Share

Chapter 3

Author: rynviere
last update publish date: 2026-04-21 10:17:56

“Ayah! Jangan!” Irene menjerit, ia menerjang maju dan memeluk lengan Edgar sekuat tenaga saat tangan itu kembali terangkat. “Ayah salah paham!”

“Irene!”

Suara pekikan di ambang pintu menarik perhatian Irene.

Ibu dan kakak laki-lakinya berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Begitu pandangan mereka bertemu, langkah sang ibu terhenti. Matanya membelalak melihat penampilan Irene—tangannya mencengkeram dada, napasnya tersendat, dan tubuhnya limbung.

“Ibu!” teriak Irene dan kakaknya serempak.

Kakaknya menangkap tubuh ibunya dengan sigap sebelum ia terjatuh ke lantai.

Jantung Irene mencelos. Matanya membulat. “Ibu!”

“Kau bajingan!” raung Edgar, wajahnya memerah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Tangannya yang lain menyambar kerah Adrian, menyentaknya dengan kasar hingga mereka beradu pandang.

Adrian tidak melawan. Ia hanya menatap pria di hadapannya tanpa ekspresi.

Edgar mencoba melepaskan tangannya dari pelukan Irene, tapi Irene mengeratkan cengkeramannya sekuat tenaga.

“Ayah! Hentikan!” Tubuh Irene terombang-ambing, namun ia menolak melepaskannya.

“Count Edgar!”

Derap langkah cepat mendekat. Putra Mahkota segera menyelusup di antara Edgar dan Adrian, menahan tubuh Edgar dengan paksa. “Tolong hentikan!”

“Hentikah?!” bentak Edgar.

Dengan satu sentakan kasar, ia menghempaskan Irene hingga terhuyung ke belakang. “Ah!”

Edgar melangkah maju, mata nyalangnya mengunci Adrian, namun langkahnya segera ditahan oleh Putra Mahkota.

“Keluarga Archellio telah mendukung takhta kerajaan selama berabad-abad—” suaranya bergetar menahan amarah, “apakah ini cara kalian membalasnya?!”

“Count Edgar,” ucapnya tenang di sela napas memburunya, “tenangkan diri Anda!”

“Tenang?!” Edgar tertawa pendek, nyaris seperti geraman. “Putri saya diperlakukan seperti ini di bawah atap istana dan Anda meminta saya tenang—?!”

“Hentikan kekacauan ini!”

Suara yang tajam membelah keributan. Derap langkah sepatu bot yang riuh memantul ke seluruh ruangan.

Seorang wanita berambut hitam dalam balutan gaun mewah melangkah masuk, wajahnya memerah padam dan napasnya memburu.

Sang Ratu.

Di belakangnya, sepasukan prajurit merangsek masuk, lalu menodongkan senapan ke arah Edgar. Suara senjata yang dikokang serempak mengisi kesunyian.

.

.

.

Keheningan menyelimuti ruangan itu seperti kabut tebal. Meski megah dan luas, udara di dalamnya mendadak terasa tipis, seolah dinding-dinding marmer itu perlahan bergeser mendekat untuk menghimpit Irene.

Semua orang kini terduduk di ruangan tertutup.

Ayahnya bersandar pada kursi dengan tangan yang terkepal erat di sisinya hingga memutih. Di sisi lain, sang ibu yang mulai siuman hanya bisa bersandar pada bahu kakaknya, menatap kosong ke lantai dengan sisa air mata yang mengering di pipi.

Berbeda dengan Putra Mahkota dan Sang Ratu yang sedikit menegang, wajah Adrian tetap tenang, bahkan terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

“Jadi,” Ratu Elissa memecah keheningan, manik hitamnya menyapu wajah di hadapannya satu per satu, “bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”

Irene menunduk, menggigit bibir bawahnya keras dan mengeratkan cengkeramannya pada rok di sisinya.

Ingatan itu menghantamnya—

tangan yang menahan, tubuh yang menindih, suara kain yang terkoyak—

Napasnya tersendat. Jantungnya bertalu begitu keras hingga memekakkan telinga. Tubuhnya gemetar; dingin merambat hingga ke ujung jemarinya.

Irene segera memejamkan mata. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Tenanglah… semua itu sudah berakhir… aku sudah aman…

Setelah badai di dadanya sedikit mereda, Irene membuka mata dan mengangkat kepalanya. “Saya—”

“Ibu,” potong Adrian cepat. Pria itu menoleh pada Ratu Elissa. “Nona Irene sangat cantik, aku tidak bisa menahan—”

“BAJINGAN!”

