Tatapan mata Bara yang penuh harap membuat Alana tidak tega untuk menolak. Selama dua tahun ini, Bara selalu menjadi pria yang sabar menghadapinya. Maka, dengan mengabaikan gemuruh ketakutan di dadanya, Alana akhirnya mengangguk pelan. "Iya, Bar. Sabtu malam besok... aku janji bakal kosongin jadwal buat kita," ucap Alana lirih. Bara seketika tersenyum lebar, seolah beban berat yang menggelayuti pundaknya selama beberapa minggu ini menguap begitu saja. Ia membawa Alana ke dalam pelukan singkat. "Makasih ya, Al. Aku sayang banget sama kamu." Alana hanya bisa membalas pelukan itu dengan kaku. Rasa bersalah kembali merayap, mencengkeram hatinya hingga terasa perih. 'Maaf, Bar... maafin gue,' ratapnya dalam hati. Sore harinya, Alana kembali ke apartemen Kuningan dengan perasaan yang sedikit lebih tenang karena berhasil melewati satu ujian kejujuran—meski palsu—dengan Bara. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Begitu melangkah masuk ke ruang te
Read more