مشاركة

Bab 5 Penipu

مؤلف: Xuxi Law
last update تاريخ النشر: 2026-04-23 23:12:44

"Silahkan duduk." Om Indra menuntun Pak Andre dan kliennya, Pak Toni, ke salah satu meja kafe yang tak terlalu ramai.

Selang beberapa menit, Sulis masuk mengenakan jaket besar dan tebal milik ayahnya yang tertinggal di kursi belakang mobil.

Penutup kepala dan masker menutupi hampir seluruh wajahnya. Ia berjalan menunduk dan duduk di meja kosong di sebelah ayah dan omnya.

Sulis mengambil ponselnya, jarinya begitu sibuk mengutak-atik layar.

Pak Andre menangkap sosok yang memakai jaket di sebrang mejanya. Matanya menyipit seolah memperhatikan detail yang ia kenal ada di pakaian itu.

Namun Pak Andre tak ambil pusing. Ia mengangkat tangan kepada waiters dan memesan minuman untuk kedua rekannya.

Map tebal terbuka di atas meja, memperlihatkan gambar perumahan yang sempurna.

Pak Toni duduk bersandar dengan senyum tipis di wajahnya. "Jadi begini, Pak Andre ... sebenarnya sudah lama saya punya lahan ini, lokasinya strategis dan di sekitarnya juga ramai. Cuma baru bisa saya kembangkan sekarang karena saya punya urusan sebelumnya."

Pak Andre mengangguk pelan, ia membuka map dan memperhatikan denah dengan seksama. "Luas tanahnya berapa Pak Toni?"

"Sekitar lima hektar. Tanahnya sudah siap dibangun, Bapak tinggal eksekusi saja."

Sulis terdiam, kini ia mulai mendengarkan dengan seksama. *Udah dimulai?*

"Abang kenal Pak Toni udah cukup lama, Dre. Denger dia mau nyari pengusaha properti, Abang langsung inget sama kamu." ujar Om Indra dengan percaya diri. "Sayang Dre kalo sampe dilepas."

Pak Andre menatap kakak dan kliennya, kemudian beralih menatap berkas di meja. "Legalitasnya gimana bang? Aman?"

Om Indra tak langsung menjawab, namun Pak Toni membuka salah satu dokumen dan mendorong pelan ke hadapan Pak Andre. "Semua dokumen dasar sudah ada, sertifikat juga lengkap, tinggal beberapa proses administratif saja."

Om Indra meyakinkan adiknya yang mulai terlihat ragu. "Hal kecil itu mah, Dre. Proyek sebesar ini udah pasti ada tahapannya."

Sulis menggerutu, "Dasar picik!"

Pak Andre membaca sekilas dokumennya dengan alis berkerut, "Kalau masih proses ... Berarti belum bisa langsung jalan?"

Om Indra mengangguk, ia menepuk meja pelan. "Kalau nunggu semuanya beres, nanti harganya naik. Kamu juga kan yang rugi?"

Pak Andre terdiam, ia menimbang setiap perkataan kakak dan kliennya. Dalam keheningan itu, Sulis merasa kalau ayahnya meragukan kerja sama itu. *Jadi ayah nggak langsung percaya begitu aja? Apa yang bikin ayah dulu setuju nerima proyek itu ya?*

Tak lama, Pak Andre menghela napas. Ia masih mencoba meyakinkan dirinya untuk menerima resiko yang begitu besar. "Kalau begitu, skema kerja samanya seperti apa?"

Pak Toni melipat tangannya di atas meja, "Kita bagi peran. Saya siapkan lahan, Pak Andre fokus di pembangunan dan pemasaran."

"Win-win solution, Dre. Jadi kamu yang pegang proyeknya." sambung Om Indra.

Pak Andre melirik kakaknya dengan serius, "Lalu untuk modal awal gimana?"

Pak Toni menjawab tanpa ragu, "Di tahap awal, sekitar dua puluh miliar untuk pembukaan."

Om Indra menimpali "Buat proyek yang bakal menguntungkan di masa depan, segitu sudah termasuk murah, Dre."

Pak Andre terdiam, matanya tak lepas memperhatikan dokumen di depannya.

Sulis menantikan jawaban ayahnya dengan gelisah, matanya terus menatap chat terakhirnya dengan seseorang. "Duh ... kapan nyampenya, sih?"

Pak Toni menyondongkan tubuhnya, suaranya dipelankan sedikit, "Kalau Bapak masuk sekarang, kita bisa mulai dari cluster pertama. Targetnya bisa terjual lebih cepat."

