Suara pintu depan yang tertutup rapat memutus atmosfer mencekam yang ditinggalkan Gladis. Namun, bagi Alana, bisikan beracun wanita itu justru baru saja mulai menyebar, meracuni setiap sudut pikirannya. 'Gadis polos yang mudah dikendalikan.' Kata-kata itu terus bergaung, membuat dadanya terasa sesak luar biasa. Aksa kembali ke ruang tengah setelah mengantar Gladis ke depan pintu lobi unit. Ia melirik berkas di meja konsol sekilas sebelum mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Alana. "Alana, apa yang dia katakan kepadamu sebelum pergi?" tanya Aksa, menyadari perubahan drastis pada rahang Alana yang mengatup rapat. Alana buru-buru memalingkan wajah, mengemas buku-buku skripsinya dengan gerakan yang serba terburu-buru. "Nggak ada, Mas. Mbak Gladis cuma pamit." "Jangan berbohong, Alana. Saya tahu tatapan matanya tadi," kejar Aksa, melangkah mendekat. "Nggak ada yang bohong, Mas Aksa! Aku cuma... capek. Aku mau istirahat duluan," potong Al
Read more