FAZER LOGINIrene mematung. Matanya menyapu hamparan padang bunga putih keunguan bergoyang pelan di bawah hangatnya mentari pagi. Pohon-pohon pinus yang rindang mengelilingi padang itu dalam pelukan asri.
Udara segar yang memenuhi paru-parunya sedikit mengusir pening di kepalanya.
Adrian yang melangkah maju membuatnya tersadar dari lamunan, dan Irene segera mengikuti langkah pria tersebut dalam diam.
“Untuk apa Anda membawa saya ke sini?” tanya Irene, suaranya teredam oleh gemerisik dedaunan.
Adrian menjawab tanpa menoleh. “Kau terlihat seperti orang yang akan bunuh diri.”
Irene mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jemarinya mengerat di tangan Adrian tanpa ia sadari. Kata-katanya bak sebuah tamparan di pipi.
Apa aku begitu transparan di hadapannya?
Ia menggigit bibir wajahnya; rasa malu dan terhina bercampur menjadi satu.
“Lihatlah.”
Pria itu melepaskan pegangannya, lalu melangkah menuju pagar kayu pembatas di ujung tebing. Irene menyusul dan berdiri di sampingnya.
Di hadapan mereka, hamparan dunia terbentang luas tanpa batas. Ibu kota dan kastel yang begitu besar nan megah kini terlihat kecil layaknya miniatur mainan. Di kejauhan, pegunungan yang menjulang tinggi diselimuti kabut tipis.
“Dunia begitu luas,” bisik Adrian, suaranya melembut, jauh dari kesan angkuh yang biasa ia tunjukkan. Ia menatap lurus ke cakrawala. “Tidakkah kau merasa masalahmu begitu kecil jika dilihat dari sini?”
Irene terdiam. Dadanya bergemuruh hebat.
Angin dingin kembali menerpa, mengibarkan gaun dan helai rambutnya. Irene memejamkan matanya sejenak, membiarkan sensasi kebebasan yang langka ini menyusup ke dalam jiwanya.
Meski benci harus mengakui, untuk sesaat, pria di sampingnya ini telah memberikannya perspektif yang tidak pernah ia miliki.
“Ulurkan tanganmu.”
Irene membuka kelopak matanya perlahan dan menoleh. Adrian menyodorkan sebuah kantung serut kecil yang dengan ragu-ragu ia terima. Jemarinya menarik tali pengikat, menampilkan gundukan bola-bola gula berwarna-warni yang mengilap.
Alis Irene berkerut. “Permen?”
“Ini tidak beracun,” ujar Adrian datar. Pria itu mengambil sebuah dan memakannya.
Irene menilik Adrian dalam diam sebelum berpindah kembali pada bola-bola gula. Begitu ironis.
Seorang Duke yang arogan, dingin, dan penuh perhitungan tiba-tiba memberinya manisan untuk menghiburnya.
“Tempat ini adalah favoritku, jadi jangan coba-coba melompat.” Adrian mendeliknya tajam sebelum berbalik melangkah menuju bawah pohon rindang di dekat tebing.
Sudut bibir Irene berkedut. Ia segera berbalik, menatap punggung tegap pria itu dengan wajah penuh ketidaksetujuan. “Saya tidak selemah itu.”
Dan ia tidak akan mati sebelum membalaskan dendamnya.
Adrian berhenti dan menoleh dari balik bahunya. Seringai mencemooh terbit di bibirnya. “Mari kita buktikan setelah kau menikah denganku.”
Dengan begitu, ia melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Irene menatap punggungnya untuk beberapa saat sebelum kembali menghadap ibu kota. Ia mengambil satu permen berwarna merah oranye dan memasukkannya ke dalam mulut.
Rasa kecut dan manis meledak di lidahnya. Irene hanya mampu tersenyum getir. Tidakkah rasanya seperti kehidupanku?
Tetapi… permen itu perlahan menghapus rasa pahit yang memenuhi mulutnya, menjernihkan kembali kepalanya yang sejak semalam dipenuhi keputusasaan.
…
Entah telah berapa lama Irene berdiri di sana, namun matahari yang merangkak ke atas mulai menyengat kulitnya. Ia melirik ke samping. Adrian tengah terduduk bersidekap di bawah pohon, memejamkan mata.
Irene membawa langkahnya ke hadapan pria itu… yang ternyata terlelap. Surai hitam yang membingkai rahang tegasnya menari bersama semilir angin.
Dahinya berkerut dalam. Rasa bingung itu hinggap, membelenggunya.
Irene mengalihkan pandangan dari wajah Adrian ke arah kantung serut di tangannya. Masih ada beberapa bola gula yang tersisa.
Kenapa kau peduli padaku? Bukankan aku hanya maninan bagimu?
Menghela napas panjang, Irene mendudukkan dirinya di samping Adrian. Jarak di antara mereka cukup dekat hingga aroma pinus dan parfum pria itu menguar, bercampur dengan udara dingin tebing.
Manik safir itu menatap hamparan bunga ungu yang bergoyang lembut di antara alunan angin. Aku tidak mengerti cara berpikirnya.
