Mag-log inSetelah beberapa saat Sulis terdiam, ponselnya bergetar, bertanda pesan masuk. Nama Rohmat terpampang jelas tepat di depan layar. "Gimana Lis? Kamu jadi dijodohin hari ini?" isi chat dari orang yang paling ingin Sulis hindari.
Sulis mengernyit. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang sambil menghela napas panjang, "Lagi pusing-pusingnya malah dapet chat dari orang kayak dia." Sulis menopang dagunya dengan tangan dan siku bertumpu di pahanya, "Gimana caranya biar aku bisa putus sama Rohmat dan juga nggak dijodohin?" Suara detik jam dinding terasa memekakan telinga, Bu Mira dan Pak Andre tengah sibuk mempersiapkan jamuan untuk tamu saat Sulis masih termenung. Pikirannya terus bergelut dengan waktu, sampai akhirnya ia bangkit dari duduknya. "Oke! Begitu aja!" ucapnya dengan bersemangat. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai keluarga Pak Joshua sampai di depan rumah Sulis. "Bu, anakmu mana?" tanya Pak Andre yang belum melihat Sulis dari pagi. "Lagi siap-siap, Yah!" Bisik Bu Mira panik. "Assalamualaikum..." Pak Joshua mengetuk pintu. "Waalaikumsalam..." Pak Andre berlari kecil menuju pintu, dan ketika pintu terbuka, terlihat Pak Joshua dan sang istri berdiri dengan parsel buah di tangan mereka. Pak Andre mempersilahkan mereka masuk. Pak Joshua dan istri langsung melangkah masuk tanpa ragu. Tapi tidak dengan anak mereka, ia tampak ragu walau wajahnya terlihat datar. "Nak, ayo masuk!" bisik sang ibu melototi anak sulungnya itu. Dengan helaan napas panjang, anak laki-laki Pak Joshua masuk dengan langkah yang berat. Walau begitu, ia berusaha menjaga ekspresinya di depan kedua orang tua Sulis. Pak Andre dan Bu Mira menerima buah tangan yang diberikan keluarga Pak Joshua. Setelah meletakkannya di atas meja, Pak Andre merangkul dan menepuk pundak teman lamanya itu. "Apa kabar Jo?" "Haha, baik... baik..." tawa keakraban mereka mengubah suasana canggung menjadi kehangatan. "Kenalin, ini istri gue, Santi..."Pak Joshua menunjuk istrinya dengan telapak tangan. Bu Santi tersenyum dan menyalami Pak Andre dan Bu Mira. "... dan ini anak sulung gue, Reza." sambung Pak Joshua memperkenalkan anaknya. Reza menyalami Pak Andre dan Bu Mira. "Ya ampun, Reza ... udah lama nggak liat kamu, sekarang tambah ganteng ya." ujar Bu Mira dengan tangan yang masih menggenggam tangan Reza. "Makasih tante." Reza tersenyum dengan canggung. Mereka semua duduk di ruang tamu, asisten rumah tangga keluarga Pak Andre muncul dari dapur dan menyajikan teh hangat di atas meja. "Kemana Sulis, Dre? Belum kelihatan." Pak Joshua membuka obrolan. Bu Mira membeku sejenak setelah beberapa detik duduk di sofa, "Sulis lagi siap-siap, Pak. Maklum namanya anak muda, pasti pengen tampil semaksimal mungkin." Tak lama, langkah kaki dari lantai atas terdengar mendekat. "Nah, itu dia anaknya." ucap Bu Mira. Sulis menuruni anak tangga dengan anggun. Ia mengenakan celana kulot dan kaos tangan panjang berwarna coklat yang ditutupi tunik tipis mengikuti gerak langkah kakinya, serta pashmina coklat muda menutupi kepalanya. Pak Joshua dan Bu Sinta memandangi Sulis tanpa berkedip, tapi tidak dengan Reza. Ia menatap Sulis dengan wajah datar yang sulit diartikan. Pak Joshua bangkit berdiri, "Wah, keponakan Pak Jo udah besar ya." ujarnya. Sulis menyalami Pak Joshua, Bu Sinta, dan yang terakhir Reza. Ia menangkap kalau Reza tak menatapnya sama sekali. Dalam sepersekian detik Reza langsung menarik tangannya dari genggaman Sulis. Sulis mengerutkan dahi. Semua orang menyaksikannya dalam diam. Pak Joshua berdehem kecil mengalihkan suasana, "Nak Sulis, gimana kabarnya, sehat?" Sulis menjatuhkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan Reza, "Sehat, om." Ketika kedua orang tua mereka sibuk saling bertanya kabar, Reza terus fokus dengan ponselnya. Alis tebal menukik, mata dalam yang tajam, rahang tegas serta hidung mancung dan bibir tipis, tanpa sadar Sulis memperhatikan Reza lekat-lekat. "Gimana, Sulis?" ujar Pak Andre. