Rendy mendengus jijik, bersungut-sungut seraya menjauhkan tubuhnya dari atas Elena. Dengan raut wajah mual dan penuh amarah yang tertahan, ia menyambar beberapa lembar tisu di atas nakas, menyeka kasar sisa muntahan Elena yang mengotori kemeja dan sebagian lehernya."Sialan!" umpat Rendy teredam. Ia menatap Elena yang masih terbaring lemas dengan napas terengah-engah, tampak begitu pucat di atas ranjang.Tepat saat Rendy hendak meluapkan kemarahannya yang tertunda, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh benda pipih itu, mendapati sebuah nama yang membuatnya langsung menegakkan tubuh. Wakil ketua The Poison Rose—geng kriminal papan atas yang selama ini menyokongnya.Tanpa memedulikan kondisinya yang kotor, Rendy menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinga. "Ya? Ada apa?""Rendy, ada misi darurat dari atasan. Malam ini juga kamu harus bergerak ke perbatasan. Target kali ini sangat besar, dan ketua menginginkanmu memimpin eksekusi," suara berat di seberang telepon terd
Read more