Raung Edgar menggelegar. Ia terlonjak berdiri dan menerjang kalap ke arahnya, namun Putra Mahkota dan kakak Irene segera menghadang, menahan tubuhnya yang bergetar hebat.

“Count Edgar, kendalikan diri Anda!”

“Ayah! Tenanglah, kumohon!”

Irene membeku.

Alisnya silih bertautan.

Apa…?

Kepalanya terasa berputar, perutnya diaduk-aduk hingga mual. Suara-suara di sekelilingnya mendadak terdengar jauh, teredam, seolah ia tenggelam di bawah air.

Manik hitam Adrian bergeser, mengunci pandangan padanya. Sebuah seringai tipis tersungging di bibirnya. “Bukankan Nona juga menikmati sentuhanku?”

“Apa—?!”

Irene terlonjak berdiri. Napasnya tersedak, dadanya naik turun tak beraturan. “Apa maksud Anda—?!”

“Saya akan bertanggung jawab.”

Hening.

Kesunyian yang memekakkan telinga seketika menyergap. Semua orang mematung, menatap Adrian dengan keterkejutan yang terpahat jelas di wajah mereka.

“Saya akan menikahi Nona,” ulang Adrian. Suaranya menggema.

Irene bungkam.

Tatapan Adrian masih terpaku padanya: datar dan tak terbaca, seperti patung tanpa emosi.

Irene memalingkan wajahnya ke samping, rahangnya mengeras hingga terasa sakit. Ia melumat bibirnya yang kering, mati-matian menahan isak dan teriakan yang mendesak naik ke tenggorokannya.

Pria itu memang telah menyelamatkannya, namun ucapannya barusan terasa seperti bilah pisau yang mengoyak sisa harga dirinya.

Menghela napas panjang untuk mengumpulkan kepingan martabatnya, Irene kembali menatap Adrian. “Bisakah kita bicara sebentar?”

Pria itu menggedikkan bahunya acuh tak acuh.

“Irene…” panggil ayahnya. Edgar memandangnya dengan tatapan hancur dan penuh rasa bersalah.

Irene memaksakan seulas senyum getir. “Ayah, aku tidak apa-apa…”

Adrian bangkit dari kursi dan Irene mengekorinya menuju balkon. Langkah kaki mereka bergema di kesunyian. Adrian membuka pintu kaca itu, angin malam yang dingin seketika menerpa, menyelinap menggigit kulit Irene.

Manik biru Irene melirik sekilas ke balik punggung Adrian, melihat keluarganya yang menatap dengan gundah, sebelum kembali terpusat pada pria jangkung di hadapannya. Sosoknya yang tinggi membuat Irene sedikit mendongak.

“Mengapa Anda mengatakan hal menjijikkan seperti itu?”

“Lalu apa yang akan kau katakan?” sela Adrian dingin, manik hitam itu menyipit sengit. “Apa kau akan mengumumkan bahwa kau hampir dilecehkan bajingan itu? Dan aku muncul sebagai pahlawan?”

Irene mengatupkan bibir rapat-rapat. Cengkeramannya pada jas semakin mengerat, jemarinya bergetar. Memang itu yang ingin kukatakan…

“Dengar, Nona Irene,” Adrian melanjutkan, suaranya menajam. “Meskipun kau meneriakkan kebenaran sampai suaramu habis, para bangsawan tidak akan pernah melihatmu sebagai korban. Mereka akan melabelimu sebagai wanita yang telah dinodai.”

Adrian maju satu langkah lebih dekat. Bayangannya yang menelan sosok Irene. “Jika kau mengikuti permainanku, kau hanya akan dicap sebagai kekasih gelapku. Dan martabatmu akan pulih sepenuhnya begitu kau menyandang nama Dietrich.”

“Bahkan jika kau menolak menikah sekalipun,” Adrian menambahkan dengan seringai tipis yang sinis, “itu tidak akan merugikanku. Aku sudah dicap sebagai bajingan pemain wanita. Reputasiku tidak akan berubah, apa pun pilihanmu. Namun bagimu?”

Tangan Adrian terangkat dan mencengkeram dagunya, memaksa Irene menatapnya. “Itu adalah akhir dari duniamu.”

Irene menepis tangan Adrian. “Lantas, mengapa Anda menolong saya?”

Alih-alih tersinggung, pria itu malah terkekeh kecil. “Aku hanya bosan bersandiwara sebagai pemain wanita.”

