Compartilhar

Chapter 5

Autor: rynviere
last update Data de publicação: 2026-04-21 15:14:38

Terduduk dalam balutan gaun hitam di ruang duduk Archellio, Irene menatap pantulan dirinya di permukaan teh yang mulai dingin dengan tatapan hampa.

Kicau burung dan kehangatan mentari pagi yang menembus jendela sama sekali tak mampu mencairkan dingin yang terlanjur mengendap di dadanya.

“Jadi?”

Suara bariton itu memecah keheningan, menariknya dari lamunan.

Irene mendongak, menatap pria berambut hitam yang duduk dengan santai di seberangnya—pandangannya sedikit terhalang oleh jaring tipis topi yang ia kenakan.

Adrian duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di dada dengan satu kaki bertumpu angkuh. Senyum tipis yang terlalu percaya diri terulas di bibirnya.

Rahang Irene mengeras. Jemarinya meremas rok gaunnya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah dan rasa tidak berdaya yang masih membakar tenggorokannya.

“Saya…” Irene menghela napas panjang, membiarkan harga dirinya jatuh ke lantai bersama sisa-sisa air mata semalam. “…bersedia membayar perlindungan Anda.”

Pria itu tidak langsung menjawab. Manik obsidiannya menatap lurus padanya, seringai di bibirnya perlahan melebar, seolah telah memprediksi setiap langkah di papan caturnya.

Adrian mencondongkan tubuh ke depan, mengulurkan tangannya untuk menyibak jaring topinya, menampilkan mata dan wajahnya yang sembab.

Sudut bibirnya terangkat, nyaris mengejek. “Apa karena itu kau menangis semalaman?”

Irene mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Sejenak, kata-kata itu terasa seperti tamparan—membuka kembali luka yang belum sempat menutup.

Ia segera membuang wajahnya ke samping, menepis sentuhan di pipinya dengan gerakan kaku. “Bukan urusan Anda.”

Alih-alih tersinggung, pria itu malah mendengus geli. Adrian menarik tangannya kembali, lalu berdiri dari kursinya. 

“Berdirilah,” perintahnya sambil merapikan mantel. “Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.”

Irene mendongak.

Perawakan Adrian yang tinggi dan atletis seketika mendominasi ruangan. Garis rahangnya yang tegas serta parasnya yang terlampau tampan menciptakan kontras yang membingungkan. Ia tidak tahu kenapa Tuhan bersusah payah menganugerahinya wajah seperti itu pada seorang iblis.

“Ke mana?” balasnya akhirnya, suaranya nyaris bergetar.

“Kau akan tahu setelah kau berdiri.”

Adrian melangkah mendekat, mengulurkan tangannya.

Irene menatap telapak tangan besar itu beberapa saat. Entah kenapa itu terasa seperti menyambut rantai yang akan mengikatnya selamanya. Dadanya terbakar—campuran amarah, malu, dan kebencian yang begitu pekat hingga sulit bernapas.

Membuang napasnya panjang, Irene menyambut tangan tersebut dengan enggan.

Berjalan menyusuri lorong, langkah mereka menggema, memantul di antara dinding marmer yang dingin.

Di depan pintu utama, Edgar sudah berdiri menunggu. Wajah ayahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol, dan kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh hingga bergetar.

Adrian berhenti tepat di hadapannya. Ia menyeringai tipis, tampak menikmati kemarahan ayahnya.

“Aku akan membawanya,” ujarnya ringan. Kalimat itu jelas-jelas bukan sebuah permintaan izin.

Hening.

Edgar tidak menjawab dan hanya menatap Adrian nyalang. Kebencian dan ketidakberdayaan tergambar jelas di wajahnya. Rahangnya mengeras begitu keras hingga terdengar gemeretak pelan.

“Ayah…” Irene memecah kesunyian, menarik perhatian Edgar padanya. “Saya akan segera kembali.”

Manik biru itu melembut, menatapnya lama penuh sendu. Kilat rasa perih nan bersalah terpancar nyata di matanya.

Setelah kesunyian yang mencekik itu, akhirnya ia bergeser ke samping dengan berat hati.

Adrian menarik Irene melewati ayahnya tanpa kata lagi. Irene menoleh di balik bahunya, memandang ayahnya yang terlahan menjauh.

Ketidakberdayaannya bukan tanpa alasan. Ratu Elissa memberinya kebebasan bersyarat setelah kejadian semalam yang, jika ia melanggar, akan berkonsekuensi berat.

Sesampainya di gerbang, sebuah kereta hitam legam telah menunggu. Lambang serigala perak yang menggeram terukir di sisinya.

