LOGINTerduduk dalam balutan gaun hitam di ruang duduk Archellio, Irene menatap pantulan dirinya di permukaan teh yang mulai dingin dengan tatapan hampa.
Kicau burung dan kehangatan mentari pagi yang menembus jendela sama sekali tak mampu mencairkan dingin yang terlanjur mengendap di dadanya.
“Jadi?”
Suara bariton itu memecah keheningan, menariknya dari lamunan.
Irene mendongak, menatap pria berambut hitam yang duduk dengan santai di seberangnya—pandangannya sedikit terhalang oleh jaring tipis topi yang ia kenakan.
Adrian duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di dada dengan satu kaki bertumpu angkuh. Senyum tipis yang terlalu percaya diri terulas di bibirnya.
Rahang Irene mengeras. Jemarinya meremas rok gaunnya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah dan rasa tidak berdaya yang masih membakar tenggorokannya.
“Saya…” Irene menghela napas panjang, membiarkan harga dirinya jatuh ke lantai bersama sisa-sisa air mata semalam. “…bersedia membayar perlindungan Anda.”
Pria itu tidak langsung menjawab. Manik obsidiannya menatap lurus padanya, seringai di bibirnya perlahan melebar, seolah telah memprediksi setiap langkah di papan caturnya.
Adrian mencondongkan tubuh ke depan, mengulurkan tangannya untuk menyibak jaring topinya, menampilkan mata dan wajahnya yang sembab.
Sudut bibirnya terangkat, nyaris mengejek. “Apa karena itu kau menangis semalaman?”
Irene mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Sejenak, kata-kata itu terasa seperti tamparan—membuka kembali luka yang belum sempat menutup.
Ia segera membuang wajahnya ke samping, menepis sentuhan di pipinya dengan gerakan kaku. “Bukan urusan Anda.”
Alih-alih tersinggung, pria itu malah mendengus geli. Adrian menarik tangannya kembali, lalu berdiri dari kursinya.
“Berdirilah,” perintahnya sambil merapikan mantel. “Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.”
Irene mendongak.
Perawakan Adrian yang tinggi dan atletis seketika mendominasi ruangan. Garis rahangnya yang tegas serta parasnya yang terlampau tampan menciptakan kontras yang membingungkan. Ia tidak tahu kenapa Tuhan bersusah payah menganugerahinya wajah seperti itu pada seorang iblis.
“Ke mana?” balasnya akhirnya, suaranya nyaris bergetar.
“Kau akan tahu setelah kau berdiri.”
Adrian melangkah mendekat, mengulurkan tangannya.
Irene menatap telapak tangan besar itu beberapa saat. Entah kenapa itu terasa seperti menyambut rantai yang akan mengikatnya selamanya. Dadanya terbakar—campuran amarah, malu, dan kebencian yang begitu pekat hingga sulit bernapas.
Membuang napasnya panjang, Irene menyambut tangan tersebut dengan enggan.
Berjalan menyusuri lorong, langkah mereka menggema, memantul di antara dinding marmer yang dingin.
Di depan pintu utama, Edgar sudah berdiri menunggu. Wajah ayahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol, dan kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh hingga bergetar.
Adrian berhenti tepat di hadapannya. Ia menyeringai tipis, tampak menikmati kemarahan ayahnya.
“Aku akan membawanya,” ujarnya ringan. Kalimat itu jelas-jelas bukan sebuah permintaan izin.
Hening.
Edgar tidak menjawab dan hanya menatap Adrian nyalang. Kebencian dan ketidakberdayaan tergambar jelas di wajahnya. Rahangnya mengeras begitu keras hingga terdengar gemeretak pelan.
“Ayah…” Irene memecah kesunyian, menarik perhatian Edgar padanya. “Saya akan segera kembali.”
Manik biru itu melembut, menatapnya lama penuh sendu. Kilat rasa perih nan bersalah terpancar nyata di matanya.
Setelah kesunyian yang mencekik itu, akhirnya ia bergeser ke samping dengan berat hati.
Adrian menarik Irene melewati ayahnya tanpa kata lagi. Irene menoleh di balik bahunya, memandang ayahnya yang terlahan menjauh.
Ketidakberdayaannya bukan tanpa alasan. Ratu Elissa memberinya kebebasan bersyarat setelah kejadian semalam yang, jika ia melanggar, akan berkonsekuensi berat.
Sesampainya di gerbang, sebuah kereta hitam legam telah menunggu. Lambang serigala perak yang menggeram terukir di sisinya.
Adrian membantu Irene naik, lalu menyusul di belakangnya. Begitu pintu kereta tertutup, keheningan yang memekakan segera menyelimuti mereka. Hanya derap tapal kuda yang terdengar, mengiringi laju kereta meninggalkan kediaman Archellio.
Adrian bersandar santai; satu kakinya menyilang. Manik hitam itu meniliknya beberapa saat sebelum mengalihkan perhatiannya pada jendela.
Irene duduk tegang, jemarinya saling meremas di pangkuan. Ia menoleh keluar jendela, berusaha mengabaikan kehadiran pria yang duduk di depannya.