Om Indra menatap lurus adiknya, "Ini kesempatan emas, Dre. Jarang loh ada yang sejelas ini."

Pak Andre mengetuk meja pelan dengan jarinya, ia masih terlihat ragu. "Kalau misalnya ada masalah di tengah jalan gimana?"

Pak Toni tersenyum lagi, tapi kali ini lebih lebar. "Pak, Resiko pasti ada. Tapi tidak mungkin saya menawarkan sesuatu yang merugikan. Dan saya juga kenalan kakak Anda, Pak Indra. Saya nggak berani Pak."

Om Indra ikut tersenyum, namun bukan senyum ketulusan sebagai keluarga , tapi senyum penuh ambisi. "Kita kan keluarga, Dre. Nggak mungkin Abang bawa kamu ke hal yang aneh-aneh."

Rahang Sulis mengeras, bahunya naik turun, tangannya mengepal meremas jaket ayahnya yang ia kenakan. *Apa? Keluarga?*

Pak Andre pun mengangguk, ia menuruti kata hatinya daripada logikanya. "Ya sudah, saya harus tanda tangan di mana?"

Pak Toni dan Om Indra tersenyum puas penuh kemenangan. "Silahkan di sini, Pak." Pak Toni menunjuk berkas dengan jempolnya.

Mata Sulis membulat, *Gawat! Aku harus cegah ayah ...*

Sebelum ujung pena Pak Indra menyentuh kertas perjanjian ...

BRAK!

Sulis menggebrak meja dan berdiri tegak. Namun semua orang menoleh ke arah pintu masuk. Suara gebrakan pintu lebih keras dari pukulan meja Sulis.

"Itu orangnya, tangkap dia!" teriak seorang pria paruh baya menunjuk Pak Toni, dua orang pria berseragam dan bertubuh kekar bergegas masuk dan menarik Pak Toni dari meja.

Sulis refleks menoleh. Semua mata tertuju memperhatikan Pak Toni yang di tunjuk pria yang berdiri di pintu masuk. "Dasar penipu! Kamu lagi nyari korban lagi ya?" bentak pria itu.

"A ... Apa-apaan ini?" Pak Andre refleks berdiri, diikuti dengan Om Indra yang berdiri perlahan.

Om Indra terlihat pucat, tangannya sedikit bergetar. Di balik masker, sudut bibir Sulis terangkat naik.

Pak Toni terus meronta, ia tak terima ditarik paksa. "Lepasin ... bukan begitu, Pak ..."

Sebelum Pak Toni memberi penjelasan, ia diseret masuk ke dalam mobil. Pria yang mengerahkan bodyguard hanya untuk menangkap pria itu menahan amarah dengan susah payah, "Seret dia!"

Pak Andre mengenali pria paruh baya itu, "Pak Rudi?"

Seketika Pak Rudi menoleh, "Loh, Pak Andre?" Ia berjalan menghampiri Pak Andre dan Om Indra di meja mereka. "Jadi calon korban dia selanjutnya adalah Pak Andre?"

Pak Andre mengernyit, "Korban?" Ia menoleh cepat melihat Om Indra yang terdiam tanpa suara. "Katanya Abang sudah kenal lama sama dia, Abang mau ngejebak saya ya?"

Sulis kembali duduk, dengan sendirinya ayahnya menyadari kalau ia sedang ditipu. *Bagus, akhirnya ayah sadar juga.*

Wajah Om Indra pucat pasi, namun dengan napas yang tertahan, ia masih berusaha mempertahankan senyumnya yang kaku, "A ... Abang juga nggak tahu kalau dia penipu, Dre!"

Pak Rudi menatap Om Indra dengan curiga, "Dia itu buronan! Sudah berapa banyak orang yang ditipu olehnya, termasuk saya. Nggak mungkin Anda nggak tahu!"

Suasana mendadak membeku.

Pak Andre menoleh perlahan ke arah Om Indra. Senyum di wajah Om Indra mulai menghilang, digantikan keraguan yang belum pernah muncul sebelumnya. “Bang … apa maksudnya ini? Tolong jelasin.” Pak Andre mulai meninggikan suaranya.

