LOGIN“Duke Dietrich?” panggil Fernando serak, napasnya memburu.
Tubuh Irene menegang.
“Ini bukan urusan Anda… tolong jangan ikut campur.”
Irene menggeleng cepat dan mencengkeram lengan Adrian. Air mata menyeruak, mengaburkan pandangan dan menuruni pipinya. Isakannya lolos. “Tolong saya…”
Adrian menegakkan tubuh Irene, lalu melangkah menghampiri Fernando.
“Yang Mu—”
Sebuah pukulan mendarat telak di wajahnya. Begitu keras hingga Irene terperanjat kaget.
Fernando tersungkur ke lantai. Ia memegangi rahangnya, mata membulat. Semburat merah merekah di pipinya; darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya yang koyak.
“Apa—”
Belum sempat ia bangkit, Adrian sudah menarik kerahnya dan kembali melayangkan tinju.
“Ugh! Duke—”
Tapi Adrian tak berhenti. Pukulan demi pukulan menghujani Fernando. Irene hanya bisa memeluk tubuhnya yang gemetar saat darah berceceran di lantai, mengotori pakaian dan sarung tangan putih milik Adrian.
“Apa yang terjadi?!”
Semua kepala menoleh ke arah pintu. Para bangsawan telah berkumpul di ambang ruangan.
“Lepas!” Fernando mendorong Adrian dan berlari pincang menuju kerumunan, lalu menuding tajam. “Mereka sedang bercinta—!”
“Itu tidak benar!” sanggah Irene, tapi Fernando tidak berhenti.
“Saya memergoki mereka—lalu Duke Dietrich memukul saya!”
“Itu tidak benar!” bantah Irene lebih keras.
Namun para bangsawan seolah tuli. Tatapan mereka justru berubah jijik, menyapu Irene dari ujung kepala hingga kaki seakan menilainya. Bisik-bisik mulai merebak.
“…liat gaunnya…”
“…rambutnya juga…”
“…memalukan sekali…”
Hati Irene mencelos. Napasnya tersendat; jemarinya mencengkeram sisa kain gaunnya yang robek. Keringat dingin merayapi kulitnya.
“…itu tidak benar…” gumannya lemah.
Sebuah isakan memecah kebisingan. Seluruh pandangan tertuju pada wanita yang menangis di kerumunan; wajahnya basah oleh air mata.
“Nona Irene! Teganya Anda!” jerit Lyla. “Nona tahu Yang Mulia adalah kekasih saya!”
Ia melangkah cepat menghampiri, kemudian mengayunkan tangannya. Irene memejamkan mata, bersiap menerima tamparan—
“Apa yang kau lakukan?!”
Suara Adrian menggelegar.
Irene membuka mata. Adrian telah menangkap pergelangan tangan wanita itu, lalu menepisnya kasar. Wajah datarnya sedikit mengeras.
Lyla terhuyung, memegangi pergelangan tangannya. Matanya terbelalak tidak percaya. “Yang Mulia… kenapa Anda membela wanita ini?!”
“Saya adalah kekasih Anda!” jeritnya.
“Tidak lagi,” balas Adrian dingin.
Ia melepas jas dan menyampirkannya pada pundak Irene sebelum menatap Lyla dengan dingin. “Hubungan kita berakhir.”
Wanita itu membatu. Wajahnya pucat pasi. “A-apa…?” suaranya bergetar. “Apa maksud Anda…?”
Mengabaikannya, Adrian berbalik ke arah Irene, berbisik pelan. “Maafkan saya.”
Alis Irene berkerut. Apa maksudnya…?
Belum sempat ia mencerna, Adrian tiba-tiba membungkuk dan mengangkatnya. Napas Irene tercekat saat kakinya terangkat dari lantai—dalam sekejap, ia sudah berada di gendongan pria itu.
Adrian mengalihkan pandangannya ke kerumunan, berujar sinis. “Jika kalian sudah selesai menonton, kembalilah ke aula.”
Ia melangkah maju dan Irene segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di balik helai rambut yang jatuh berantakan. Kerumunan seketika terbelah, memberi jalan saat mereka lewat.
“…menolak lamaran adalah kedok…”
“…merebut kekasih orang lain…”
“…ternyata pura-pura suci…” suara Selena menggema di kejauhan.
Irene mencengkeram jas Adrian hingga jemarinya memutih. Cairan hangat menyeruak, menyusuri pipinya. Ia menggigit bibir bawahnya keras, berusaha menahan isakan yang mencakar tenggorokannya.
