Compartilhar

Chapter 7

Autor: rynviere
last update Data de publicação: 2026-05-08 00:03:58

Irene mengerjapkan matanya perlahan, terbangun di tengah dunia yang temaram. Wangi bunga kamomil yang bercampur dengan aroma kayu aras memenuhi hidungnya. Kertakan kayu dan senandung jangkrik di kejauhan menandakan tibanya malam, memecah keheningan.

Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring diam.

Perutnya terasa melilit pelan—lapar. Jika diingat dengan benar, terakhir kali ia makan adalah di pesta itu.

Pesta terkutuk itu…

Manik safirnya bergerak menuju lukisan padang bunga yang tergantung di atas
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 7

    Irene mengerjapkan matanya perlahan, terbangun di tengah dunia yang temaram. Wangi bunga kamomil yang bercampur dengan aroma kayu aras memenuhi hidungnya. Kertakan kayu dan senandung jangkrik di kejauhan menandakan tibanya malam, memecah keheningan.Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring diam.Perutnya terasa melilit pelan—lapar. Jika diingat dengan benar, terakhir kali ia makan adalah di pesta itu.Pesta terkutuk itu…Manik safirnya bergerak menuju lukisan padang bunga yang tergantung di atas ranjang, diterpa cahaya jingga perapian yang menari di dinding.Irene mengernyit; ia tidak ingat memiliki lukisan seperti itu di kamarnya. Namun hamparan bunga itu terasa familiar…Tebing.Padang bunga.Adrian yang terlelap…Napas Irene tersendat; matanya melotot.Adrian?!Ia tersentak bangun.Selimut yang membungkus tubuhnya meluncur jatuh, memperlihatkan kain tipis berwarna lilac yang membalut kulitnya.Tubuh Irene menegang. Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging. Tanga

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 6

    Irene mematung. Matanya menyapu hamparan padang bunga putih keunguan bergoyang pelan di bawah hangatnya mentari pagi. Pohon-pohon pinus yang rindang mengelilingi padang itu dalam pelukan asri.Udara segar yang memenuhi paru-parunya sedikit mengusir pening di kepalanya.Adrian yang melangkah maju membuatnya tersadar dari lamunan, dan Irene segera mengikuti langkah pria tersebut dalam diam. “Untuk apa Anda membawa saya ke sini?” tanya Irene, suaranya teredam oleh gemerisik dedaunan.Adrian menjawab tanpa menoleh. “Kau terlihat seperti orang yang akan bunuh diri.”Irene mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jemarinya mengerat di tangan Adrian tanpa ia sadari. Kata-katanya bak sebuah tamparan di pipi.Apa aku begitu transparan di hadapannya? Ia menggigit bibir wajahnya; rasa malu dan terhina bercampur menjadi satu.“Lihatlah.”Pria itu melepaskan pegangannya, lalu melangkah menuju pagar kayu pembatas di ujung tebing. Irene menyusul dan berdiri di sampingnya.Di hadapan mereka, hamparan duni

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 5

    Terduduk dalam balutan gaun hitam di ruang duduk Archellio, Irene menatap pantulan dirinya di permukaan teh yang mulai dingin dengan tatapan hampa.Kicau burung dan kehangatan mentari pagi yang menembus jendela sama sekali tak mampu mencairkan dingin yang terlanjur mengendap di dadanya.“Jadi?”Suara bariton itu memecah keheningan, menariknya dari lamunan.Irene mendongak, menatap pria berambut hitam yang duduk dengan santai di seberangnya—pandangannya sedikit terhalang oleh jaring tipis topi yang ia kenakan.Adrian duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di dada dengan satu kaki bertumpu angkuh. Senyum tipis yang terlalu percaya diri terulas di bibirnya.Rahang Irene mengeras. Jemarinya meremas rok gaunnya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah dan rasa tidak berdaya yang masih membakar tenggorokannya.“Saya…” Irene menghela napas panjang, membiarkan harga dirinya jatuh ke lantai bersama sisa-sisa air mata semalam. “…bersedia membayar perlindungan Anda

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 4

    Duduk memeluk kedua lututnya di atas kasur, Irene menoleh ke arah jendela. Cahaya fajar menyelinap di sela gorden satin yang terbuka, perlahan mengusir gelap yang semula menyelimuti ruangan. Semburat merah muda membentang di langit, menandai datangnya pagi.Isakan lolos dari bibirnya, memecah keheningan. Tenggorokannya kering; setiap napas terasa menggores. Matanya panas, namun tak ada lagi air mata yang jatuh.Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Dari kaca rias, sosoknya menatap balik: rambut kusut tak terurus, mata sembab kemerahan, dan bibir yang sedikit membengkak akibat terlalu lama digigit.Irene mengedus pelan, “Lihat dirimu, Irie… menyedihkan sekali.”Merangkak menuruni ranjang, ia berjalan lunglai ke arah meja rias.“Kenapa…?”Isakan kembali menyeruak. Suaranya parau. “Kenapa harus aku yang menanggungnya?”Ingatan itu menghantamnya—tatapan para bangsawan yang menyapu dirinya dari ujung kepala hingga kaki dengan jijik.Bisik-bisik di balik kipas—Isakan lain lolos. Dadanya se

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 3

    “Ayah! Jangan!” Irene menjerit, ia menerjang maju dan memeluk lengan Edgar sekuat tenaga saat tangan itu kembali terangkat. “Ayah salah paham!”“Irene!”Suara pekikan di ambang pintu menarik perhatian Irene.Ibu dan kakak laki-lakinya berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Begitu pandangan mereka bertemu, langkah sang ibu terhenti. Matanya membelalak melihat penampilan Irene—tangannya mencengkeram dada, napasnya tersendat, dan tubuhnya limbung.“Ibu!” teriak Irene dan kakaknya serempak.Kakaknya menangkap tubuh ibunya dengan sigap sebelum ia terjatuh ke lantai.Jantung Irene mencelos. Matanya membulat. “Ibu!”“Kau bajingan!” raung Edgar, wajahnya memerah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol.Tangannya yang lain menyambar kerah Adrian, menyentaknya dengan kasar hingga mereka beradu pandang.Adrian tidak melawan. Ia hanya menatap pria di hadapannya tanpa ekspresi.Edgar mencoba melepaskan tangannya dari pelukan Irene, tapi Irene mengeratkan cengkeramannya sekuat tenaga.“Ayah! He

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 2

    “Duke Dietrich?” panggil Fernando serak, napasnya memburu.Tubuh Irene menegang.“Ini bukan urusan Anda… tolong jangan ikut campur.”Irene menggeleng cepat dan mencengkeram lengan Adrian. Air mata menyeruak, mengaburkan pandangan dan menuruni pipinya. Isakannya lolos. “Tolong saya…”Adrian menegakkan tubuh Irene, lalu melangkah menghampiri Fernando.“Yang Mu—”Sebuah pukulan mendarat telak di wajahnya. Begitu keras hingga Irene terperanjat kaget.Fernando tersungkur ke lantai. Ia memegangi rahangnya, mata membulat. Semburat merah merekah di pipinya; darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya yang koyak.“Apa—”Belum sempat ia bangkit, Adrian sudah menarik kerahnya dan kembali melayangkan tinju.“Ugh! Duke—”Tapi Adrian tak berhenti. Pukulan demi pukulan menghujani Fernando. Irene hanya bisa memeluk tubuhnya yang gemetar saat darah berceceran di lantai, mengotori pakaian dan sarung tangan putih milik Adrian.“Apa yang terjadi?!”Semua kepala menoleh ke arah pintu. Para bangsawan tel

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status