Share

Bab 3 Rencana

Author: Xuxi Law
last update publish date: 2026-04-23 13:14:59

Setelah beberapa saat Sulis terdiam, ponselnya bergetar, bertanda pesan masuk. Nama Rohmat terpampang jelas tepat di depan layar. "Gimana Lis? Kamu jadi dijodohin hari ini?" isi chat dari orang yang paling ingin Sulis hindari.

Sulis mengernyit. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang sambil menghela napas panjang, "Lagi pusing-pusingnya malah dapet chat dari orang kayak dia."

Sulis menopang dagunya dengan tangan dan siku bertumpu di pahanya, "Gimana caranya biar aku bisa putus sama Rohmat dan juga nggak dijodohin?"

Suara detik jam dinding terasa memekakan telinga, Bu Mira dan Pak Andre tengah sibuk mempersiapkan jamuan untuk tamu saat Sulis masih termenung. Pikirannya terus bergelut dengan waktu, sampai akhirnya ia bangkit dari duduknya. "Oke! Begitu aja!" ucapnya dengan bersemangat.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai keluarga Pak Joshua sampai di depan rumah Sulis. "Bu, anakmu mana?" tanya Pak Andre yang belum melihat Sulis dari pagi. "Lagi siap-siap, Yah!" Bisik Bu Mira panik.

"Assalamualaikum..." Pak Joshua mengetuk pintu.

"Waalaikumsalam..."

Pak Andre berlari kecil menuju pintu, dan ketika pintu terbuka, terlihat Pak Joshua dan sang istri berdiri dengan parsel buah di tangan mereka.

Pak Andre mempersilahkan mereka masuk. Pak Joshua dan istri langsung melangkah masuk tanpa ragu. Tapi tidak dengan anak mereka, ia tampak ragu walau wajahnya terlihat datar. "Nak, ayo masuk!" bisik sang ibu melototi anak sulungnya itu.

Dengan helaan napas panjang, anak laki-laki Pak Joshua masuk dengan langkah yang berat. Walau begitu, ia berusaha menjaga ekspresinya di depan kedua orang tua Sulis.

Pak Andre dan Bu Mira menerima buah tangan yang diberikan keluarga Pak Joshua. Setelah meletakkannya di atas meja, Pak Andre merangkul dan menepuk pundak teman lamanya itu. "Apa kabar Jo?"

"Haha, baik... baik..." tawa keakraban mereka mengubah suasana canggung menjadi kehangatan.

"Kenalin, ini istri gue, Santi..."Pak Joshua menunjuk istrinya dengan telapak tangan. Bu Santi tersenyum dan menyalami Pak Andre dan Bu Mira. "... dan ini anak sulung gue, Reza." sambung Pak Joshua memperkenalkan anaknya.

Reza menyalami Pak Andre dan Bu Mira. "Ya ampun, Reza ... udah lama nggak liat kamu, sekarang tambah ganteng ya." ujar Bu Mira dengan tangan yang masih menggenggam tangan Reza. "Makasih tante." Reza tersenyum dengan canggung.

Mereka semua duduk di ruang tamu, asisten rumah tangga keluarga Pak Andre muncul dari dapur dan menyajikan teh hangat di atas meja.

"Kemana Sulis, Dre? Belum kelihatan." Pak Joshua membuka obrolan. Bu Mira membeku sejenak setelah beberapa detik duduk di sofa, "Sulis lagi siap-siap, Pak. Maklum namanya anak muda, pasti pengen tampil semaksimal mungkin."

Tak lama, langkah kaki dari lantai atas terdengar mendekat. "Nah, itu dia anaknya." ucap Bu Mira.

Sulis menuruni anak tangga dengan anggun. Ia mengenakan celana kulot dan kaos tangan panjang berwarna coklat yang ditutupi tunik tipis mengikuti gerak langkah kakinya, serta pashmina coklat muda menutupi kepalanya.

Pak Joshua dan Bu Sinta memandangi Sulis tanpa berkedip, tapi tidak dengan Reza. Ia menatap Sulis dengan wajah datar yang sulit diartikan.

Pak Joshua bangkit berdiri, "Wah, keponakan Pak Jo udah besar ya." ujarnya. Sulis menyalami Pak Joshua, Bu Sinta, dan yang terakhir Reza. Ia menangkap kalau Reza tak menatapnya sama sekali. Dalam sepersekian detik Reza langsung menarik tangannya dari genggaman Sulis.