Irene tidak bertanya ke mana ia akan dibawa; ia tidak merasa perlu.
Ke mana pun tujuannya, ia akan tetap ikut. Karena untuk saat ini…
Irene menghembuskan napasnya perlahan.
…Adrian adalah satu-satunya cara untuk keluar dari jurang kehancuran.
Hening membelenggu.
Tak ada seorang pun yang bicara; masing-masing berkutat dengan pikirannya masing-masing.
Hingga, pemandangan di luar jendela perlahan berubah. Keramaian ibu kota memudar, digantikan oleh deretan pohon rindang nan lebat; kicauan burung terdengar samar di kejauhan.
Jantung Irene bertalu semakin kencang. Manik safirnya bergerak gelisah, mencari tanda kehidupan di luar sana—rumah, orang, siapa pun. Tapi semakin jauh mereka melaju, semakin sepi. Tak ada lagi pejalan kaki. Tak ada kereta lain. Hanya hutan dan jalan setapak yang semakin menanjak.
Tangannya terasa basah dingin. Keberanian besar itu perlahan menciut.
Kepala Irene menyentak ke arah Adrian. “Ke mana—”
Kikikan kuda memotongnya. Kereta telah berhenti.
“Yang Mulia, kita sudah sampai,” ujar seseorang dari luar.
Tanpa bicara, Adrian turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan kepada Irene.
Menuruni tangga, Irene melangkah keluar dan semilir angin dingin membelai kulit terbukanya. Aroma pohon pinus dan bunga liar yang manis memenuhi penciumannya—
dan mematung.
Langit musim semi membentang luas dalam nuansa biru lembut tanpa awan. Cahaya mentari pagi yang hangat menyinari ibu kota, sementara dentang lonceng menggema panjang ke seluruh penjuru Lexith.Di dalam katedral, para tamu telah memenuhi deretan kursi jemaat dalam balutan sutra dan mantel mewah. Kilauan kaca patri yang berpadu dengan lampu kristal menaburkan semburat warna-warni ke seluruh aula.Pepohonan hijau yang ditata rapi di setiap sudut, dipadukan dengan rangkaian bunga yang melilit tiang-tiang marmer raksasa, mengubah aula megah itu menjadi taman hidup.Satu bulan telah berlalu sejak Irene menginjakkan kaki di kediaman Dietrich.Dan hari ini, pernikahan mereka akhirnya digelar.Berdiri kaku di balik pintu ganda raksasa, Irene menatap buket bunga putih di genggamannya tanpa ekspresi. Jemarinya mengerat pelan pada tangkai bunga hingga sarung tangan satinnya berkerut.Pernikahan yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan kini terasa hampa dan dingin. Rasa pahit di lidahny
Irene menatap Adrian dalam diam. Bibirnya terkatup rapat.Baru sekarang ia memahami betapa jauhnya perbedaan dunia mereka.Jika baginya balas dendam adalah tujuan akhirnya, maka di mata pria di hadapannya, balas dendam antarbangsawan hanyalah sekadar permainan anak kecil.“Apa itu alasan Anda menjadikan saya seorang Duchess?” tanya Irene, suaranya bergetar.Adrian mendengus geli. “Kenapa? Apa kau merasa ditipu?”Irene bungkam. Lidahnya kelu.“Mari kita ubah perspektif.” Adrian menegakkan punggungnya dan menyesap cerutunya pelan. “Sebagai Duchess Dietrich, kau bisa menghadiri pesta mana pun yang dihadiri Fernando demi balas dendammu, bukan?”Asap tembakau melayang di antara mereka.“Dan aku membutuhkanmu untuk menghadiri pesta-pesta itu demi informasi tentang opium.” Adrian memiringkan kepalanya. Seringai tipis terbit di bibirnya. “Tidakkah tujuan kita sejalan?”Jemarinya mencengkeram rok gaunnya begitu erat hingga kukunya nyaris menembus kain.Dan untuk pertama kalinya, Irene menyadar
Pintu gerbang besi berlambang serigala perak yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memberi jalan bagi kereta hitam legam untuk bergerak maju.Hamparan taman luas dengan bunga warna-warni mengapit jalan batu granit yang tersusun mulus. Air mancur marmer berdiri megah di tengah halaman, memantulkan cahaya keemasan matahari sore.Pandangan Irene jatuh pada pria jangkung yang berdiri tepat di depan mansion Dietrich.Adrian.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana yang membalut tubuh kekarnya dengan sempurna. Celana hitam dan sepatu kulit gelap begitu kontras dengan kulit pucatnya.Satu tangannya tersimpan santai di saku celana, sementara yang lainnya memegang sebatang cerutu. Asap tipis mengepul di udara saat Adrian menyesapnya perlahan.Kereta melambat dan berhenti tepat di hadapan pria itu.Irene menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan debar jantungnya yang bergemuruh di dada. Jemarinya yang dingin membuka dan menutup gelisah di atas pangkuann
