Udara dingin khas kawasan Puncak, Bogor, langsung menyergap begitu mobil berpenumpang lima orang itu berhenti di depan sebuah vila bernuansa kayu yang cukup megah. Alana turun dari mobil dengan wajah sekaku kanebo kering. Sepanjang perjalanan dari Jakarta, ia terpaksa duduk di kursi depan, tepat di sebelah Aksa yang menyetir, sementara Elara, Vano, dan Arka asyik mengobrol di kursi belakang. "Wih, mantap banget vilanya! Ini beneran difasilitasi kampus, Pak?" tanya Vano semringah sembari meregangkan otot-otot badannya yang pegal. Aksa turun dari mobil, merapikan jaket rajutnya yang kasual namun tetap memancarkan aura mahal. "Sebagian ditanggung fakultas sebagai kompensasi tugas dadakan ini, Saudara Vano. Sisanya adalah kebijakan saya sebagai pembimbing." "Wah, makasih banyak ya, Pak Aksa! Bapak emang dosen terbaik!" sahut Arka bersemangat, tidak tahu saja kalau di sebelahnya, Alana sedang mengutuk sang dosen dalam hati. Mereka berlima kemudian
閱讀更多