Sulis mengerutkan dahi. Semua orang menyaksikannya dalam diam. Pak Joshua berdehem kecil mengalihkan suasana, "Nak Sulis, gimana kabarnya, sehat?" Sulis menjatuhkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan Reza, "Sehat, om."

Ketika kedua orang tua mereka sibuk saling bertanya kabar, Reza terus fokus dengan ponselnya. Alis tebal menukik, mata dalam yang tajam, rahang tegas serta hidung mancung dan bibir tipis, tanpa sadar Sulis memperhatikan Reza lekat-lekat.

"Gimana, Sulis?" ujar Pak Andre. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba itu memecah lamunan Sulis. Karena fokus memperhatikan Reza ia sampai tak mendengar percakapan apa yang mereka bicarakan. "Ya?" jawab Sulis bingung.

Reza masih memperhatikan ponselnya. Pak Andre menatap putrinya, "Kamu mau Ayah jodohkan sama Reza ..."

"Puufft." Reza menyemburkan teh yang diminumnya ke samping. Pernyataan itu membuatnya meletakkan ponselnya dan mulai mendengarkan percakapan orang tuanya, "Apa?"

"Reza!" bentak Bu Sinta, "kamu apa-apaan sih! Lap mulut kamu pake tisu!" Reza menyeka mulutnya dan bertanya lagi, "Apa maksudnya Om?"

"Tujuan kita ke sini buat menjodohkan kalian berdua." jawab Pak Joshua santai. "Makanya kalau ada orang tua ngobrol tuh dengerin, hp terus!" ucap Bu Sinta gemas.

Sulis hanya memperhatikan mereka dalam diam. Kenyataannya, Reza pun tak ingin dijodohkan dengannya. Tanpa kabur dengan Rohmat pun mungkin perjodohan ini tidak akan terjadi.

Reza bangkit berdiri, "Ayah, kenapa nggak diskusi dulu di rumah? Ayah tahu kan, kalau-"

"Cukup!" tegas Pak Joshua. "Reza, duduk!"

Reza kembali duduk dengan kesal, membuat suasana canggung dalam sekejap. "Ayah ke sini bukan mau minta persetujuan kamu, tapi Sulis." sambung Pak Joshua.

"Saya?" Sulis heran. "Iya, Nak. Gimana? Kamu mau jadi menantu Pak Jo?" tanya Pak Andre pelan.

Sulis menatap mata kedua orang tuanya, mata mereka penuh harap, dan ketika ia beralih menatap Reza, Reza sudah memandanginya seperti predator yang siap menerkam mangsa. Tatapannya dingin dan menusuk. Namun hal itu tak menggoyahkan rencana Sulis untuk merubah takdirnya. Dan rencananya dimulai dengan perjodohan ini. "Iya Yah, Sulis mau."

Suasana pun pecah menjadi kehangatan. Kedua orang tua mereka begitu senang dengan satu kalimat yang Sulis lontarkan. Berbeda dengan Reza, ekspresinya seperti menunjukkan kekalahan telak.

Sulis menggigit bibirnya. Ia tahu persis raut wajah Reza mengartikan apa. Namun dia hanya diam dan berkata dalam hati, *Maaf, Za. Aku harus ngorbanin kamu buat ngubah masa depan.*

Mereka terus berbincang-bincang sampai tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Mobil keluarga Pak Joshua berlalu pergi meninggalkan kediaman Sulis. Sebelum mereka berpisah, Sulis sempat meminta nomor ponsel Reza, walaupun yang dia dapat tatapan tajam dari Reza dulu.

"Haah, kayaknya bakal susah nih." gumamnya. Tanpa Sulis sadari kedua orang tuanya mendengar apa yang ia katakan, "Cie ... gimana, Lis? Reza ganteng kan?" ledek Bu Mira. Wajah Sulis memerah, "Duh ... apa sih Bu." Bu Mira tertawa kecil.

"Bu, besok Ayah mau ketemu klien jadi bakal pulang telat."

Sulis menoleh dengan cepat, "IKUT!" teriaknya. Pak Andre mengernyit, "Ikut ke mana?"