Om Indra membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar. Untuk pertama kalinya, ia terlihat seperti kehilangan fokus. *Mampus gue ...*

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 18 Temui di taman

    Keesokan malamnya, Pak Andre dan Sulis diam-diam sibuk di ruang makan ketika Bu Mira sedang pergi. Kardus-kardus lama dibuka, foto-foto jadul berserakan di meja."Itu jangan dilipat, Yah!" ujar Sulis cepat saat ayahnya asal menaruh foto."Iya iya ..." Pak Andre mengangguk, ia malah gugup sendiri.Sulis menghela napas kecil. Baru kali ini ia melihat ayahnya tegang seperti murid yang takut dipanggil guru BP.Di tengah tumpukan barang, Sulis menemukan sebuah surat lusuh dengan tulisan tangan Bu Mira di sampulnya. "Mira untuk Andre." Sulis mengangkat alis. "Ayah masih nyimpen beginian?"Wajah Pak Andre langsung memerah, ia salah tingkah dan merebut suratnya cepat dari tangan Sulis. "Jangan dibaca!"Sulis malah terkekeh kecil. Untuk sesaat, suasana yang tadinya suram sedikit membaik oleh kehangatan."Nah, bagus." ucap Sulis bertolak pinggang. "Kita pakai semua ini.""Pakai buat apa?""Bikin ibu inget kalau hubungan kalian nggak dibangun sehari dua hari."Pak Andre menatap anaknya lama. Mat

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 17 Rumah yang hancur

    Rumah itu kembali sunyi. Hanya ketegangan yang menekan, tak ada yang berani memulai pembicaraan.Napas Bu Mira memburu, tangannya masih bergetar sambil mengepal erat. Ia terus memunggungi suaminya sambil memijat kening. Langkahnya terhenti di dekat sofa, tangannya langsung berpegangan di sana.Pak Andre hanya berdiri kaku, tak bisa menyangkal. Meski begitu akhirnya ia memberanikan diri memanggil istrinya. "Bu ..."Tak ada jawaban dari Bu Mira. Satu detik. Dua detik. Hening. Bahkan Sulis yang masih berdiri di dekat pintu refleks menahan napas.Setelah Bu Mira menghela napas panjang, ia berbalik, menatap mata suaminya dalam-dalam. "Kamu tahu kan apa konsekuensinya kalau kamu selingkuh?""Kamu salah paham Bu, aku belum ngapa-ngapain sama Rini!" Pak Andre maju selangkah, mencoba mendekat. "Dia yang masuk ke ruang kerja dan ngerayu aku.""Terus kenapa kamu ngumpetin cewek itu di bawah meja?" suara Bu Mira mulai bergetar."Aku nggak mau kamu berpikiran macem-macem, jadi pas kalian pergi aku

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 16 Berantakan

    Pak Andre buru-buru membuka pintu, tampak Bu Mira sedang berjongkok merapihkan pecahan gelas di lantai. "Eh, Mas, maaf ya ganggu, tadi tanganku licin jadi gelasnya jatoh." ujar Bu Mira.Pak Andre terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk takut ketahuan. "Katanya kamu udah tidur?" pria itu asal bicara karena panik.Tangan Bu Mira mendadak berhenti bergerak, ia menoleh cepat, "Kata siapa?"Mata Pak Andre membulat, ia sudah salah bicara. "Eh ... nggak ..., biasanya kan kamu tidur jam segini."Bu Mira menyipitkan mata, "Loh, ini kan masih sore," ia bangkit setelah selesai membereskan pecahan gelas dan membuangnya ke tempat sampah. "Biasanya kan aku bikinin Mas kopi dulu.""Nggak usah!" ujar Pak Andre cepat, suaranya sedikit meninggi, membuat Bu Mira semakin curiga. "Kenapa?""Itu ... aku ..." Mata pria itu bergetar memilih kata-kata. "... udah bikin sendiri." ucapnya gugup. Tatapan Bu Mira semakin lekat, ia melihat tangan suaminya sedikit gemetar."Kenapa Bu?" suara Sulis dari lantai atas me

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 15 Godaan wanita muda

    Bu Mira maju dan melangkah masuk. “Rini, kamu keluar pake baju kayak gini?”Rini langsung salah tingkah. Tangan yang tadi terlipat di dada turun dengan cepat, jari-jarinya buru-buru menarik ujung tanktop tipis yang seolah bisa tiba-tiba panjang sendiri. “E-enggak keluar kok, Tante ... cuma di rumah aja,” jawab Rini cepat dengan senyum yang dipaksakan.Sulis diam memerhatikan. Dalam hati ia sudah yakin kalau ayahnya bakal marah besar. Biasanya sedikit saja bajunya terlalu pendek, Pak Andre langsung menegur panjang lebar. Bahkan pernah menyuruhnya ganti pakaian sebelum duduk makan bersama.Namun sekarang ...Pak Andre justru berjalan santai melewati mereka. Tatapannya berhenti pada Rini, dan tak lama ia berlalu pergi.Rini menangkap perubahan sikap Pak Andre dari tatapan matanya. Dibalik wajah polosnya, ia mulai merencanakan sesuatu.Sulis mengernyit kecil, wajahnya terlihat jelas keheranan. Sikap tak biasa ayahnya menganggu pikirannya.Bu Mira menghela napas pelan. “Bukan masalah kelua

