Compartilhar

Chapter 4

Autor: rynviere
last update Data de publicação: 2026-04-21 13:20:28

Duduk memeluk kedua lututnya di atas kasur, Irene menoleh ke arah jendela. Cahaya fajar menyelinap di sela gorden satin yang terbuka, perlahan mengusir gelap yang semula menyelimuti ruangan. Semburat merah muda membentang di langit, menandai datangnya pagi.

Isakan lolos dari bibirnya, memecah keheningan. Tenggorokannya kering; setiap napas terasa menggores. Matanya panas, namun tak ada lagi air mata yang jatuh.

Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Dari kaca rias, sosoknya menatap balik: rambut kusut tak terurus, mata sembab kemerahan, dan bibir yang sedikit membengkak akibat terlalu lama digigit.

Irene mengedus pelan, “Lihat dirimu, Irie… menyedihkan sekali.”

Merangkak menuruni ranjang, ia berjalan lunglai ke arah meja rias.

“Kenapa…?”

Isakan kembali menyeruak. Suaranya parau. “Kenapa harus aku yang menanggungnya?”

Ingatan itu menghantamnya—tatapan para bangsawan yang menyapu dirinya dari ujung kepala hingga kaki dengan jijik.

Bisik-bisik di balik kipas—

Isakan lain lolos. Dadanya sesak, napasnya tersendat. Air mata memenuhi pelupuk matanya, mengaburkan pandangan. Irene menggigit bibirnya, menahan gemetar yang tak kunjung reda.

“Aku tidak salah…” suaranya nyaris hilang. “Fernando yang mencoba melecehkanku…”

Cairan hangat di pelupuk tumpah, menelusuri pipinya. Kedua tangannya terangkat, mencengkeram bahunya dengan erat; kuku-kuku menancap tajam di kulitnya.

“Kenapa…” bisiknya tercekat. “Kenapa tidak ada satu pun yang mempercayaiku?”

Hening.

Hanya tangis lirih yang mengisi ruangan temaram.

Menurunkan tangannya yang gemetar dari tubuh, Irene membuka laci meja rias. Pandangannya jatuh pada sebuah gunting perak yang berkilau tajam di bawah cahaya pagi.

Untuk apa aku terus hidup…?

Jemarinya bergerak, menggenggam logam itu. Dingin merambat ke telapak tangannya.

Hidupku sudah hancur…

Ia mengangkatnya tinggi di udara dan menghujamnya tepat ke arah jantungnya.

“Hahah!”

Irene membeku.

Tangannya menggantung di udara; tawa Selena membahana di kepalanya.

“Jika saya putri seorang Count kaya raya dan berparas cantik,” hinaan itu terngiang, “saya tidak hanya akan menolak dua belas lamaran—tapi dua puluh!”

“…ternyata pura-pura suci…”

Rahang Irene mengeras. Giginya berkeretak. Cengkeramannya pada gunting begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan tangannya bergetar hebat. Kepalanya rasa mendidih.

“Selena!” desisnya.

Dengan raungan frustrasi, ia membanting gunting itu ke arah cermin sekuat tenaga. Kaca pecah memekakkan telinga. Retakan besar merambat, menghancurkan bayangan wajahnya menjadi kepingan tak utuh.

“SELENA!!”

Tangannya menyapu meja rias dengan satu sentakan liar. Botol parfum kristal, kotak perhiasan, dan alat rias beterbangan sebelum menghantam lantai marmer dengan bunyi berderak dan pecah.

“Haa… haa…”

Irene berdiri terdiam di tengah kekacauan itu, napasnya tersengal. Dadanya naik turun; detak jantung menggema di kepala.

Jika saja Selena tidak bermulut besar, ia tidak akan meninggalkan aula dengan perasaan terhina. Ia tidak akan berdiri di lorong itu, dan ia tidak akan pernah memberikan waktu lima menit bagi Fernando malam itu!

Semua ini bermula dari lidah beracun wanita itu!

Menghembuskan napas panjang untuk menjernihkan pikirannya. Irene menjatuhkan diri ke kursi rias. Tangannya meraih sisir dari laci, lalu mulai merapikan rambutnya.

Aku mati dan Selena tertawa?

Enak saja!

Manik birunya menajam, menatap pantulan dirinya yang terbelah di pecahan kaca.

Itu tidak akan terjadi.

“Aku akan membawamu ke neraka bersamaku, Selena,” bisiknya pada bayangan yang retak.

