LOGINDuduk memeluk kedua lututnya di atas kasur, Irene menoleh ke arah jendela. Cahaya fajar menyelinap di sela gorden satin yang terbuka, perlahan mengusir gelap yang semula menyelimuti ruangan. Semburat merah muda membentang di langit, menandai datangnya pagi.
Isakan lolos dari bibirnya, memecah keheningan. Tenggorokannya kering; setiap napas terasa menggores. Matanya panas, namun tak ada lagi air mata yang jatuh.
Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Dari kaca rias, sosoknya menatap balik: rambut kusut tak terurus, mata sembab kemerahan, dan bibir yang sedikit membengkak akibat terlalu lama digigit.
Irene mengedus pelan, “Lihat dirimu, Irie… menyedihkan sekali.”
Merangkak menuruni ranjang, ia berjalan lunglai ke arah meja rias.
“Kenapa…?”
Isakan kembali menyeruak. Suaranya parau. “Kenapa harus aku yang menanggungnya?”
Ingatan itu menghantamnya—tatapan para bangsawan yang menyapu dirinya dari ujung kepala hingga kaki dengan jijik.
Bisik-bisik di balik kipas—
Isakan lain lolos. Dadanya sesak, napasnya tersendat. Air mata memenuhi pelupuk matanya, mengaburkan pandangan. Irene menggigit bibirnya, menahan gemetar yang tak kunjung reda.
“Aku tidak salah…” suaranya nyaris hilang. “Fernando yang mencoba melecehkanku…”
Cairan hangat di pelupuk tumpah, menelusuri pipinya. Kedua tangannya terangkat, mencengkeram bahunya dengan erat; kuku-kuku menancap tajam di kulitnya.
“Kenapa…” bisiknya tercekat. “Kenapa tidak ada satu pun yang mempercayaiku?”
Hening.
Hanya tangis lirih yang mengisi ruangan temaram.
Menurunkan tangannya yang gemetar dari tubuh, Irene membuka laci meja rias. Pandangannya jatuh pada sebuah gunting perak yang berkilau tajam di bawah cahaya pagi.
Untuk apa aku terus hidup…?
Jemarinya bergerak, menggenggam logam itu. Dingin merambat ke telapak tangannya.
Hidupku sudah hancur…
Ia mengangkatnya tinggi di udara dan menghujamnya tepat ke arah jantungnya.
“Hahah!”
Irene membeku.
Tangannya menggantung di udara; tawa Selena membahana di kepalanya.
“Jika saya putri seorang Count kaya raya dan berparas cantik,” hinaan itu terngiang, “saya tidak hanya akan menolak dua belas lamaran—tapi dua puluh!”
“…ternyata pura-pura suci…”
Rahang Irene mengeras. Giginya berkeretak. Cengkeramannya pada gunting begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan tangannya bergetar hebat. Kepalanya rasa mendidih.
“Selena!” desisnya.
Dengan raungan frustrasi, ia membanting gunting itu ke arah cermin sekuat tenaga. Kaca pecah memekakkan telinga. Retakan besar merambat, menghancurkan bayangan wajahnya menjadi kepingan tak utuh.
“SELENA!!”
Tangannya menyapu meja rias dengan satu sentakan liar. Botol parfum kristal, kotak perhiasan, dan alat rias beterbangan sebelum menghantam lantai marmer dengan bunyi berderak dan pecah.
“Haa… haa…”
Irene berdiri terdiam di tengah kekacauan itu, napasnya tersengal. Dadanya naik turun; detak jantung menggema di kepala.
Jika saja Selena tidak bermulut besar, ia tidak akan meninggalkan aula dengan perasaan terhina. Ia tidak akan berdiri di lorong itu, dan ia tidak akan pernah memberikan waktu lima menit bagi Fernando malam itu!
Semua ini bermula dari lidah beracun wanita itu!
Menghembuskan napas panjang untuk menjernihkan pikirannya. Irene menjatuhkan diri ke kursi rias. Tangannya meraih sisir dari laci, lalu mulai merapikan rambutnya.
Aku mati dan Selena tertawa?
Enak saja!
Manik birunya menajam, menatap pantulan dirinya yang terbelah di pecahan kaca.
Itu tidak akan terjadi.
“Aku akan membawamu ke neraka bersamaku, Selena,” bisiknya pada bayangan yang retak.
Tangan yang menyisir itu tiba-tiba berhenti. Sisir itu tertahan di tengah helai rambut pirangnya yang panjang. Bibirnya terkatup rapat.
Tapi Selena adalah putri seorang Marquis—tunangan keponakan raja.
Keluarga Ottilie memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada keluarga Archellio. Di mata hukum dan lingkaran sosial, kata-kata seorang putri Marquis jauh lebih berharga daripada pembelaan diri seorang putri Count yang reputasinya sudah terlanjur cacat.
Irene mendecakkan lidahnya, kesal.