Irene memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara segar memenuhi paru-parunya. Suara burung dan gemerisik daun berpadu menjadi melodi alam, mengusir sisa-sisa kepenatan di kepalanya.
Hingga, kesadarannya tenggelam dalam ketenangan tersebut.
.
.
.
Saat sesuatu yang berat jatuh di pundaknya, Adrian membuka matanya perlahan dan menoleh. Irene kini bersandar padanya, deru napas yang beraturan menandakan keterlelapannya. Parfum manis milik wanita itu menggelitik hidungnya.
Adrian terdiam sejenak. Pikiran berkecamuk antara membangunkannya atau membiarkannya. Namun, wajah Irene yang terlihat begitu tenang membuatnya memilih pilihan terakhir. Di bawah sinar mentari pagi, kelopak matanya yang bengkak dan wajahnya yang membab terlihat begitu jelas.
Adrian mengambil sejumput rambut Irene, lalu memilin ujungnya di telunjuknya.
Begitu menyedihkan…
Ada sedikit rasa iba menyelinap di hatinya, tetapi ia sudah benar-benar muak dengan tipu muslihat para wanita bangsawan. Irene mungkin mengutuk dan membencinya atas pilihan yang ia tawarkan, tetapi itu lebih baik daripada harus berurusan dengan mereka yang diam-diam mencoba mencampur minumannya dengan perangsang.
Bagaimana pun, Irene yang membencinya adalah pilihan yang sempurna. Ia hanya menginginkan kesepakatan tanpa cinta—karena ia tidak membutuhkan hal semacam itu.
Adrian menggeser posisinya sedikit agar Irene dapat bersandar dengan lebih nyaman sebelum kembali bersidekap dan memejamkan matanya.
…
“…Mulia…”
Adrian kembali membuka matanya. Pandangannya yang mengabur perlahan menajam. Semburat kemuning yang hangat menggantikan rona di sekitarnya. Rasa kantuk masih bergelayut.
“Yang Mulia, sudah sore.”
Suara lirih itu menyapa indra pendengarannya. Adrian menoleh perlahan. Seorang pelayan berdiri tidak jauh dari hadapannya, menunduk hormat.
Mengabaikan pria itu, ia menengok ke samping. Irene masih terlelap di bahunya.
“Nona Irene,” bisiknya. Namun, wanita itu tidak kunjung bangun meski sudah dipanggil berkali-kali.
Adrian menghela napas panjang, lalu menyusupkan lengannya di bawah leher dan lutut Irene dengan hati-hati, mengangkat tubuh gadis itu dalam satu gerakan.
“Sayang sekali kau tidak bisa melihat matahari terbenam,” gumannya kala menuruni bukit.
Adrian menoleh ke arah pelayan yang mengekor di belakangnya. “Kita kembali ke kediaman Dietrich.”
Pelayan tersebut mengerjapkan mata, tampak bingung. “Maaf?”
“Kita kembali,” ulang Adrian dengan penekanan. “Kirimkan surat kepada Count Archellio bahwa Nona Irene akan bermalam di kediaman Dietrich.”
Pelayan itu segera menundukkan kepala. “S-saya mengerti.”
Irene mengerjapkan matanya perlahan, terbangun di tengah dunia yang temaram. Wangi bunga kamomil yang bercampur dengan aroma kayu aras memenuhi hidungnya. Kertakan kayu dan senandung jangkrik di kejauhan menandakan tibanya malam, memecah keheningan.Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring diam.Perutnya terasa melilit pelan—lapar. Jika diingat dengan benar, terakhir kali ia makan adalah di pesta itu.Pesta terkutuk itu…Manik safirnya bergerak menuju lukisan padang bunga yang tergantung di atas ranjang, diterpa cahaya jingga perapian yang menari di dinding.Irene mengernyit; ia tidak ingat memiliki lukisan seperti itu di kamarnya. Namun hamparan bunga itu terasa familiar…Tebing.Padang bunga.Adrian yang terlelap…Napas Irene tersendat; matanya melotot.Adrian?!Ia tersentak bangun.Selimut yang membungkus tubuhnya meluncur jatuh, memperlihatkan kain tipis berwarna lilac yang membalut kulitnya.Tubuh Irene menegang. Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging. Tanga
Irene mematung. Matanya menyapu hamparan padang bunga putih keunguan bergoyang pelan di bawah hangatnya mentari pagi. Pohon-pohon pinus yang rindang mengelilingi padang itu dalam pelukan asri.Udara segar yang memenuhi paru-parunya sedikit mengusir pening di kepalanya.Adrian yang melangkah maju membuatnya tersadar dari lamunan, dan Irene segera mengikuti langkah pria tersebut dalam diam. “Untuk apa Anda membawa saya ke sini?” tanya Irene, suaranya teredam oleh gemerisik dedaunan.Adrian menjawab tanpa menoleh. “Kau terlihat seperti orang yang akan bunuh diri.”Irene mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jemarinya mengerat di tangan Adrian tanpa ia sadari. Kata-katanya bak sebuah tamparan di pipi.Apa aku begitu transparan di hadapannya? Ia menggigit bibir wajahnya; rasa malu dan terhina bercampur menjadi satu.“Lihatlah.”Pria itu melepaskan pegangannya, lalu melangkah menuju pagar kayu pembatas di ujung tebing. Irene menyusul dan berdiri di sampingnya.Di hadapan mereka, hamparan duni