Kenapa…? Kenapa begini…?
.
.
.
Air mata Irene terus mengucur tanpa bisa ia hentikan. Isakan demi isakan lolos dari bibirnya. Dunia di sekelilingnya telah sunyi, hanya menyisakan derap langkah Adrian di atas lantai marmer yang menggema.
Irene mengangkat kepalanya perlahan. Lorong mewah yang temaram menyambutnya. Ia sering mengunjungi kastel, tapi ia tidak tahu ke mana Adrian membawanya.
Pria itu kemudian berbelok dan berhenti di depan pintu kembar besar yang terukir rumit, lalu menendangnya. Dentuman kerasnya menggema di seluruh lorong, membuat tubuh Irene terperanjat kaget.
Irene mendongak panik, “S-saya bisa jalan.”
Adrian berhenti dan menunduk. Wajah mereka yang hanya terpaut beberapa senti membuat Irene refleks menundukkan kepala. Pipinya terasa panas.
“…Tidak perlu,” ujarnya datar.
Ia kembali melangkah masuk dan mendudukkan Irene di sofa beludru. Dingin menjalar dari kakinya saat telapak kakinya menyentuh lantai—ia baru menyadari bahwa tidak memakai sepatu.
Irene mengangkat kepalanya dengan waswas.
Adrian sedang melucuti sarung tangannya yang bernoda darah dan melemparnya sembarangan ke meja. Ia merogoh saku dan mengulurkan tangannya.
Sebuah sapu tangan putih dengan jahitan hitam terlipat rapi di telapak tangannya.
Irene menatapnya sejenak sebelum membungkuk kecil dan menerimanya. “Terima kasih.”
Adrian tidak menanggapi. Ia hanya berbalik dan melangkah menjauh. Irene menyapukan sapu tangan di pipi, menghapus jejak air mata di wajahnya sebelum mengedarkan pandangannya.
Ruangan itu terlalu luas untuk sekadar kamar tamu. Langit-langit tinggi dengan lampu kristal, perabotan elegan yang tertata rapi, dan detail ukiran di setiap sudutnya membuatnya terasa lebih seperti ruang pribadi seorang bangsawan tinggi—
“Kau aman di sini.”
Suara Adrian terdengar dari belakangnya, diiringi dengan langkah yang perlahan mendekat.
Ia kemudian menyodorkan segelas air ke arahnya.
Irene menatap gelas itu beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya.
“Terima kasih,” ulangnya lebih pelan.
Ia kembali menunduk, meneguk air itu perlahan. Cairan dingin mengalir, membasahi tenggorokannya yang kering.
Menurunkan gelasnya, Irene menoleh ke arah Adrian yang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu tengah menegak sampanye dari gelasnya dengan santai, seolah semua keributan yang baru saja terjadi hanyalah ilusi semata.
“Terima kasih sudah menolong saya,” cicit Irene akhirnya, suaranya parau.
Adrian menggedikkan bahunya tanpa menurunkan gelasnya.
“Saya…” Irene menggigit bibir bawahnya. “Minta maaf… Anda… dan Nona Lyla—”
“Tidak perlu dipikirkan,” sela Adrian cepat. Ia menyimpan gelasnya di meja. “Aku memang sudah bosan dengannya.”
Cengkeraman Irene pada gelas itu mengerat. Ia menunduk, menatap pantulan wajahnya yang berantakan di permukaan air dalam gelas. Rambutnya kacau, matanya sembab, dan ia terlihat sangat… menjijikkan.
Bagaimana aku bisa lupa…?
Tangan kiri Irene naik, memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Dadanya terasa sesak dan perutnya terasa diaduk-aduk.
Pria ini—
pria yang selalu ia cerca dalam hati setiap kali melihatnya—
justru orang yang menolongnya.
Aku merasa… seperti orang bodoh…
“…rene!”
Kepala mereka tersentak ke arah suara yang menggema di kejauhan.
Irene segera menyimpan gelas dan berdiri. “…Ayah?”
“Irene!”
Seorang pria paruh baya berambut pirang dengan mata biru berdiri di ambang pintu. Napasnya memburu, bahunya naik turun dengan tidak beraturan.
“Ayah!” Irene memekik. Bahunya merosot dan cairan hangat itu kembali menyeruak, meluncur di pipinya. Perasaan lega itu menyelimuti dirinya.
Edgar melangkah cepat, hampir berlari. Wajah dan matanya memerah padam penuh emosi. Irene refleks melangkah maju, merentangkan tangan untuk menghambur ke pelukan ayahnya.