Menyerang Selena secara terbuka sama saja dengan menggali liang lahatnya sendiri lebih dalam.
Aku butuhkan posisi yang lebih tinggi…
Lebih tinggi dari sekadar putri Count—
Irene mematung.
Lalu menoleh perlahan ke pintu kamar, menatap kain hitam yang tergeletak di lantai—jas Duke Dietrich.
“Bukankan Nona juga menikmati sentuhanku?”
Kalimat pria itu terngiang kembali, membuat gigi Irene bergemelutuk. Dengan satu sentakan, ia terlonjak berdiri dan melemparkan sisirnya ke arah jas sebelum benda itu memantul dan menghantam pintu dengan keras.
Dadanya kembang kempis, napasnya memburu.
Ah, Adrian sialan.
Irene mengepalkan tangan di kedua sisinya. Tak pernah terlintas sebelumnya bahwa ia harus menikah dan menghabiskan sisa umurnya dengan pria yang paling ia benci.
Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, Irene berbalik dan menghampiri meja di sudut ruangan, langkahnya menggema.
Ia menjatuhkan diri ke kursi, meraih kertas dan tinta.
Namun—
Jika harus membuat kesepakatan dengan iblis demi membalas dendam…
Irene lebih dari senang hati untuk menjalaninya.
Langit musim semi membentang luas dalam nuansa biru lembut tanpa awan. Cahaya mentari pagi yang hangat menyinari ibu kota, sementara dentang lonceng menggema panjang ke seluruh penjuru Lexith.Di dalam katedral, para tamu telah memenuhi deretan kursi jemaat dalam balutan sutra dan mantel mewah. Kilauan kaca patri yang berpadu dengan lampu kristal menaburkan semburat warna-warni ke seluruh aula.Pepohonan hijau yang ditata rapi di setiap sudut, dipadukan dengan rangkaian bunga yang melilit tiang-tiang marmer raksasa, mengubah aula megah itu menjadi taman hidup.Satu bulan telah berlalu sejak Irene menginjakkan kaki di kediaman Dietrich.Dan hari ini, pernikahan mereka akhirnya digelar.Berdiri kaku di balik pintu ganda raksasa, Irene menatap buket bunga putih di genggamannya tanpa ekspresi. Jemarinya mengerat pelan pada tangkai bunga hingga sarung tangan satinnya berkerut.Pernikahan yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan kini terasa hampa dan dingin. Rasa pahit di lidahny
Irene menatap Adrian dalam diam. Bibirnya terkatup rapat.Baru sekarang ia memahami betapa jauhnya perbedaan dunia mereka.Jika baginya balas dendam adalah tujuan akhirnya, maka di mata pria di hadapannya, balas dendam antarbangsawan hanyalah sekadar permainan anak kecil.“Apa itu alasan Anda menjadikan saya seorang Duchess?” tanya Irene, suaranya bergetar.Adrian mendengus geli. “Kenapa? Apa kau merasa ditipu?”Irene bungkam. Lidahnya kelu.“Mari kita ubah perspektif.” Adrian menegakkan punggungnya dan menyesap cerutunya pelan. “Sebagai Duchess Dietrich, kau bisa menghadiri pesta mana pun yang dihadiri Fernando demi balas dendammu, bukan?”Asap tembakau melayang di antara mereka.“Dan aku membutuhkanmu untuk menghadiri pesta-pesta itu demi informasi tentang opium.” Adrian memiringkan kepalanya. Seringai tipis terbit di bibirnya. “Tidakkah tujuan kita sejalan?”Jemarinya mencengkeram rok gaunnya begitu erat hingga kukunya nyaris menembus kain.Dan untuk pertama kalinya, Irene menyadar
Pintu gerbang besi berlambang serigala perak yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memberi jalan bagi kereta hitam legam untuk bergerak maju.Hamparan taman luas dengan bunga warna-warni mengapit jalan batu granit yang tersusun mulus. Air mancur marmer berdiri megah di tengah halaman, memantulkan cahaya keemasan matahari sore.Pandangan Irene jatuh pada pria jangkung yang berdiri tepat di depan mansion Dietrich.Adrian.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana yang membalut tubuh kekarnya dengan sempurna. Celana hitam dan sepatu kulit gelap begitu kontras dengan kulit pucatnya.Satu tangannya tersimpan santai di saku celana, sementara yang lainnya memegang sebatang cerutu. Asap tipis mengepul di udara saat Adrian menyesapnya perlahan.Kereta melambat dan berhenti tepat di hadapan pria itu.Irene menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan debar jantungnya yang bergemuruh di dada. Jemarinya yang dingin membuka dan menutup gelisah di atas pangkuann