Tangan yang menyisir itu tiba-tiba berhenti. Sisir itu tertahan di tengah helai rambut pirangnya yang panjang. Bibirnya terkatup rapat.

Tapi Selena adalah putri seorang Marquis—tunangan keponakan raja.

Keluarga Ottilie memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada keluarga Archellio. Di mata hukum dan lingkaran sosial, kata-kata seorang putri Marquis jauh lebih berharga daripada pembelaan diri seorang putri Count yang reputasinya sudah terlanjur cacat.

Irene mendecakkan lidahnya, kesal.

Menyerang Selena secara terbuka sama saja dengan menggali liang lahatnya sendiri lebih dalam.

Aku butuhkan posisi yang lebih tinggi…

Lebih tinggi dari sekadar putri Count—

Irene mematung.

Lalu menoleh perlahan ke pintu kamar, menatap kain hitam yang tergeletak di lantai—jas Duke Dietrich.

“Bukankan Nona juga menikmati sentuhanku?”

Kalimat pria itu terngiang kembali, membuat gigi Irene bergemelutuk. Dengan satu sentakan, ia terlonjak berdiri dan melemparkan sisirnya ke arah jas sebelum benda itu memantul dan menghantam pintu dengan keras.

Dadanya kembang kempis, napasnya memburu.

Ah, Adrian sialan.

Irene mengepalkan tangan di kedua sisinya. Tak pernah terlintas sebelumnya bahwa ia harus menikah dan menghabiskan sisa umurnya dengan pria yang paling ia benci.

Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, Irene berbalik dan menghampiri meja di sudut ruangan, langkahnya menggema.

Ia menjatuhkan diri ke kursi, meraih kertas dan tinta.

Namun—

Jika harus membuat kesepakatan dengan iblis demi membalas dendam…

Irene lebih dari senang hati untuk menjalaninya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 7

    Irene mengerjapkan matanya perlahan, terbangun di tengah dunia yang temaram. Wangi bunga kamomil yang bercampur dengan aroma kayu aras memenuhi hidungnya. Kertakan kayu dan senandung jangkrik di kejauhan menandakan tibanya malam, memecah keheningan.Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring diam.Perutnya terasa melilit pelan—lapar. Jika diingat dengan benar, terakhir kali ia makan adalah di pesta itu.Pesta terkutuk itu…Manik safirnya bergerak menuju lukisan padang bunga yang tergantung di atas ranjang, diterpa cahaya jingga perapian yang menari di dinding.Irene mengernyit; ia tidak ingat memiliki lukisan seperti itu di kamarnya. Namun hamparan bunga itu terasa familiar…Tebing.Padang bunga.Adrian yang terlelap…Napas Irene tersendat; matanya melotot.Adrian?!Ia tersentak bangun.Selimut yang membungkus tubuhnya meluncur jatuh, memperlihatkan kain tipis berwarna lilac yang membalut kulitnya.Tubuh Irene menegang. Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging. Tanga

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 6

    Irene mematung. Matanya menyapu hamparan padang bunga putih keunguan bergoyang pelan di bawah hangatnya mentari pagi. Pohon-pohon pinus yang rindang mengelilingi padang itu dalam pelukan asri.Udara segar yang memenuhi paru-parunya sedikit mengusir pening di kepalanya.Adrian yang melangkah maju membuatnya tersadar dari lamunan, dan Irene segera mengikuti langkah pria tersebut dalam diam. “Untuk apa Anda membawa saya ke sini?” tanya Irene, suaranya teredam oleh gemerisik dedaunan.Adrian menjawab tanpa menoleh. “Kau terlihat seperti orang yang akan bunuh diri.”Irene mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jemarinya mengerat di tangan Adrian tanpa ia sadari. Kata-katanya bak sebuah tamparan di pipi.Apa aku begitu transparan di hadapannya? Ia menggigit bibir wajahnya; rasa malu dan terhina bercampur menjadi satu.“Lihatlah.”Pria itu melepaskan pegangannya, lalu melangkah menuju pagar kayu pembatas di ujung tebing. Irene menyusul dan berdiri di sampingnya.Di hadapan mereka, hamparan duni