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba itu memecah lamunan Sulis. Karena fokus memperhatikan Reza ia sampai tak mendengar percakapan apa yang mereka bicarakan. "Ya?" jawab Sulis bingung. Reza masih memperhatikan ponselnya. Pak Andre menatap putrinya, "Kamu mau Ayah jodohkan sama Reza ..." "Puufft." Reza menyemburkan teh yang diminumnya ke samping. Pernyataan itu membuatnya meletakkan ponselnya dan mulai mendengarkan percakapan orang tuanya, "Apa?" "Reza!" bentak Bu Sinta, "kamu apa-apaan sih! Lap mulut kamu pake tisu!" Reza menyeka mulutnya dan bertanya lagi, "Apa maksudnya Om?" "Tujuan kita ke sini buat menjodohkan kalian berdua." jawab Pak Joshua santai. "Makanya kalau ada orang tua ngobrol tuh dengerin, hp terus!" ucap Bu Sinta gemas. Sulis hanya memperhatikan mereka dalam diam. Kenyataannya, Reza pun tak ingin dijodohkan dengannya. Tanpa kabur dengan Rohmat pun mungkin perjodohan ini tidak akan terjadi. Reza bangkit berdiri, "Ayah, kenapa nggak diskusi dulu di rumah? Ayah tahu kan, kalau-" "Cukup!" tegas Pak Joshua. "Reza, duduk!" Reza kembali duduk dengan kesal, membuat suasana canggung dalam sekejap. "Ayah ke sini bukan mau minta persetujuan kamu, tapi Sulis." sambung Pak Joshua. "Saya?" Sulis heran. "Iya, Nak. Gimana? Kamu mau jadi menantu Pak Jo?" tanya Pak Andre pelan. Sulis menatap mata kedua orang tuanya, mata mereka penuh harap, dan ketika ia beralih menatap Reza, Reza sudah memandanginya seperti predator yang siap menerkam mangsa. Tatapannya dingin dan menusuk. Namun hal itu tak menggoyahkan rencana Sulis untuk merubah takdirnya. Dan rencananya dimulai dengan perjodohan ini. "Iya Yah, Sulis mau." Suasana pun pecah menjadi kehangatan. Kedua orang tua mereka begitu senang dengan satu kalimat yang Sulis lontarkan. Berbeda dengan Reza, ekspresinya seperti menunjukkan kekalahan telak. Sulis menggigit bibirnya. Ia tahu persis raut wajah Reza mengartikan apa. Namun dia hanya diam dan berkata dalam hati, *Maaf, Za. Aku harus ngorbanin kamu buat ngubah masa depan.* Mereka terus berbincang-bincang sampai tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Mobil keluarga Pak Joshua berlalu pergi meninggalkan kediaman Sulis. Sebelum mereka berpisah, Sulis sempat meminta nomor ponsel Reza, walaupun yang dia dapat tatapan tajam dari Reza dulu. "Haah, kayaknya bakal susah nih." gumamnya. Tanpa Sulis sadari kedua orang tuanya mendengar apa yang ia katakan, "Cie ... gimana, Lis? Reza ganteng kan?" ledek Bu Mira. Wajah Sulis memerah, "Duh ... apa sih Bu." Bu Mira tertawa kecil. "Bu, besok Ayah mau ketemu klien jadi bakal pulang telat." Sulis menoleh dengan cepat, "IKUT!" teriaknya. Pak Andre mengernyit, "Ikut ke mana?" "Ikut Ayah ketemu klien. Sulis mau sekalian belajar." ucapnya tanpa ragu. Pak Andre dan Bu Mira saling menatap heran. "Ya udah kalo gitu, besok bangun pagi ya, jangan telat!" Mata Sulis berbinar, "Oke, Yah!" ia pun menaiki tangga dengan bersemangat. "Anakmu kenapa sih?" tanya Pak Andre. Bu Mira hanya mengangkat bahu. BUK! Sulis meletakkan buku hariannya di atas meja, ia pun duduk dengan pena di tangan, bersiap untuk menulis. "Oke ... kalo gitu kita susun rencana dulu buat besok." Ia membuka bukunya dan mulai menulis judul "Rencana untuk menggagalkan kejatuhan bisnis keluarga.""Silahkan duduk." Om Indra menuntun Pak Andre dan kliennya, Pak Toni, ke salah satu meja kafe yang tak terlalu ramai. Selang beberapa menit, Sulis masuk mengenakan jaket besar dan tebal milik ayahnya yang tertinggal di kursi belakang mobil. Penutup kepala dan masker menutupi hampir seluruh wajahnya. Ia berjalan menunduk dan duduk di meja kosong di sebelah ayah dan omnya. Sulis mengambil ponselnya, jarinya begitu sibuk mengutak-atik layar. Pak Andre menangkap sosok yang memakai jaket di sebrang mejanya. Matanya menyipit seolah memperhatikan detail yang ia kenal ada di pakaian itu. Namun Pak Andre tak ambil pusing. Ia mengangkat tangan kepada waiters dan memesan minuman untuk kedua rekannya. Map tebal terbuka di atas meja, memperlihatkan gambar perumahan yang sempurna. Pak Toni duduk bersandar dengan senyum tipis di wajahnya. "Jadi begini, Pak Andre ... sebenarnya sudah lama saya punya lahan ini, lokasinya strategis dan di sekitarnya juga ramai. Cuma baru bisa saya kembangkan sek