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 14 Rencana

    Sulis terbelalak melihat lebam di pipi kiri Fani. Ia langsung berlari dan memeluk Fani."Fani, maaf ... karena aku kamu jadi sasaran Rohmat." Sulis memeluk Fani erat membuat napas Fani tercekat."Udah, jangan kenceng-kenceng meluknya, Fani nggak bisa napas tuh." Reza duduk di kursi dekat pintu.Dengan cepat Sulis melepaskan pelukannya. "Eh, maaf Fani."Fani terbatuk. "Nggak papa kok mbak."Fani menatap Reza dan Sulis bergantian. "Mbak Sulis siapanya Reza?" tanyanya."Aku ...""Teman!" potong Reza.Fani tak langsung percaya, ia menatap Sulis dan bertanya lagi. "Bener mbak?"Sulis menoleh melirik Reza, Reza pura-pura sibuk memainkan ponsel. Sulis pun mengangguk. "Iya, kita temenan."Sulis duduk mendekat, ia menyentuh pipi Fani pelan. "Masih sakit?"Fani menggeleng. "Nggak. Cuma kebas aja.""Maafin Mbak ya, karena Mbak kamu jadi begini. Mbak nggak tahu kalau Rohmat malah nuduh kamu." ucap Sulis dengan suara sedikit bergetar sambil tertunduk malu.Fani meraih tangan Sulis dan menggenggamn

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 13 Cewek berkaki besar

    "Selamat pagi, Pak Rudi." Pak Joshua maju selangkah menyalami Pak Rudi yang baru sampai. Pak Rudi menyambut sambil sedikit menunduk, senyum tipis terlihat di sudut bibirnya. "Pagi, Pak." Matanya langsung menangkap Rohmat yang tengah berlutut.Wajah Rohmat berubah pucat pasi ketika melihat tatapan Pak Rudi yang begitu dingin. Pak Rudi beralih menatap Pak Joshua. "Maaf Pak, sebenarnya kenapa dengan keponakan saya?" tanyanya sopan."Keponakan Anda sudah menampar keponakan saya. Jadi saya beri dia sedikit pelajaran." ujar Pak Joshua.Ekspresi murka tampak jelas di wajah Pak Rudi, namun ia berusaha menutupinya dengan senyuman kaku. "Ah, maafkan saya karena tak bisa mengawasi tingkah keponakan saya, sekarang saya akan beri dia pelajaran ...""Jangan." potong Pak Joshua menghentikan gerak tubuh Pak Rudi. "Saya sudah cukup memberi pelajaran padanya, anda cukup didik dia agar tak berurusan dengan keluarga saya lagi." sambungnya.Pak Joshua melangkah mendekat, kini jarak di antara mereka hanya

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 7 Ketahuan

    Setelah berbelok ke dalam gang, Sulis memegangi dadanya yang naik turun karena panik, ia menghela napas panjang karena berhasil lolos.Ia melirik dari balik dinding, tidak ada seorang pun yang mengejarnya, "Untung aja nggak ada yang ngejar, kalau dikira maling beneran bisa mati aku." gumamnya.Suli

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 6 Pertemuan

    Suasana kafe sangat ricuh, semua orang memandangi tempat mereka berdiri. Bisik-bisik memenuhi udara di ruang publik itu.Sulis memperhatikan punggung Om Indra. Napasnya tersengal layaknya orang yang hampir ketahuan mau menipu."Saya emang kenal Pak Toni dari lama, tapi saya nggak tahu kalau dia itu

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 4 Harus masuk

    Sulis menutup buku diarinya. Ia meregangkan badan yang kaku karena terlalu lama duduk dan menulis. "Ternyata banyak juga yang harus dilakuin." Ia bersandar ke kursi, menatap langit-langit rumah dengan tatapan penuh harap. "Takdirku bisa berubah nggak yah?"Cukup lama Sulis termenung, hingga akhirny

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 3 Rencana

    Setelah beberapa saat Sulis terdiam, ponselnya bergetar, bertanda pesan masuk. Nama Rohmat terpampang jelas tepat di depan layar. "Gimana Lis? Kamu jadi dijodohin hari ini?" isi chat dari orang yang paling ingin Sulis hindari. Sulis mengernyit. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dan menjatuhkan d

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status