Jantung Alana berdegup kencang, tangannya refleks mencengkeram syal abu-abu pemberian Bara dengan erat. "Ini... ini bedak gatal, Bar! Kan aku udah bilang tadi siang ke Elara, leher aku digigit serangga pas tidur di apartemen Om kemarin. Karena gatal banget dan memar merah, jadi aku kasih bedak kocok seadanya biar nggak makin parah." Bara menatap Alana lekat-lekat, mencoba mencari celah kebohongan di mata pacarnya. Namun, melihat wajah Alana yang tampak lelah dan sedikit pucat, gurat curiga di wajah Bara perlahan memudar, digantikan oleh rasa iba. "Ya ampun, Al... kenapa nggak bilang dari tadi?" Bara menghela napas, tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala Alana dengan lembut. "Maaf ya, aku malah nanya yang aneh-aneh. Kamu pasti stres banget belakangan ini gara-gara mikirin Papa, ditambah tugas komite dari Pak Aksa." Rasa bersalah yang teramat besar langsung menghantam dada Alana. Ketulusan Bara terasa seperti duri yang menusuk hatinya secara per
閱讀更多