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 5

    Terduduk dalam balutan gaun hitam di ruang duduk Archellio, Irene menatap pantulan dirinya di permukaan teh yang mulai dingin dengan tatapan hampa.Kicau burung dan kehangatan mentari pagi yang menembus jendela sama sekali tak mampu mencairkan dingin yang terlanjur mengendap di dadanya.“Jadi?”Suara bariton itu memecah keheningan, menariknya dari lamunan.Irene mendongak, menatap pria berambut hitam yang duduk dengan santai di seberangnya—pandangannya sedikit terhalang oleh jaring tipis topi yang ia kenakan.Adrian duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di dada dengan satu kaki bertumpu angkuh. Senyum tipis yang terlalu percaya diri terulas di bibirnya.Rahang Irene mengeras. Jemarinya meremas rok gaunnya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah dan rasa tidak berdaya yang masih membakar tenggorokannya.“Saya…” Irene menghela napas panjang, membiarkan harga dirinya jatuh ke lantai bersama sisa-sisa air mata semalam. “…bersedia membayar perlindungan Anda

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 4

    Duduk memeluk kedua lututnya di atas kasur, Irene menoleh ke arah jendela. Cahaya fajar menyelinap di sela gorden satin yang terbuka, perlahan mengusir gelap yang semula menyelimuti ruangan. Semburat merah muda membentang di langit, menandai datangnya pagi.Isakan lolos dari bibirnya, memecah keheningan. Tenggorokannya kering; setiap napas terasa menggores. Matanya panas, namun tak ada lagi air mata yang jatuh.Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Dari kaca rias, sosoknya menatap balik: rambut kusut tak terurus, mata sembab kemerahan, dan bibir yang sedikit membengkak akibat terlalu lama digigit.Irene mengedus pelan, “Lihat dirimu, Irie… menyedihkan sekali.”Merangkak menuruni ranjang, ia berjalan lunglai ke arah meja rias.“Kenapa…?”Isakan kembali menyeruak. Suaranya parau. “Kenapa harus aku yang menanggungnya?”Ingatan itu menghantamnya—tatapan para bangsawan yang menyapu dirinya dari ujung kepala hingga kaki dengan jijik.Bisik-bisik di balik kipas—Isakan lain lolos. Dadanya se

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 3

    “Ayah! Jangan!” Irene menjerit, ia menerjang maju dan memeluk lengan Edgar sekuat tenaga saat tangan itu kembali terangkat. “Ayah salah paham!”“Irene!”Suara pekikan di ambang pintu menarik perhatian Irene.Ibu dan kakak laki-lakinya berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Begitu pandangan mereka bertemu, langkah sang ibu terhenti. Matanya membelalak melihat penampilan Irene—tangannya mencengkeram dada, napasnya tersendat, dan tubuhnya limbung.“Ibu!” teriak Irene dan kakaknya serempak.Kakaknya menangkap tubuh ibunya dengan sigap sebelum ia terjatuh ke lantai.Jantung Irene mencelos. Matanya membulat. “Ibu!”“Kau bajingan!” raung Edgar, wajahnya memerah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol.Tangannya yang lain menyambar kerah Adrian, menyentaknya dengan kasar hingga mereka beradu pandang.Adrian tidak melawan. Ia hanya menatap pria di hadapannya tanpa ekspresi.Edgar mencoba melepaskan tangannya dari pelukan Irene, tapi Irene mengeratkan cengkeramannya sekuat tenaga.“Ayah! He

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 2

    “Duke Dietrich?” panggil Fernando serak, napasnya memburu.Tubuh Irene menegang.“Ini bukan urusan Anda… tolong jangan ikut campur.”Irene menggeleng cepat dan mencengkeram lengan Adrian. Air mata menyeruak, mengaburkan pandangan dan menuruni pipinya. Isakannya lolos. “Tolong saya…”Adrian menegakkan tubuh Irene, lalu melangkah menghampiri Fernando.“Yang Mu—”Sebuah pukulan mendarat telak di wajahnya. Begitu keras hingga Irene terperanjat kaget.Fernando tersungkur ke lantai. Ia memegangi rahangnya, mata membulat. Semburat merah merekah di pipinya; darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya yang koyak.“Apa—”Belum sempat ia bangkit, Adrian sudah menarik kerahnya dan kembali melayangkan tinju.“Ugh! Duke—”Tapi Adrian tak berhenti. Pukulan demi pukulan menghujani Fernando. Irene hanya bisa memeluk tubuhnya yang gemetar saat darah berceceran di lantai, mengotori pakaian dan sarung tangan putih milik Adrian.“Apa yang terjadi?!”Semua kepala menoleh ke arah pintu. Para bangsawan tel

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status