Alis Irene berkerut dalam. “Saya… tidak mengerti.”

Tapi yang pasti, pria di hadapannya ini tidak waras.

“Nona akan mengerti setelah menikahiku.” Adrian memangkas jarak. Aroma cendana menusuk hidung Irene, membuatnya mendadak pening.

“Satu hal, Nona. Aku menikahimu bukan karena aku murah hati.” Ia berhenti sejenak, tatapannya menajam. “Ada harga yang harus kau bayar atas perlindungan ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 21

    Langit musim semi membentang luas dalam nuansa biru lembut tanpa awan. Cahaya mentari pagi yang hangat menyinari ibu kota, sementara dentang lonceng menggema panjang ke seluruh penjuru Lexith.Di dalam katedral, para tamu telah memenuhi deretan kursi jemaat dalam balutan sutra dan mantel mewah. Kilauan kaca patri yang berpadu dengan lampu kristal menaburkan semburat warna-warni ke seluruh aula.Pepohonan hijau yang ditata rapi di setiap sudut, dipadukan dengan rangkaian bunga yang melilit tiang-tiang marmer raksasa, mengubah aula megah itu menjadi taman hidup.Satu bulan telah berlalu sejak Irene menginjakkan kaki di kediaman Dietrich.Dan hari ini, pernikahan mereka akhirnya digelar.Berdiri kaku di balik pintu ganda raksasa, Irene menatap buket bunga putih di genggamannya tanpa ekspresi. Jemarinya mengerat pelan pada tangkai bunga hingga sarung tangan satinnya berkerut.Pernikahan yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan kini terasa hampa dan dingin. Rasa pahit di lidahny

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 20

    Irene menatap Adrian dalam diam. Bibirnya terkatup rapat.Baru sekarang ia memahami betapa jauhnya perbedaan dunia mereka.Jika baginya balas dendam adalah tujuan akhirnya, maka di mata pria di hadapannya, balas dendam antarbangsawan hanyalah sekadar permainan anak kecil.“Apa itu alasan Anda menjadikan saya seorang Duchess?” tanya Irene, suaranya bergetar.Adrian mendengus geli. “Kenapa? Apa kau merasa ditipu?”Irene bungkam. Lidahnya kelu.“Mari kita ubah perspektif.” Adrian menegakkan punggungnya dan menyesap cerutunya pelan. “Sebagai Duchess Dietrich, kau bisa menghadiri pesta mana pun yang dihadiri Fernando demi balas dendammu, bukan?”Asap tembakau melayang di antara mereka.“Dan aku membutuhkanmu untuk menghadiri pesta-pesta itu demi informasi tentang opium.” Adrian memiringkan kepalanya. Seringai tipis terbit di bibirnya. “Tidakkah tujuan kita sejalan?”Jemarinya mencengkeram rok gaunnya begitu erat hingga kukunya nyaris menembus kain.Dan untuk pertama kalinya, Irene menyadar

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 19

    Pintu gerbang besi berlambang serigala perak yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memberi jalan bagi kereta hitam legam untuk bergerak maju.Hamparan taman luas dengan bunga warna-warni mengapit jalan batu granit yang tersusun mulus. Air mancur marmer berdiri megah di tengah halaman, memantulkan cahaya keemasan matahari sore.Pandangan Irene jatuh pada pria jangkung yang berdiri tepat di depan mansion Dietrich.Adrian.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana yang membalut tubuh kekarnya dengan sempurna. Celana hitam dan sepatu kulit gelap begitu kontras dengan kulit pucatnya.Satu tangannya tersimpan santai di saku celana, sementara yang lainnya memegang sebatang cerutu. Asap tipis mengepul di udara saat Adrian menyesapnya perlahan.Kereta melambat dan berhenti tepat di hadapan pria itu.Irene menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan debar jantungnya yang bergemuruh di dada. Jemarinya yang dingin membuka dan menutup gelisah di atas pangkuann

