Napas Alana tertahan di tenggorokan. Punggungnya yang membentur pintu kayu apartemen terasa kaku, sementara tubuh tegap Aksa mengurungnya begitu rapat. Aroma sandalwood bercampur mint yang maskulin menguasai indra penciumannya, mengikis habis aroma restoran tempat ia makan bersama Bara tadi."Lepas, Pak! Bapak nggak berhak ngurung saya begini!" desis Alana, tangannya mencoba mendorong dada bidang Aksa yang terasa sekeras batu."Saya berhak, Alana. Saya suamimu," balas Aksa. Suaranya rendah, bergetar di dekat kening Alana. "Dan tugas suami adalah mendisiplinkan istrinya yang keras kepala.""Suami di atas kertas! Suami karena terpaksa!" Alana memalingkan wajah, enggan menatap mata elang di balik kacamata itu. "Saya benci aturan Bapak. Saya nggak mau makan, nggak mau belajar, nggak mau ngapa-ngapain kalau caranya kayak gini!"Aksa mundur satu langkah, melepaskan kungkungannya, namun tatapannya tetap mengunci Alana. "Masuk ke dalam. Ganti bajumu, lalu
Read more