Namun, Edgar justru melewatinya begitu saja.
Irene mematung, tangannya menggantung di udara dengan alis berkerut bingung. “Ayah…?”
Irene berbalik perlahan dan melihat tangan ayahnya melayang menghantam wajah Adrian.
Benturan keras menggema; kepala Adrian tersentak ke samping, semburat merah mekar di pipinya.
Tangan Irene refleks menutup mulutnya yang menganga; matanya membulat sempurna.
“Berani sekali kau menyentuh putriku!” teriakan Edgar menggema.
Langit musim semi membentang luas dalam nuansa biru lembut tanpa awan. Cahaya mentari pagi yang hangat menyinari ibu kota, sementara dentang lonceng menggema panjang ke seluruh penjuru Lexith.Di dalam katedral, para tamu telah memenuhi deretan kursi jemaat dalam balutan sutra dan mantel mewah. Kilauan kaca patri yang berpadu dengan lampu kristal menaburkan semburat warna-warni ke seluruh aula.Pepohonan hijau yang ditata rapi di setiap sudut, dipadukan dengan rangkaian bunga yang melilit tiang-tiang marmer raksasa, mengubah aula megah itu menjadi taman hidup.Satu bulan telah berlalu sejak Irene menginjakkan kaki di kediaman Dietrich.Dan hari ini, pernikahan mereka akhirnya digelar.Berdiri kaku di balik pintu ganda raksasa, Irene menatap buket bunga putih di genggamannya tanpa ekspresi. Jemarinya mengerat pelan pada tangkai bunga hingga sarung tangan satinnya berkerut.Pernikahan yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan kini terasa hampa dan dingin. Rasa pahit di lidahny
Irene menatap Adrian dalam diam. Bibirnya terkatup rapat.Baru sekarang ia memahami betapa jauhnya perbedaan dunia mereka.Jika baginya balas dendam adalah tujuan akhirnya, maka di mata pria di hadapannya, balas dendam antarbangsawan hanyalah sekadar permainan anak kecil.“Apa itu alasan Anda menjadikan saya seorang Duchess?” tanya Irene, suaranya bergetar.Adrian mendengus geli. “Kenapa? Apa kau merasa ditipu?”Irene bungkam. Lidahnya kelu.“Mari kita ubah perspektif.” Adrian menegakkan punggungnya dan menyesap cerutunya pelan. “Sebagai Duchess Dietrich, kau bisa menghadiri pesta mana pun yang dihadiri Fernando demi balas dendammu, bukan?”Asap tembakau melayang di antara mereka.“Dan aku membutuhkanmu untuk menghadiri pesta-pesta itu demi informasi tentang opium.” Adrian memiringkan kepalanya. Seringai tipis terbit di bibirnya. “Tidakkah tujuan kita sejalan?”Jemarinya mencengkeram rok gaunnya begitu erat hingga kukunya nyaris menembus kain.Dan untuk pertama kalinya, Irene menyadar
Pintu gerbang besi berlambang serigala perak yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memberi jalan bagi kereta hitam legam untuk bergerak maju.Hamparan taman luas dengan bunga warna-warni mengapit jalan batu granit yang tersusun mulus. Air mancur marmer berdiri megah di tengah halaman, memantulkan cahaya keemasan matahari sore.Pandangan Irene jatuh pada pria jangkung yang berdiri tepat di depan mansion Dietrich.Adrian.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana yang membalut tubuh kekarnya dengan sempurna. Celana hitam dan sepatu kulit gelap begitu kontras dengan kulit pucatnya.Satu tangannya tersimpan santai di saku celana, sementara yang lainnya memegang sebatang cerutu. Asap tipis mengepul di udara saat Adrian menyesapnya perlahan.Kereta melambat dan berhenti tepat di hadapan pria itu.Irene menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan debar jantungnya yang bergemuruh di dada. Jemarinya yang dingin membuka dan menutup gelisah di atas pangkuann
