Sulis menutup buku diarinya. Ia meregangkan badan yang kaku karena terlalu lama duduk dan menulis. "Ternyata banyak juga yang harus dilakuin." Ia bersandar ke kursi, menatap langit-langit rumah dengan tatapan penuh harap. "Takdirku bisa berubah nggak yah?"Cukup lama Sulis termenung, hingga akhirnya dia duduk tegak dan mulai membaca rencana pertama. "Nggak, pasti berubah. Aku bakal mulai sama rencana yang pertama dulu, cegah ayah biar nggak ketemu sama Om Indra di tukang sate." ujarnya yakin.***Jalanan pagi itu dipenuhi kendaraan yang bergerak tertib, Sulis memandangi dunia dari balik jendela. Kosong. Sementara pikirannya berkelana ke mana-mana. Pak Andre sesekali melirik dari belakang kemudi, "Ada yang kamu pikirin, Lis?" Sulis terperanjat kaget, ia menoleh dan melempar senyum lebar, "Nggak, Yah. Cuma kepikiran skripsi." "Hmm ..." Pak Andre mengangguk. "Tumben kamu mau ikut Ayah, biasanya kamu main sama temen-temen kamu." Sulis menatap jalanan di depannya, ingatan tentang teman
Last Updated : 2026-04-23 Read more