Suara raungan sirine ambulans yang membelah kemacetan sore hari terasa seperti palu yang menghantam dada Liandra bertubi-tubi. Di bawah langit yang perlahan menjingga, dunia Liandra justru terasa runtuh. Di dalam mobil yang melaju zigzag itu, Elena terkulai lemas dengan gaun yang kini berubah warna menjadi merah pekat karena bersimbah darah."Li... Liandra..." bisik Elena, suaranya nyaris hilang, terputus oleh napasnya yang pendek dan berat. Jemarinya yang dingin berusaha mencengkeram kemeja Liandra. "Bayi kita... tolong... selamatkan bayi kita...""Keadaanmu paling penting, Sayang, jangan banyak bicara dulu. Hemat tenagamu, aku mohon," bisik Liandra dengan suara bergetar hebat. Ia mendekap kepala Elena, mengecup kening istrinya yang mulai mendingin, sementara air matanya sendiri sudah mengalir deras. "Kamu akan baik-baik saja. Kalian berdua akan baik-baik saja. Bertahanlah demi aku, sayang.""Nggak, Li... aku merasakannya... dia... dia harus selamat," gumam Elena lagi, kesadarannya k
Magbasa pa