Irene segera menundukkan kepalanya dalam. Air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Lengannya memeluk tubuhnya erat hingga kuku-kuku menancap ke kulit.Ia merasa jijik dan malu pada dirinya sendiri.Aku… kotor…Dentuman keras menyentak Irene mendongak.Ayahnya telah berdiri dari kursi. Kedua tangan Edgar menghantam meja kerja dengan keras hingga tempat tinta berdenting nyaring.“Binatang sialan!”Wajah pria itu memerah padam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.“A-Ayah?” Irene bangkit dengan ragu.Selama dua puluh tahun hidupnya, ia belum pernah melihat sang ayah begitu marah.“Dia menyentuhmu?” desis Edgar pelan.Irene menggigit bibir bawahnya. Isakan lolos dari tenggorokannya saat ia mengangguk lemah.Ayahnya menyapu wajahnya kasar dengan satu tangan sebelum mengembuskan napas berat. “…kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat?”“A-Aku…” Bibir Irene bergetar hebat. “Aku takut…”“Shh,” Edgar membelah jarak di antara mereka dan merengkuh tubuhnya.“Tidak ap
Cahaya pucat yang mengalir dari jendela tinggi perlahan mengusir sisa-sisa kegelapan di kamar Irene.Terduduk di belakang meja, manik safir Irene terpaku pada surat kabar yang tergelar di hadapannya, sementara jemarinya memijat pelipis yang berdenyut tanpa henti.Helaan napas panjang lolos dari bibirnya. Dasar, pria gila! Matahari bahkan belum sepenuhnya merangkak ke langit, namun kepalanya sudah terasa nyeri sejak pagi buta.Tajuk besar di halaman depan surat kabar itu seolah sengaja mengejek sisa kewarasannya.[ DUKE DIETRICH RESMI DAFTARKAN PERNIKAHAN! ]Di bawah untaian huruf hitam tersebut, deretan kalimat tercetak begitu rinci hingga terasa menusuk matanya.[…sang petualang cinta akhirnya berlabuh…][…pada wanita yang gemar menolak lamaran…][…rumornya, pernikahan akan diselenggarakan bulan depan…]“Bulan depan…” gunam Irene lirih.Membuang napas panjang untuk yang kesekian kalinya, Irene menggosok wajahnya dengan frustrasi.Jujur saja, setelah semua yang terjadi, ia tidak tahu
Manik obsidian itu tampak berbinar samar; seringai tipis terulas di bibirnya, memahami maksud liciknya.Perlahan, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Para bangsawan yang tadi begitu gemar bergosip kini tampak menegang pucat.“Hmm…” gumam Adrian pelan.Pria itu memiringkan kepala sedikit, seolah benar-benar sedang mempertimbangkan jawabannya dengan serius.Keheningan mencekik menyergap ruangan.Tidak ada satu pun wanita bangsawan yang berani bersuara sekarang. Bahkan Selena pun hanya bisa diam, memperhatikan Adrian dengan sorot mata yang sulit dibaca.Adrian menoleh pada Irene. Senyuman merekah di bibirnya. “Bagaimana jika kita mengumumkannya hari ini?”Irene bungkam. Bibirnya terkatup rapat.Untuk sesaat, Irene ingin sekali memukul kepala Adrian.Pria gila.Mengabaikan ucapan Adrian sepenuhnya demi menyelamatkan sisa kewarasannya, Irene segera menoleh pada Viscountess Elner.“Nyonya,” ujarnya tenang meski ujung bibirnya terasa berkedut menahan kesal, “saya dan Yang Mulia pamit lebih
Derit pintu terdengar pelan, menarik perhatian seluruh pasang mata.Seorang pria jangkung berjalan memasuki ruangan dengan langkah tenang dan percaya diri. Jas hitam yang membalut tubuh tegap dan atletisnya tampak kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambut hitam legamnya menari ditiup angin yang me
Irene mengulas senyum tipis. Ia memandang Selena yang juga menatapnya dengan senyum anggun di bibir ranumnya.Wanita itu bahkan bukan tuan rumah pesta teh, namun jelas sekali siapa yang mengendalikan arah percakapan di sini.“Yang membuat Duke Dietrich berbeda adalah…” Irene menjeda sejenak.Para b
Kereta Archellio melaju melintasi taman bunga yang tertata rapi di kediaman Viscount Elner.Air mancur marmer di tengah halaman berkilau di bawah cahaya mentari. Deretan kereta mewah yang berjajar di sepanjang jalan batu menandakan kedatangan para tamu.Irene menoleh ke luar jendela. Derap tapal ku
“Irene! Jangan—tolong!”Suara Lyla menggema di kegelapan.Wanita bergaun merah anggur itu merangkak mendekat. Riasannya luntur berantakan; air mata membasahi wajahnya yang dipenuhi keputusasaan. Namun sebelum sempat menyentuh Irene, para kesatria segera menarik tubuhnya kembali. “Irene!” teriak Ly







