Langkah kaki Bara yang menghentak keras di koridor lantai tiga menggema seperti lonceng peringatan. Amarah yang membakar dada membuat pandangannya menggelap, hanya terfokus pada pintu kayu jati di ujung lorong—ruangan Pak Aksa. Namun, baru saja tangannya yang mengepal kuat terangkat untuk mendobrak pintu itu, dua sosok perempuan tiba-tiba melompat dari balik pilar dan merentangkan tangan mereka, memblokir jalan Bara sepenuhnya. "Bara, berhenti!" pekik Keira, menatap lurus ke mata Bara yang memerah. "Minggir, Kei! El! Jangan halangi aku!" bentak Bara, suaranya menggelegar di koridor yang sepi. "Aku ada urusan sama dosen brengsek di dalam!" "Kamu yang harusnya sadar, Bara! Jangan bodoh!" Keira mendorong dada Bara dengan kedua telapak tangannya, mencoba menahan dorongan tubuh cowok itu yang jauh lebih besar. "Kalau kamu dobrak pintu ini dan bikin keributan, kamu cuma bakal bikin dirimu sendiri dikeluarkan dari kampus! Dan yang lebih parah, kamu bakal nganc
Read more