Sulis menutup buku diarinya. Ia meregangkan badan yang kaku karena terlalu lama duduk dan menulis. "Ternyata banyak juga yang harus dilakuin." Ia bersandar ke kursi, menatap langit-langit rumah dengan tatapan penuh harap. "Takdirku bisa berubah nggak yah?"Cukup lama Sulis termenung, hingga akhirnya dia duduk tegak dan mulai membaca rencana pertama. "Nggak, pasti berubah. Aku bakal mulai sama rencana yang pertama dulu, cegah ayah biar nggak ketemu sama Om Indra di tukang sate." ujarnya yakin.***Jalanan pagi itu dipenuhi kendaraan yang bergerak tertib, Sulis memandangi dunia dari balik jendela. Kosong. Sementara pikirannya berkelana ke mana-mana. Pak Andre sesekali melirik dari belakang kemudi, "Ada yang kamu pikirin, Lis?" Sulis terperanjat kaget, ia menoleh dan melempar senyum lebar, "Nggak, Yah. Cuma kepikiran skripsi." "Hmm ..." Pak Andre mengangguk. "Tumben kamu mau ikut Ayah, biasanya kamu main sama temen-temen kamu." Sulis menatap jalanan di depannya, ingatan tentang teman
Setelah beberapa saat Sulis terdiam, ponselnya bergetar, bertanda pesan masuk. Nama Rohmat terpampang jelas tepat di depan layar. "Gimana Lis? Kamu jadi dijodohin hari ini?" isi chat dari orang yang paling ingin Sulis hindari. Sulis mengernyit. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang sambil menghela napas panjang, "Lagi pusing-pusingnya malah dapet chat dari orang kayak dia." Sulis menopang dagunya dengan tangan dan siku bertumpu di pahanya, "Gimana caranya biar aku bisa putus sama Rohmat dan juga nggak dijodohin?" Suara detik jam dinding terasa memekakan telinga, Bu Mira dan Pak Andre tengah sibuk mempersiapkan jamuan untuk tamu saat Sulis masih termenung. Pikirannya terus bergelut dengan waktu, sampai akhirnya ia bangkit dari duduknya. "Oke! Begitu aja!" ucapnya dengan bersemangat. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai keluarga Pak Joshua sampai di depan rumah Sulis. "Bu, anakmu mana?" tanya Pak Andre yang belum melihat Sulis dari pagi. "La
"Gue berharap... gue bukan anak lo." Suara Ridwan pelan dan dalam, namun terasa lebih menohok dan menyakitkan dari suara tinggi Rohmat. Ridwan berlalu pergi, meninggalkan Sulis yang masih membeku, tak tahu harus bereaksi apa. Air mata Sulis jatuh tanpa diminta.Ridwan membanting pintu dengan keras.BRAK!Sulis terperanjat kaget, ia tersadar dari lamunannya. Sunyi. Tatapan Sulis mendadak kosong. "A-anakku..." Tanpa sadar, ia bersandar ke dinding. Lututnya terasa lemas hingga membuat tubuhnya merosot perlahan ke lantai. Tangannya gemetar hebat. Dan tak lama, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Tubuhnya meringkuk. Bukan karena sakit fisik, tapi sesak di dada akibat luka yang tak terlihat. Isakannya terdengar lirih, begitu menyayat hati. Anak yang dulu ia sayangi sepenuh hati, kini berubah membencinya. Bahkan tak mengharapkan kehadirannya. *** Langit malam itu terasa lebih gelap dari biasanya. Tidak ada sinar bulan, hanya kepulan awan hitam. Sinar kilat menyambar, menyibak kege
PRANG! Pecahan gelas terlempar kemana-mana. Sulis refleks menutup mata dan telinganya dengan kuat. Tubuhnya gemetar dan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Pecahan beling kecil terpental ke kakinya, meninggalkan goresan yang lumayan dalam di kulit. Erangannya ia tahan, ia tahu apa yang akan terjadi jika suaranya terdengar ke luar rumah. Udara di ruangan itu terasa menekan dada Sulis. Rohmat, suaminya, berdiri dengan tangan mengepal. Dadanya naik turun. Rahangnya mengeras setelah melempar gelas yang berisi kopi ke lantai. "Otak lo kemana? Itu kopi rasanya asin!" teriak Rohmat. "M-maaf, Mas. Saya salah ambil toples..." Napas Sulis tercekat, ia mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan bicaranya. "...lagian saya belum tidur Mas, jadi mata saya berkunang-kunang." Rohmat mengangkat tangannya tinggi-tinggi. PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi kiri Sulis. Saking kerasnya, Sulis sampai terjatuh ke lantai. "Alesan aja lo, sialan. Istri nggak berguna!" Rohmat meraih kerudung Su