Adrian membantu Irene naik, lalu menyusul di belakangnya. Begitu pintu kereta tertutup, keheningan yang memekakan segera menyelimuti mereka. Hanya derap tapal kuda yang terdengar, mengiringi laju kereta meninggalkan kediaman Archellio.

Adrian bersandar santai; satu kakinya menyilang. Manik hitam itu meniliknya beberapa saat sebelum mengalihkan perhatiannya pada jendela.

Irene duduk tegang, jemarinya saling meremas di pangkuan. Ia menoleh keluar jendela, berusaha mengabaikan kehadiran pria yang duduk di depannya.

Irene tidak bertanya ke mana ia akan dibawa; ia tidak merasa perlu.

Ke mana pun tujuannya, ia akan tetap ikut. Karena untuk saat ini…

Irene menghembuskan napasnya perlahan.

…Adrian adalah satu-satunya cara untuk keluar dari jurang kehancuran.

Hening membelenggu.

Tak ada seorang pun yang bicara; masing-masing berkutat dengan pikirannya masing-masing.

Hingga, pemandangan di luar jendela perlahan berubah. Keramaian ibu kota memudar, digantikan oleh deretan pohon rindang nan lebat; kicauan burung terdengar samar di kejauhan.

Jantung Irene bertalu semakin kencang. Manik safirnya bergerak gelisah, mencari tanda kehidupan di luar sana—rumah, orang, siapa pun. Tapi semakin jauh mereka melaju, semakin sepi. Tak ada lagi pejalan kaki. Tak ada kereta lain. Hanya hutan dan jalan setapak yang semakin menanjak.

Tangannya terasa basah dingin. Keberanian besar itu perlahan menciut.

Kepala Irene menyentak ke arah Adrian. “Ke mana—”

Kikikan kuda memotongnya. Kereta telah berhenti.

“Yang Mulia, kita sudah sampai,” ujar seseorang dari luar.

Tanpa bicara, Adrian turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan kepada Irene.

Menuruni tangga, Irene melangkah keluar dan semilir angin dingin membelai kulit terbukanya. Aroma pohon pinus dan bunga liar yang manis memenuhi penciumannya—

dan mematung.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 7

    Irene mengerjapkan matanya perlahan, terbangun di tengah dunia yang temaram. Wangi bunga kamomil yang bercampur dengan aroma kayu aras memenuhi hidungnya. Kertakan kayu dan senandung jangkrik di kejauhan menandakan tibanya malam, memecah keheningan.Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring diam.Perutnya terasa melilit pelan—lapar. Jika diingat dengan benar, terakhir kali ia makan adalah di pesta itu.Pesta terkutuk itu…Manik safirnya bergerak menuju lukisan padang bunga yang tergantung di atas ranjang, diterpa cahaya jingga perapian yang menari di dinding.Irene mengernyit; ia tidak ingat memiliki lukisan seperti itu di kamarnya. Namun hamparan bunga itu terasa familiar…Tebing.Padang bunga.Adrian yang terlelap…Napas Irene tersendat; matanya melotot.Adrian?!Ia tersentak bangun.Selimut yang membungkus tubuhnya meluncur jatuh, memperlihatkan kain tipis berwarna lilac yang membalut kulitnya.Tubuh Irene menegang. Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging. Tanga

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 6

    Irene mematung. Matanya menyapu hamparan padang bunga putih keunguan bergoyang pelan di bawah hangatnya mentari pagi. Pohon-pohon pinus yang rindang mengelilingi padang itu dalam pelukan asri.Udara segar yang memenuhi paru-parunya sedikit mengusir pening di kepalanya.Adrian yang melangkah maju membuatnya tersadar dari lamunan, dan Irene segera mengikuti langkah pria tersebut dalam diam. “Untuk apa Anda membawa saya ke sini?” tanya Irene, suaranya teredam oleh gemerisik dedaunan.Adrian menjawab tanpa menoleh. “Kau terlihat seperti orang yang akan bunuh diri.”Irene mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jemarinya mengerat di tangan Adrian tanpa ia sadari. Kata-katanya bak sebuah tamparan di pipi.Apa aku begitu transparan di hadapannya? Ia menggigit bibir wajahnya; rasa malu dan terhina bercampur menjadi satu.“Lihatlah.”Pria itu melepaskan pegangannya, lalu melangkah menuju pagar kayu pembatas di ujung tebing. Irene menyusul dan berdiri di sampingnya.Di hadapan mereka, hamparan duni