"Ikut Ayah ketemu klien. Sulis mau sekalian belajar." ucapnya tanpa ragu. Pak Andre dan Bu Mira saling menatap heran. "Ya udah kalo gitu, besok bangun pagi ya, jangan telat!"

Mata Sulis berbinar, "Oke, Yah!" ia pun menaiki tangga dengan bersemangat. "Anakmu kenapa sih?" tanya Pak Andre. Bu Mira hanya mengangkat bahu.

BUK!

Sulis meletakkan buku hariannya di atas meja, ia pun duduk dengan pena di tangan, bersiap untuk menulis. "Oke ... kalo gitu kita susun rencana dulu buat besok." Ia membuka bukunya dan mulai menulis judul "Rencana untuk menggagalkan kejatuhan bisnis keluarga."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 18 Temui di taman

    Keesokan malamnya, Pak Andre dan Sulis diam-diam sibuk di ruang makan ketika Bu Mira sedang pergi. Kardus-kardus lama dibuka, foto-foto jadul berserakan di meja."Itu jangan dilipat, Yah!" ujar Sulis cepat saat ayahnya asal menaruh foto."Iya iya ..." Pak Andre mengangguk, ia malah gugup sendiri.Sulis menghela napas kecil. Baru kali ini ia melihat ayahnya tegang seperti murid yang takut dipanggil guru BP.Di tengah tumpukan barang, Sulis menemukan sebuah surat lusuh dengan tulisan tangan Bu Mira di sampulnya. "Mira untuk Andre." Sulis mengangkat alis. "Ayah masih nyimpen beginian?"Wajah Pak Andre langsung memerah, ia salah tingkah dan merebut suratnya cepat dari tangan Sulis. "Jangan dibaca!"Sulis malah terkekeh kecil. Untuk sesaat, suasana yang tadinya suram sedikit membaik oleh kehangatan."Nah, bagus." ucap Sulis bertolak pinggang. "Kita pakai semua ini.""Pakai buat apa?""Bikin ibu inget kalau hubungan kalian nggak dibangun sehari dua hari."Pak Andre menatap anaknya lama. Mat

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 17 Rumah yang hancur

    Rumah itu kembali sunyi. Hanya ketegangan yang menekan, tak ada yang berani memulai pembicaraan.Napas Bu Mira memburu, tangannya masih bergetar sambil mengepal erat. Ia terus memunggungi suaminya sambil memijat kening. Langkahnya terhenti di dekat sofa, tangannya langsung berpegangan di sana.Pak Andre hanya berdiri kaku, tak bisa menyangkal. Meski begitu akhirnya ia memberanikan diri memanggil istrinya. "Bu ..."Tak ada jawaban dari Bu Mira. Satu detik. Dua detik. Hening. Bahkan Sulis yang masih berdiri di dekat pintu refleks menahan napas.Setelah Bu Mira menghela napas panjang, ia berbalik, menatap mata suaminya dalam-dalam. "Kamu tahu kan apa konsekuensinya kalau kamu selingkuh?""Kamu salah paham Bu, aku belum ngapa-ngapain sama Rini!" Pak Andre maju selangkah, mencoba mendekat. "Dia yang masuk ke ruang kerja dan ngerayu aku.""Terus kenapa kamu ngumpetin cewek itu di bawah meja?" suara Bu Mira mulai bergetar."Aku nggak mau kamu berpikiran macem-macem, jadi pas kalian pergi aku

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 16 Berantakan

    Pak Andre buru-buru membuka pintu, tampak Bu Mira sedang berjongkok merapihkan pecahan gelas di lantai. "Eh, Mas, maaf ya ganggu, tadi tanganku licin jadi gelasnya jatoh." ujar Bu Mira.Pak Andre terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk takut ketahuan. "Katanya kamu udah tidur?" pria itu asal bicara karena panik.Tangan Bu Mira mendadak berhenti bergerak, ia menoleh cepat, "Kata siapa?"Mata Pak Andre membulat, ia sudah salah bicara. "Eh ... nggak ..., biasanya kan kamu tidur jam segini."Bu Mira menyipitkan mata, "Loh, ini kan masih sore," ia bangkit setelah selesai membereskan pecahan gelas dan membuangnya ke tempat sampah. "Biasanya kan aku bikinin Mas kopi dulu.""Nggak usah!" ujar Pak Andre cepat, suaranya sedikit meninggi, membuat Bu Mira semakin curiga. "Kenapa?""Itu ... aku ..." Mata pria itu bergetar memilih kata-kata. "... udah bikin sendiri." ucapnya gugup. Tatapan Bu Mira semakin lekat, ia melihat tangan suaminya sedikit gemetar."Kenapa Bu?" suara Sulis dari lantai atas me

