Tiga hari telah berlalu sejak Lisanders ditemukan, dan tiga hari itu pula Elena lenyap tanpa jejak. Liandra telah menyusuri titik lokasi terakhir dari pelacak yang Elena kenakan. Namun ia tak menemukan apapun atau siapapun, hanya hutan belantara yang luas yang meski sudah di sisir seolah tak ada habisnya.Sejak hilangnya Elena, waktu seolah membeku. Rumah megah yang biasanya dipenuhi tawa itu kini terasa asing, dingin, dan mencekam.Liandra duduk di tepi ranjang kamar utamanya, menatap kosong ke arah jendela yang menyuguhkan rona merah noda senja. Matanya cekung dengan lingkaran hitam yang begitu kentara. Dalam satu hari, ia hanya mampu memejamkan mata selama dua jam. Itu pun bukan tidur yang memulihkan, melainkan siksaan. Setiap kali kelopak matanya terpejam, mimpi buruk yang sama selalu datang menusuk: jeritan Elena yang meminta tolong di kegelapan, membuat napasnya terputus hingga ia terbangun dengan celentang, tubuh basah oleh keringat dingin, dan dada yang sesak bergeliat gelisah
Read more