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 5

    Terduduk dalam balutan gaun hitam di ruang duduk Archellio, Irene menatap pantulan dirinya di permukaan teh yang mulai dingin dengan tatapan hampa.Kicau burung dan kehangatan mentari pagi yang menembus jendela sama sekali tak mampu mencairkan dingin yang terlanjur mengendap di dadanya.“Jadi?”Suara bariton itu memecah keheningan, menariknya dari lamunan.Irene mendongak, menatap pria berambut hitam yang duduk dengan santai di seberangnya—pandangannya sedikit terhalang oleh jaring tipis topi yang ia kenakan.Adrian duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di dada dengan satu kaki bertumpu angkuh. Senyum tipis yang terlalu percaya diri terulas di bibirnya.Rahang Irene mengeras. Jemarinya meremas rok gaunnya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah dan rasa tidak berdaya yang masih membakar tenggorokannya.“Saya…” Irene menghela napas panjang, membiarkan harga dirinya jatuh ke lantai bersama sisa-sisa air mata semalam. “…bersedia membayar perlindungan Anda

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 4

    Duduk memeluk kedua lututnya di atas kasur, Irene menoleh ke arah jendela. Cahaya fajar menyelinap di sela gorden satin yang terbuka, perlahan mengusir gelap yang semula menyelimuti ruangan. Semburat merah muda membentang di langit, menandai datangnya pagi.Isakan lolos dari bibirnya, memecah keheningan. Tenggorokannya kering; setiap napas terasa menggores. Matanya panas, namun tak ada lagi air mata yang jatuh.Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Dari kaca rias, sosoknya menatap balik: rambut kusut tak terurus, mata sembab kemerahan, dan bibir yang sedikit membengkak akibat terlalu lama digigit.Irene mengedus pelan, “Lihat dirimu, Irie… menyedihkan sekali.”Merangkak menuruni ranjang, ia berjalan lunglai ke arah meja rias.“Kenapa…?”Isakan kembali menyeruak. Suaranya parau. “Kenapa harus aku yang menanggungnya?”Ingatan itu menghantamnya—tatapan para bangsawan yang menyapu dirinya dari ujung kepala hingga kaki dengan jijik.Bisik-bisik di balik kipas—Isakan lain lolos. Dadanya se

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 3

    “Ayah! Jangan!” Irene menjerit, ia menerjang maju dan memeluk lengan Edgar sekuat tenaga saat tangan itu kembali terangkat. “Ayah salah paham!”“Irene!”Suara pekikan di ambang pintu menarik perhatian Irene.Ibu dan kakak laki-lakinya berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Begitu pandangan mereka bertemu, langkah sang ibu terhenti. Matanya membelalak melihat penampilan Irene—tangannya mencengkeram dada, napasnya tersendat, dan tubuhnya limbung.“Ibu!” teriak Irene dan kakaknya serempak.Kakaknya menangkap tubuh ibunya dengan sigap sebelum ia terjatuh ke lantai.Jantung Irene mencelos. Matanya membulat. “Ibu!”“Kau bajingan!” raung Edgar, wajahnya memerah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol.Tangannya yang lain menyambar kerah Adrian, menyentaknya dengan kasar hingga mereka beradu pandang.Adrian tidak melawan. Ia hanya menatap pria di hadapannya tanpa ekspresi.Edgar mencoba melepaskan tangannya dari pelukan Irene, tapi Irene mengeratkan cengkeramannya sekuat tenaga.“Ayah! He

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 2

    “Duke Dietrich?” panggil Fernando serak, napasnya memburu.Tubuh Irene menegang.“Ini bukan urusan Anda… tolong jangan ikut campur.”Irene menggeleng cepat dan mencengkeram lengan Adrian. Air mata menyeruak, mengaburkan pandangan dan menuruni pipinya. Isakannya lolos. “Tolong saya…”Adrian menegakkan tubuh Irene, lalu melangkah menghampiri Fernando.“Yang Mu—”Sebuah pukulan mendarat telak di wajahnya. Begitu keras hingga Irene terperanjat kaget.Fernando tersungkur ke lantai. Ia memegangi rahangnya, mata membulat. Semburat merah merekah di pipinya; darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya yang koyak.“Apa—”Belum sempat ia bangkit, Adrian sudah menarik kerahnya dan kembali melayangkan tinju.“Ugh! Duke—”Tapi Adrian tak berhenti. Pukulan demi pukulan menghujani Fernando. Irene hanya bisa memeluk tubuhnya yang gemetar saat darah berceceran di lantai, mengotori pakaian dan sarung tangan putih milik Adrian.“Apa yang terjadi?!”Semua kepala menoleh ke arah pintu. Para bangsawan tel

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status