Irene segera menundukkan kepalanya dalam. Air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Lengannya memeluk tubuhnya erat hingga kuku-kuku menancap ke kulit.Ia merasa jijik dan malu pada dirinya sendiri.Aku… kotor…Dentuman keras menyentak Irene mendongak.Ayahnya telah berdiri dari kursi. Kedua tangan Edgar menghantam meja kerja dengan keras hingga tempat tinta berdenting nyaring.“Binatang sialan!”Wajah pria itu memerah padam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.“A-Ayah?” Irene bangkit dengan ragu.Selama dua puluh tahun hidupnya, ia belum pernah melihat sang ayah begitu marah.“Dia menyentuhmu?” desis Edgar pelan.Irene menggigit bibir bawahnya. Isakan lolos dari tenggorokannya saat ia mengangguk lemah.Ayahnya menyapu wajahnya kasar dengan satu tangan sebelum mengembuskan napas berat. “…kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat?”“A-Aku…” Bibir Irene bergetar hebat. “Aku takut…”“Shh,” Edgar membelah jarak di antara mereka dan merengkuh tubuhnya.“Tidak ap
Cahaya pucat yang mengalir dari jendela tinggi perlahan mengusir sisa-sisa kegelapan di kamar Irene.Terduduk di belakang meja, manik safir Irene terpaku pada surat kabar yang tergelar di hadapannya, sementara jemarinya memijat pelipis yang berdenyut tanpa henti.Helaan napas panjang lolos dari bibirnya. Dasar, pria gila! Matahari bahkan belum sepenuhnya merangkak ke langit, namun kepalanya sudah terasa nyeri sejak pagi buta.Tajuk besar di halaman depan surat kabar itu seolah sengaja mengejek sisa kewarasannya.[ DUKE DIETRICH RESMI DAFTARKAN PERNIKAHAN! ]Di bawah untaian huruf hitam tersebut, deretan kalimat tercetak begitu rinci hingga terasa menusuk matanya.[…sang petualang cinta akhirnya berlabuh…][…pada wanita yang gemar menolak lamaran…][…rumornya, pernikahan akan diselenggarakan bulan depan…]“Bulan depan…” gunam Irene lirih.Membuang napas panjang untuk yang kesekian kalinya, Irene menggosok wajahnya dengan frustrasi.Jujur saja, setelah semua yang terjadi, ia tidak tahu
Manik obsidian itu tampak berbinar samar; seringai tipis terulas di bibirnya, memahami maksud liciknya.Perlahan, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Para bangsawan yang tadi begitu gemar bergosip kini tampak menegang pucat.“Hmm…” gumam Adrian pelan.Pria itu memiringkan kepala sedikit, seolah benar-benar sedang mempertimbangkan jawabannya dengan serius.Keheningan mencekik menyergap ruangan.Tidak ada satu pun wanita bangsawan yang berani bersuara sekarang. Bahkan Selena pun hanya bisa diam, memperhatikan Adrian dengan sorot mata yang sulit dibaca.Adrian menoleh pada Irene. Senyuman merekah di bibirnya. “Bagaimana jika kita mengumumkannya hari ini?”Irene bungkam. Bibirnya terkatup rapat.Untuk sesaat, Irene ingin sekali memukul kepala Adrian.Pria gila.Mengabaikan ucapan Adrian sepenuhnya demi menyelamatkan sisa kewarasannya, Irene segera menoleh pada Viscountess Elner.“Nyonya,” ujarnya tenang meski ujung bibirnya terasa berkedut menahan kesal, “saya dan Yang Mulia pamit lebih
“Kau benar,” jawab Irene akhirnya lirih. “Reputasiku memang sudah hancur.”Ia melangkah mendekat. Suara hak sepatunya menggema pelan di lantai marmer.“Tapi setidaknya…” Irene menatap lurus Lyla yang terduduk berantakan di lantai. “Aku masih memiliki harga diri.”Manik safirnya menyipit. “Aku tidak
Irene menatap Adrian tanpa berkedip, suaranya bergetar. “Aku ingin menghancurkannya dengan tanganku sendiri,”Ketertarikan berpendar pada manik hitam pria itu, sudut bibirnya terangkat. Ia meletakkan dokumen di tangannya ke meja dan menyandarkan punggungnya ke sofa. Jemarinya bertautan di atas kaki
Irene mematung. Matanya menyapu hamparan padang bunga putih keunguan bergoyang pelan di bawah hangatnya mentari pagi. Pohon-pohon pinus yang rindang mengelilingi padang itu dalam pelukan asri.Udara segar yang memenuhi paru-parunya sedikit mengusir pening di kepalanya.Adrian yang melangkah maju mem
Terduduk dalam balutan gaun hitam di ruang duduk Archellio, Irene menatap pantulan dirinya di permukaan teh yang mulai dingin dengan tatapan hampa.Kicau burung dan kehangatan mentari pagi yang menembus jendela sama sekali tak mampu mencairkan dingin yang terlanjur mengendap di dadanya.“Jadi?”Sua