Irene segera menundukkan kepalanya dalam. Air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Lengannya memeluk tubuhnya erat hingga kuku-kuku menancap ke kulit.Ia merasa jijik dan malu pada dirinya sendiri.Aku… kotor…Dentuman keras menyentak Irene mendongak.Ayahnya telah berdiri dari kursi. Kedua tangan Edgar menghantam meja kerja dengan keras hingga tempat tinta berdenting nyaring.“Binatang sialan!”Wajah pria itu memerah padam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.“A-Ayah?” Irene bangkit dengan ragu.Selama dua puluh tahun hidupnya, ia belum pernah melihat sang ayah begitu marah.“Dia menyentuhmu?” desis Edgar pelan.Irene menggigit bibir bawahnya. Isakan lolos dari tenggorokannya saat ia mengangguk lemah.Ayahnya menyapu wajahnya kasar dengan satu tangan sebelum mengembuskan napas berat. “…kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat?”“A-Aku…” Bibir Irene bergetar hebat. “Aku takut…”“Shh,” Edgar membelah jarak di antara mereka dan merengkuh tubuhnya.“Tidak ap
Cahaya pucat yang mengalir dari jendela tinggi perlahan mengusir sisa-sisa kegelapan di kamar Irene.Terduduk di belakang meja, manik safir Irene terpaku pada surat kabar yang tergelar di hadapannya, sementara jemarinya memijat pelipis yang berdenyut tanpa henti.Helaan napas panjang lolos dari bibirnya. Dasar, pria gila! Matahari bahkan belum sepenuhnya merangkak ke langit, namun kepalanya sudah terasa nyeri sejak pagi buta.Tajuk besar di halaman depan surat kabar itu seolah sengaja mengejek sisa kewarasannya.[ DUKE DIETRICH RESMI DAFTARKAN PERNIKAHAN! ]Di bawah untaian huruf hitam tersebut, deretan kalimat tercetak begitu rinci hingga terasa menusuk matanya.[…sang petualang cinta akhirnya berlabuh…][…pada wanita yang gemar menolak lamaran…][…rumornya, pernikahan akan diselenggarakan bulan depan…]“Bulan depan…” gunam Irene lirih.Membuang napas panjang untuk yang kesekian kalinya, Irene menggosok wajahnya dengan frustrasi.Jujur saja, setelah semua yang terjadi, ia tidak tahu
Manik obsidian itu tampak berbinar samar; seringai tipis terulas di bibirnya, memahami maksud liciknya.Perlahan, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Para bangsawan yang tadi begitu gemar bergosip kini tampak menegang pucat.“Hmm…” gumam Adrian pelan.Pria itu memiringkan kepala sedikit, seolah benar-benar sedang mempertimbangkan jawabannya dengan serius.Keheningan mencekik menyergap ruangan.Tidak ada satu pun wanita bangsawan yang berani bersuara sekarang. Bahkan Selena pun hanya bisa diam, memperhatikan Adrian dengan sorot mata yang sulit dibaca.Adrian menoleh pada Irene. Senyuman merekah di bibirnya. “Bagaimana jika kita mengumumkannya hari ini?”Irene bungkam. Bibirnya terkatup rapat.Untuk sesaat, Irene ingin sekali memukul kepala Adrian.Pria gila.Mengabaikan ucapan Adrian sepenuhnya demi menyelamatkan sisa kewarasannya, Irene segera menoleh pada Viscountess Elner.“Nyonya,” ujarnya tenang meski ujung bibirnya terasa berkedut menahan kesal, “saya dan Yang Mulia pamit lebih
“Kau benar,” jawab Irene akhirnya lirih. “Reputasiku memang sudah hancur.”Ia melangkah mendekat. Suara hak sepatunya menggema pelan di lantai marmer.“Tapi setidaknya…” Irene menatap lurus Lyla yang terduduk berantakan di lantai. “Aku masih memiliki harga diri.”Manik safirnya menyipit. “Aku tidak
Irene menatap Adrian tanpa berkedip, suaranya bergetar. “Aku ingin menghancurkannya dengan tanganku sendiri,”Ketertarikan berpendar pada manik hitam pria itu, sudut bibirnya terangkat. Ia meletakkan dokumen di tangannya ke meja dan menyandarkan punggungnya ke sofa. Jemarinya bertautan di atas kaki
Irene mematung. Matanya menyapu hamparan padang bunga putih keunguan bergoyang pelan di bawah hangatnya mentari pagi. Pohon-pohon pinus yang rindang mengelilingi padang itu dalam pelukan asri.Udara segar yang memenuhi paru-parunya sedikit mengusir pening di kepalanya.Adrian yang melangkah maju mem
Duduk memeluk kedua lututnya di atas kasur, Irene menoleh ke arah jendela. Cahaya fajar menyelinap di sela gorden satin yang terbuka, perlahan mengusir gelap yang semula menyelimuti ruangan. Semburat merah muda membentang di langit, menandai datangnya pagi.Isakan lolos dari bibirnya, memecah kehen