Terduduk dalam balutan gaun hitam di ruang duduk Archellio, Irene menatap pantulan dirinya di permukaan teh yang mulai dingin dengan tatapan hampa.Kicau burung dan kehangatan mentari pagi yang menembus jendela sama sekali tak mampu mencairkan dingin yang terlanjur mengendap di dadanya.“Jadi?”Suara bariton itu memecah keheningan, menariknya dari lamunan.Irene mendongak, menatap pria berambut hitam yang duduk dengan santai di seberangnya—pandangannya sedikit terhalang oleh jaring tipis topi yang ia kenakan.Adrian duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di dada dengan satu kaki bertumpu angkuh. Senyum tipis yang terlalu percaya diri terulas di bibirnya.Rahang Irene mengeras. Jemarinya meremas rok gaunnya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah dan rasa tidak berdaya yang masih membakar tenggorokannya.“Saya…” Irene menghela napas panjang, membiarkan harga dirinya jatuh ke lantai bersama sisa-sisa air mata semalam. “…bersedia membayar perlindungan Anda
Duduk memeluk kedua lututnya di atas kasur, Irene menoleh ke arah jendela. Cahaya fajar menyelinap di sela gorden satin yang terbuka, perlahan mengusir gelap yang semula menyelimuti ruangan. Semburat merah muda membentang di langit, menandai datangnya pagi.Isakan lolos dari bibirnya, memecah keheningan. Tenggorokannya kering; setiap napas terasa menggores. Matanya panas, namun tak ada lagi air mata yang jatuh.Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Dari kaca rias, sosoknya menatap balik: rambut kusut tak terurus, mata sembab kemerahan, dan bibir yang sedikit membengkak akibat terlalu lama digigit.Irene mengedus pelan, “Lihat dirimu, Irie… menyedihkan sekali.”Merangkak menuruni ranjang, ia berjalan lunglai ke arah meja rias.“Kenapa…?”Isakan kembali menyeruak. Suaranya parau. “Kenapa harus aku yang menanggungnya?”Ingatan itu menghantamnya—tatapan para bangsawan yang menyapu dirinya dari ujung kepala hingga kaki dengan jijik.Bisik-bisik di balik kipas—Isakan lain lolos. Dadanya se
“Ayah! Jangan!” Irene menjerit, ia menerjang maju dan memeluk lengan Edgar sekuat tenaga saat tangan itu kembali terangkat. “Ayah salah paham!”“Irene!”Suara pekikan di ambang pintu menarik perhatian Irene.Ibu dan kakak laki-lakinya berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Begitu pandangan mereka bertemu, langkah sang ibu terhenti. Matanya membelalak melihat penampilan Irene—tangannya mencengkeram dada, napasnya tersendat, dan tubuhnya limbung.“Ibu!” teriak Irene dan kakaknya serempak.Kakaknya menangkap tubuh ibunya dengan sigap sebelum ia terjatuh ke lantai.Jantung Irene mencelos. Matanya membulat. “Ibu!”“Kau bajingan!” raung Edgar, wajahnya memerah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol.Tangannya yang lain menyambar kerah Adrian, menyentaknya dengan kasar hingga mereka beradu pandang.Adrian tidak melawan. Ia hanya menatap pria di hadapannya tanpa ekspresi.Edgar mencoba melepaskan tangannya dari pelukan Irene, tapi Irene mengeratkan cengkeramannya sekuat tenaga.“Ayah! He
“Duke Dietrich?” panggil Fernando serak, napasnya memburu.Tubuh Irene menegang.“Ini bukan urusan Anda… tolong jangan ikut campur.”Irene menggeleng cepat dan mencengkeram lengan Adrian. Air mata menyeruak, mengaburkan pandangan dan menuruni pipinya. Isakannya lolos. “Tolong saya…”Adrian menegakkan tubuh Irene, lalu melangkah menghampiri Fernando.“Yang Mu—”Sebuah pukulan mendarat telak di wajahnya. Begitu keras hingga Irene terperanjat kaget.Fernando tersungkur ke lantai. Ia memegangi rahangnya, mata membulat. Semburat merah merekah di pipinya; darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya yang koyak.“Apa—”Belum sempat ia bangkit, Adrian sudah menarik kerahnya dan kembali melayangkan tinju.“Ugh! Duke—”Tapi Adrian tak berhenti. Pukulan demi pukulan menghujani Fernando. Irene hanya bisa memeluk tubuhnya yang gemetar saat darah berceceran di lantai, mengotori pakaian dan sarung tangan putih milik Adrian.“Apa yang terjadi?!”Semua kepala menoleh ke arah pintu. Para bangsawan tel