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 15 Godaan wanita muda

    Bu Mira maju dan melangkah masuk. “Rini, kamu keluar pake baju kayak gini?”Rini langsung salah tingkah. Tangan yang tadi terlipat di dada turun dengan cepat, jari-jarinya buru-buru menarik ujung tanktop tipis yang seolah bisa tiba-tiba panjang sendiri. “E-enggak keluar kok, Tante ... cuma di rumah aja,” jawab Rini cepat dengan senyum yang dipaksakan.Sulis diam memerhatikan. Dalam hati ia sudah yakin kalau ayahnya bakal marah besar. Biasanya sedikit saja bajunya terlalu pendek, Pak Andre langsung menegur panjang lebar. Bahkan pernah menyuruhnya ganti pakaian sebelum duduk makan bersama.Namun sekarang ...Pak Andre justru berjalan santai melewati mereka. Tatapannya berhenti pada Rini, dan tak lama ia berlalu pergi.Rini menangkap perubahan sikap Pak Andre dari tatapan matanya. Dibalik wajah polosnya, ia mulai merencanakan sesuatu.Sulis mengernyit kecil, wajahnya terlihat jelas keheranan. Sikap tak biasa ayahnya menganggu pikirannya.Bu Mira menghela napas pelan. “Bukan masalah kelua

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 14 Rencana

    Sulis terbelalak melihat lebam di pipi kiri Fani. Ia langsung berlari dan memeluk Fani."Fani, maaf ... karena aku kamu jadi sasaran Rohmat." Sulis memeluk Fani erat membuat napas Fani tercekat."Udah, jangan kenceng-kenceng meluknya, Fani nggak bisa napas tuh." Reza duduk di kursi dekat pintu.Dengan cepat Sulis melepaskan pelukannya. "Eh, maaf Fani."Fani terbatuk. "Nggak papa kok mbak."Fani menatap Reza dan Sulis bergantian. "Mbak Sulis siapanya Reza?" tanyanya."Aku ...""Teman!" potong Reza.Fani tak langsung percaya, ia menatap Sulis dan bertanya lagi. "Bener mbak?"Sulis menoleh melirik Reza, Reza pura-pura sibuk memainkan ponsel. Sulis pun mengangguk. "Iya, kita temenan."Sulis duduk mendekat, ia menyentuh pipi Fani pelan. "Masih sakit?"Fani menggeleng. "Nggak. Cuma kebas aja.""Maafin Mbak ya, karena Mbak kamu jadi begini. Mbak nggak tahu kalau Rohmat malah nuduh kamu." ucap Sulis dengan suara sedikit bergetar sambil tertunduk malu.Fani meraih tangan Sulis dan menggenggamn

  • Kesempatan Kedua Sulis   Bab 13 Cewek berkaki besar

    "Selamat pagi, Pak Rudi." Pak Joshua maju selangkah menyalami Pak Rudi yang baru sampai. Pak Rudi menyambut sambil sedikit menunduk, senyum tipis terlihat di sudut bibirnya. "Pagi, Pak." Matanya langsung menangkap Rohmat yang tengah berlutut.Wajah Rohmat berubah pucat pasi ketika melihat tatapan Pak Rudi yang begitu dingin. Pak Rudi beralih menatap Pak Joshua. "Maaf Pak, sebenarnya kenapa dengan keponakan saya?" tanyanya sopan."Keponakan Anda sudah menampar keponakan saya. Jadi saya beri dia sedikit pelajaran." ujar Pak Joshua.Ekspresi murka tampak jelas di wajah Pak Rudi, namun ia berusaha menutupinya dengan senyuman kaku. "Ah, maafkan saya karena tak bisa mengawasi tingkah keponakan saya, sekarang saya akan beri dia pelajaran ...""Jangan." potong Pak Joshua menghentikan gerak tubuh Pak Rudi. "Saya sudah cukup memberi pelajaran padanya, anda cukup didik dia agar tak berurusan dengan keluarga saya lagi." sambungnya.Pak Joshua melangkah mendekat, kini jarak di antara mereka hanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status