Duduk memeluk kedua lututnya di atas kasur, Irene menoleh ke arah jendela. Cahaya fajar menyelinap di sela gorden satin yang terbuka, perlahan mengusir gelap yang semula menyelimuti ruangan. Semburat merah muda membentang di langit, menandai datangnya pagi.Isakan lolos dari bibirnya, memecah keheningan. Tenggorokannya kering; setiap napas terasa menggores. Matanya panas, namun tak ada lagi air mata yang jatuh.Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Dari kaca rias, sosoknya menatap balik: rambut kusut tak terurus, mata sembab kemerahan, dan bibir yang sedikit membengkak akibat terlalu lama digigit.Irene mengedus pelan, “Lihat dirimu, Irie… menyedihkan sekali.”Merangkak menuruni ranjang, ia berjalan lunglai ke arah meja rias.“Kenapa…?”Isakan kembali menyeruak. Suaranya parau. “Kenapa harus aku yang menanggungnya?”Ingatan itu menghantamnya—tatapan para bangsawan yang menyapu dirinya dari ujung kepala hingga kaki dengan jijik.Bisik-bisik di balik kipas—Isakan lain lolos. Dadanya se
Última atualização : 2026-04-21 Ler mais