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 18

    Irene segera menundukkan kepalanya dalam. Air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Lengannya memeluk tubuhnya erat hingga kuku-kuku menancap ke kulit.Ia merasa jijik dan malu pada dirinya sendiri.Aku… kotor…Dentuman keras menyentak Irene mendongak.Ayahnya telah berdiri dari kursi. Kedua tangan Edgar menghantam meja kerja dengan keras hingga tempat tinta berdenting nyaring.“Binatang sialan!”Wajah pria itu memerah padam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.“A-Ayah?” Irene bangkit dengan ragu.Selama dua puluh tahun hidupnya, ia belum pernah melihat sang ayah begitu marah.“Dia menyentuhmu?” desis Edgar pelan.Irene menggigit bibir bawahnya. Isakan lolos dari tenggorokannya saat ia mengangguk lemah.Ayahnya menyapu wajahnya kasar dengan satu tangan sebelum mengembuskan napas berat. “…kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat?”“A-Aku…” Bibir Irene bergetar hebat. “Aku takut…”“Shh,” Edgar membelah jarak di antara mereka dan merengkuh tubuhnya.“Tidak ap

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 17

    Cahaya pucat yang mengalir dari jendela tinggi perlahan mengusir sisa-sisa kegelapan di kamar Irene.Terduduk di belakang meja, manik safir Irene terpaku pada surat kabar yang tergelar di hadapannya, sementara jemarinya memijat pelipis yang berdenyut tanpa henti.Helaan napas panjang lolos dari bibirnya. Dasar, pria gila! Matahari bahkan belum sepenuhnya merangkak ke langit, namun kepalanya sudah terasa nyeri sejak pagi buta.Tajuk besar di halaman depan surat kabar itu seolah sengaja mengejek sisa kewarasannya.[ DUKE DIETRICH RESMI DAFTARKAN PERNIKAHAN! ]Di bawah untaian huruf hitam tersebut, deretan kalimat tercetak begitu rinci hingga terasa menusuk matanya.[…sang petualang cinta akhirnya berlabuh…][…pada wanita yang gemar menolak lamaran…][…rumornya, pernikahan akan diselenggarakan bulan depan…]“Bulan depan…” gunam Irene lirih.Membuang napas panjang untuk yang kesekian kalinya, Irene menggosok wajahnya dengan frustrasi.Jujur saja, setelah semua yang terjadi, ia tidak tahu

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 16

    Manik obsidian itu tampak berbinar samar; seringai tipis terulas di bibirnya, memahami maksud liciknya.Perlahan, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Para bangsawan yang tadi begitu gemar bergosip kini tampak menegang pucat.“Hmm…” gumam Adrian pelan.Pria itu memiringkan kepala sedikit, seolah benar-benar sedang mempertimbangkan jawabannya dengan serius.Keheningan mencekik menyergap ruangan.Tidak ada satu pun wanita bangsawan yang berani bersuara sekarang. Bahkan Selena pun hanya bisa diam, memperhatikan Adrian dengan sorot mata yang sulit dibaca.Adrian menoleh pada Irene. Senyuman merekah di bibirnya. “Bagaimana jika kita mengumumkannya hari ini?”Irene bungkam. Bibirnya terkatup rapat.Untuk sesaat, Irene ingin sekali memukul kepala Adrian.Pria gila.Mengabaikan ucapan Adrian sepenuhnya demi menyelamatkan sisa kewarasannya, Irene segera menoleh pada Viscountess Elner.“Nyonya,” ujarnya tenang meski ujung bibirnya terasa berkedut menahan kesal, “saya dan Yang Mulia pamit lebih

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 15

    Derit pintu terdengar pelan, menarik perhatian seluruh pasang mata.Seorang pria jangkung berjalan memasuki ruangan dengan langkah tenang dan percaya diri. Jas hitam yang membalut tubuh tegap dan atletisnya tampak kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambut hitam legamnya menari ditiup angin yang me

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 14

    Irene mengulas senyum tipis. Ia memandang Selena yang juga menatapnya dengan senyum anggun di bibir ranumnya.Wanita itu bahkan bukan tuan rumah pesta teh, namun jelas sekali siapa yang mengendalikan arah percakapan di sini.“Yang membuat Duke Dietrich berbeda adalah…” Irene menjeda sejenak.Para b

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 13

    Kereta Archellio melaju melintasi taman bunga yang tertata rapi di kediaman Viscount Elner.Air mancur marmer di tengah halaman berkilau di bawah cahaya mentari. Deretan kereta mewah yang berjajar di sepanjang jalan batu menandakan kedatangan para tamu.Irene menoleh ke luar jendela. Derap tapal ku

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 12

    “Irene! Jangan—tolong!”Suara Lyla menggema di kegelapan.Wanita bergaun merah anggur itu merangkak mendekat. Riasannya luntur berantakan; air mata membasahi wajahnya yang dipenuhi keputusasaan. Namun sebelum sempat menyentuh Irene, para kesatria segera menarik tubuhnya kembali. “Irene!” teriak Ly

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status