Aroma antiseptik yang selama berbulan-bulan selalu menghiasi penciuman Elena, akhirnya menguap digantikan embusan angin segar dari jendela mobil yang terbuka sedikit.Kesembuhan Elena melesat dengan sangat cepat, sebuah keajaiban medis yang diakui dokter, tetapi Elena tahu rahasia di baliknya. Semangatnya pulih bukan karena obat-obatan semata, melainkan karena tawa renyah anak-anaknya yang belakangan ini tak pernah absen menjenguk.Kini, kondisinya sudah benar-benar stabil. Secarik surat izin pulang sudah di tangan. Namun, alih-alih senyum lebar, ganjalan halus justru menyergap dada Elena saat ia melangkah keluar dari lobi rumah sakit.Ia mengedarkan pandangan ke kursi penumpang, lalu menoleh pada pria di balik kemudi. "Jadi, cuma kamu yang jemput, And?"Liandra yang sedang memasang sabuk pengaman menoleh, lalu tersenyum tipis sembari mengusap lembut puncak kepala istrinya. "Iya, Sayang. Aku ada di sini untuk membawamu pulang dengan selamat."Elena menyandarkan punggungnya ke jok kuli
Magbasa pa