Di sebuah kafe privat di pinggiran kota, Neona menyesap tehnya dengan amat tenang, menikmati keputusasaan yang terpancar murni dari raut wajah Mika.Mika duduk menunduk, jemarinya terus memilin ujung rok seragamnya. Tatapannya kosong, menatap uap teh hangat yang perlahan menghilang di udara. Bayangan Lisanders yang murka saat tahu ia kabur terus membayang-bayangi benaknya. Namun, di saat yang sama, ada sebentuk rasa lega yang ganjil. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Mika tidak merasakan sepasang mata tajam Lisanders yang mengunci gerak-geriknya."Mika," panggil Neona halus, memecah keheningan di antara mereka. "Kamu kelihatan panik banget. Napas kamu masih belum teratur.""A-aku gak apa-apa, Neona," sahut Mika pelan, suaranya parau. "Aku cuma... aku bingung. Aku harus pulang lewat mana nanti? Pengawal Abang San pasti udah nunggu di depan rumah."Neona tersenyum manis, mengusap punggung tangan Mika dengan kehangatan yang amat menipu. "Kamu gak usah pulang dulu kalau belum s
Magbasa pa