Lampu koridor rumah sakit berpijar konstan, memantulkan cahaya putih yang dingin di atas lantai porselen. Bagi Liandra, waktu sudah lama berhenti berputar sejak hari naas itu. Jam dinding, pergantian siang dan malam, hingga kalender yang terus berganti di meja administrasi hanyalah dekorasi tanpa makna. Fokusnya terkunci total pada tubuh ringkih yang terbaring di balik kaca ruang ICU.Elena, istrinya. Wanita yang separuh jiwanya seolah ikut terbawa pergi ke alam koma yang gelap dan tak berujung.Liandra duduk di kursi tunggu dengan kemeja yang kusut dan dagu yang mulai ditumbuhi jenggot tipis. Matanya merah, menatap kosong ke depan. Dia begitu tenggelam dalam duka dan penyangkalan, sampai-sampai dunianya yang lain terabaikan secara tragis.Langkah kaki yang lembut mendekat, namun Liandra tidak menoleh. Itu Elisara, ibu mertuanya. Dia memang kerap kali bolak balik ke ruangan Elena dan ruangan bayi. Elisara menatap sang menantu dengan pandangan campur aduk—antara iba, sedih, dan sedikit
Magbasa pa