mana jenazah Endah terbujur, menunggu untuk dimandikan.Membuatnya seperti tersedot dalam pusaran warna yang berputar kuat. MakAcihmemejamkan matanya. Dan saat ia kembali membuka netra, tahu-tahu ia sudah berada dalam bilik pemandian, di mana jenazah Endah terbujur, menunggu untuk dimandikan.“Astaghfirullahhaladzim.”MakAcihberisti
Endah yang terkejut melihat pemandangan di depan matanya, langsung meminta ijin untuk pulang.Sepertinya, ia merasa, ada firasat buruk yang akan terjadi, kalau tetap berada di rumah itu.Si pemuda kembali membujuk Endah untuk tetap tinggal. Meski awalnya menolak, gadis remaja bertahi lalat di pipi itu pun akhirnya menurut untuk tetap berada di rumah itu.Firasat buruk langsung menyerbu benak MakAcih, ia pun buru-buru melangkah mendekati Endah.“Endah! Ayo pulang! Lari, Endah! Mereka mau berbuat jahat sama kamu!” MakAcihberteriak mengingatkan Endah sambil menepuk bahunya, tapi sebuah kesadaran membuatnya kembali m
Ucupdan Sanih langsung menghambur, memeluk dan menenangkan Sulis yang terus menangis. Beruntung, ia tak selemahSanah, yang beberapa kali jatuh pingsan kala mendengar berita kematian Entin. Hanya tangis Sulis yang tak terkontrol kala melihat jenazah sang putri dalam kondisi sangat menyedihkan.MakAcihdan Neneng beristigfar dalam hati melihat pemandangan memilukan di hadapan mereka. Perempuan sepuh itu menyentuh pelan jenazah Endah yang masih berada dalam kantung jenazah.“Assalamualaikum, Endah.Emakmau mandikan kamu. Tolong bantuEmak, ya,Geulis.” MakAcihmengucap salam deng
“Coba Endah enggakngebohonginsaya. Enggak akan jadi begini keadaannya. YaAlloh,Endaahh...!” Sulis tiba-tiba berteriak histeris sambil menangis sesenggukan, menyebutkan nama sang putri. Duka dan kekecewaan tampak jelas terlihat pada wajah perempuan 40 tahun itu. Dahinya berkerut menahan kesal dan kesedihan.Para pelayat langsung menghibur, mengajaknya beristigfar dan menasihati agar sang ibu bersabar menerima takdir, walau pahit dan menyakitkan.“KunaonEndahmaotnakudu awaskitu? Dosanaonurang teh, Mak?!”Sulis masih berteriak histeris. Ia mengguncang lengan MakAcihyang tak bisa berbuat banyak, selain mengajak Sulis untuk banyak-banyak beristigfar, memint
Azan Subuh baru saja berlalu. MakAcihbersiap hendak memasak air untuk anggota keluarga yang semalam menginap di rumahnya. Ia membuka pintu dapur, bermaksud menimba air dari sumur di belakang rumah. Ketika matanya melihat sosok mungil tengah berdiri di bawah pohon jambu, yang tumbuh di dekat kamar mandi.“Siapa itu, ya?” MakAcihbergumam, seraya mempertegas penglihatannya.“Endah?” tanya MakAcihtak yakin, saat ia melangkah menghampiri sosok gadis remaja, yang semalam sedang dicari oleh seluruh warga DesaCialas.Endah tidak menjawab. Ia menatap MakAcihtakut-takut. Di tangannya mendekap erat handuk putih, dan gayung kayu, yang berisi sabun, dan sam
DesaCialas, sebuah desa di kaki Gunung Salak. Memiliki pemandangan indah berupa perbukitan hijau, dengan air terjun yang mengalir deras, mengisi sungai-sungai di bawahnya.Hawa sejuk d
Pagi yang cerah di Desa Cialas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kesejukan dan aroma segar udara pegunungan. Aki Amin melangkah sendirian menuju sawah Haji Kosim yang terbentang luas dan bertanah subur. Berada tepat di bawah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar berusia tua. Ia dan beberapa te
Mak Acih berpesan pada Neneng agar membuatkan kafan untuk Asih, sementara ia meminta ijin memakai kamar kosong untuk mengganti pakaiannya yang basah. Untung saja Mak Acih selalu membawa baju ganti saat sedang bekerja. Bekal tambahan kalau sewaktu-waktu dibutuhkan. Selesai berganti baju, Mak Acih ke
Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya







