เข้าสู่ระบบSulis menutup buku diarinya. Ia meregangkan badan yang kaku karena terlalu lama duduk dan menulis. "Ternyata banyak juga yang harus dilakuin." Ia bersandar ke kursi, menatap langit-langit rumah dengan tatapan penuh harap. "Takdirku bisa berubah nggak yah?"
Cukup lama Sulis termenung, hingga akhirnya dia duduk tegak dan mulai membaca rencana pertama. "Nggak, pasti berubah. Aku bakal mulai sama rencana yang pertama dulu, cegah ayah biar nggak ketemu sama Om Indra di tukang sate." ujarnya yakin. *** Jalanan pagi itu dipenuhi kendaraan yang bergerak tertib, Sulis memandangi dunia dari balik jendela. Kosong. Sementara pikirannya berkelana ke mana-mana. Pak Andre sesekali melirik dari belakang kemudi, "Ada yang kamu pikirin, Lis?" Sulis terperanjat kaget, ia menoleh dan melempar senyum lebar, "Nggak, Yah. Cuma kepikiran skripsi." "Hmm ..." Pak Andre mengangguk. "Tumben kamu mau ikut Ayah, biasanya kamu main sama temen-temen kamu." Sulis menatap jalanan di depannya, ingatan tentang teman-teman yang meninggalkannya ketika ia kesulitan dulu memenuhi pikirannya. "Nggak, Yah. Aku nggak mau berteman sama mereka lagi." Sulis menyilangkan tangannya di dada, matanya beralih melihat keluar jendela di sampingnya. "Kamu berantem sama mereka?" Pak Andre heran. "Nggak." jawab Sulis singkat. Pak Andre hanya menghela napas, ia memahami anaknya yang tak ingin bercerita. Ketika laju mobilnya berjalan pelan mengikuti ritme jalanan yang begitu ramai, Sulis melihat Rohmat berjalan bersama temannya, Rini. "Rohmat?" Sulis tak sadar kalau ia memanggil nama mantan suaminya itu dengan suara yang cukup keras, nama Rohmat terdengar jelas oleh ayahnya. "Siapa Rohmat?" Sulis menoleh cepat, ia panik mencari alasan, "Eh, itu ... temen Sulis, Yah." Pak Andre hanya mengangguk mengiyakan kata putrinya, sementara Sulis bergulat dengan isi kepalanya. *Mau ke mana Rohmat sama Rini? Kenapa mereka sedekat itu?* Tanpa sadar Sulis meremas tali tas kecil yang sedang ia kenakan, *Aku harus selidikin mereka nanti.* Hari mulai semakin terik ketika mobil yang dikendarai Pak Andre dan Sulis berhenti di pinggir jalan, di depan gerobak tukang sate. Kepulan asapnya memenuhi udara, menutupi wajah seseorang yang semakin mendekat ke arah mobil mereka. Raungan mobil mereda, Sulis menyipitkan mata dan baru menyadari kalau ia sudah sampai di tukang sate. "Loh, kok Ayah ke sini? Katanya mau ketemuan sama klien?" "Iya, Ayah jemput Om kamu dulu di sekitar sini, baru kita ke kafe ngomongin bisnis sama klien." jawab Pak Andre santai. Sulis lengah, karena sejak tadi ia hanya memperhatikan ponselnya, ia tak memperhatikan ke mana arah kendaraannya berhenti. Sulis menggigit bibirnya. Yang ia tahu, ayahnya akan bertemu pamannya setelah bertemu klien. Tapi ternyata salah. Rencananya untuk menghindari tukang sate gagal sebelum dimulai. Tok! tok! Ketukan di kaca mobil membuat Sulis tersentak, Ternyata Om Indra sudah berada di sebelah mobil mereka. Pak Andre membuka kaca mobil perlahan. "Bang Indra!" panggilnya sumringah. Pak andre mengulurkan tangan untuk berjabatan, hal itu disambut hangat oleh Om Indra. "Hey, Dre. Lama nggak ketemu." Tak lama, pandangan Om Indra teralihkan ketika matanya menangkap Sulis yang duduk di samping ayahnya. "Loh, itu Sulis?" Sulis mengangguk dan tersenyum canggung, "Iya, Om." "Kamu lupa sama keponakan sendiri, Bang?" Tanya Pak Andre. Om Indra bertolak pinggang, "Gimana nggak lupa? Anakmu tumbuh cantik begitu, pasti banyak lelaki yang antri." Mereka berdua tertawa layaknya keluarga yang sedang bercanda, namun tidak dengan Sulis. Baru melihat wajah pamannya saja, ia sudah muak dan ingin sekali mencaci maki. "Ayo masuk, di mana ketemu klien barunya?" Ajak Pak Andre. "Dia nunggu di kafe X" Om Indra memutari mobil mereka dan berhenti di depan pintu depan yang Sulis tempati. *Ngapain dia muter begitu? Di belakang ayah kan ada pintu.* gumam Sulis tak habis pikir. "Sulis, pindah ke belakang." ucap Om Indra dengan nada menyuruh. Sulis membeku. "Ngapain pindah? Saya maunya di depan Om." Sulis berusaha terlihat polos dan menjawab dengan lembut, padahal dalam hatinya ia berdecak kesal tak karuan. "Sulis, pindah." tegas Pak Andre. Mau tak mau, Sulis menurut. Ia pun pindah ke belakang sesuai perintah ayahnya dengan raut wajah kesal. Di sepanjang jalan, Pak Andre dan Om Indra terlihat sangat akrab. Mereka tertawa bahkan untuk hal yang sepele, membuat Sulis sempat berpikir kalau saja ia tak datang dari masa depan, mungkin ia tak percaya sama sekali kalau Om Indra yang menghancurkan bisnis keluarganya. Sesampainya mereka di tempat pertemuan, seorang pria sudah menunggu. Map tebal di atas meja, baju kemeja rapi dan senyum ramah dari pria itu menyambut kedatangan mereka. Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri, hingga tiba giliran Sulis, pria itu sedikit ragu walau tangan mereka tetap berjabatan. "Maaf, siapa ini? Perjanjiannya kan cuma sama Pak Andre?" Pak Andre merangkul pundak Sulis, "Ini anak saya, Pak." Om Indra dan pria itu saling memandang, "Maaf Pak, untuk urusan bisnis sebaiknya hanya kita bertiga saja yang tahu." ujar pria itu. "Bener, Dre. Biar Sulis tunggu di mobil aja." sahut Om Indra. Sulis mengangkat sebelah alisnya, *Hoo, mereka takut ya?* "Ayah ..." Pak Andre langsung menoleh mendengarkan putrinya, "... Saya mau belajar bisnis dari Ayah, jadi saya mau lihat gimana cara Ayah dapet klien." "Nggak bisa, Sulis ..." ucap Om Indra, matanya sedikit bergetar, "... ini obrolan orang tua, kamu duduk aja di mobil." Sulis mengerutkan dahi, *Iikh, aku kan nanya sama ayah, kenapa dia sok nyuruh terus sih!* "Sudah, sudah, jangan ribut di sini. Sulis, kamu tunggu di mobil aja ya, belajar bisa kapan-kapan nanti." Dengan ekspresi tak percaya, Sulis langsung pergi dengan menghentakkan kaki. Pak Andre yang melihat Sulis marah sedikit merasa tak enak hati. Om Indra menepuk pundak Pak Andre, "Udah biarin aja, Dre. Namanya juga anak-anak, ntar juga ilang ngambeknya." "Kalau begitu bisa kita mulai sekarang?" tanya sang klien. "Iya, bisa bisa. Mari." Pak Andre memberi jalan dan mereka pun masuk ke dalam. Sulis memperhatikan mereka dari dalam mobil, "Gimana ini? Gimana caranya aku masuk dan cegah Ayah biar nggak ketipu?" Matanya menyisir setiap sudut mobil, sampai akhirnya ia menemukan sesuatu yang bisa membantunya masuk. "Pokoknya aku harus masuk, gimanapun caranya!"Keesokan malamnya, Pak Andre dan Sulis diam-diam sibuk di ruang makan ketika Bu Mira sedang pergi. Kardus-kardus lama dibuka, foto-foto jadul berserakan di meja."Itu jangan dilipat, Yah!" ujar Sulis cepat saat ayahnya asal menaruh foto."Iya iya ..." Pak Andre mengangguk, ia malah gugup sendiri.Sulis menghela napas kecil. Baru kali ini ia melihat ayahnya tegang seperti murid yang takut dipanggil guru BP.Di tengah tumpukan barang, Sulis menemukan sebuah surat lusuh dengan tulisan tangan Bu Mira di sampulnya. "Mira untuk Andre." Sulis mengangkat alis. "Ayah masih nyimpen beginian?"Wajah Pak Andre langsung memerah, ia salah tingkah dan merebut suratnya cepat dari tangan Sulis. "Jangan dibaca!"Sulis malah terkekeh kecil. Untuk sesaat, suasana yang tadinya suram sedikit membaik oleh kehangatan."Nah, bagus." ucap Sulis bertolak pinggang. "Kita pakai semua ini.""Pakai buat apa?""Bikin ibu inget kalau hubungan kalian nggak dibangun sehari dua hari."Pak Andre menatap anaknya lama. Mat
Rumah itu kembali sunyi. Hanya ketegangan yang menekan, tak ada yang berani memulai pembicaraan.Napas Bu Mira memburu, tangannya masih bergetar sambil mengepal erat. Ia terus memunggungi suaminya sambil memijat kening. Langkahnya terhenti di dekat sofa, tangannya langsung berpegangan di sana.Pak Andre hanya berdiri kaku, tak bisa menyangkal. Meski begitu akhirnya ia memberanikan diri memanggil istrinya. "Bu ..."Tak ada jawaban dari Bu Mira. Satu detik. Dua detik. Hening. Bahkan Sulis yang masih berdiri di dekat pintu refleks menahan napas.Setelah Bu Mira menghela napas panjang, ia berbalik, menatap mata suaminya dalam-dalam. "Kamu tahu kan apa konsekuensinya kalau kamu selingkuh?""Kamu salah paham Bu, aku belum ngapa-ngapain sama Rini!" Pak Andre maju selangkah, mencoba mendekat. "Dia yang masuk ke ruang kerja dan ngerayu aku.""Terus kenapa kamu ngumpetin cewek itu di bawah meja?" suara Bu Mira mulai bergetar."Aku nggak mau kamu berpikiran macem-macem, jadi pas kalian pergi aku
Pak Andre buru-buru membuka pintu, tampak Bu Mira sedang berjongkok merapihkan pecahan gelas di lantai. "Eh, Mas, maaf ya ganggu, tadi tanganku licin jadi gelasnya jatoh." ujar Bu Mira.Pak Andre terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk takut ketahuan. "Katanya kamu udah tidur?" pria itu asal bicara karena panik.Tangan Bu Mira mendadak berhenti bergerak, ia menoleh cepat, "Kata siapa?"Mata Pak Andre membulat, ia sudah salah bicara. "Eh ... nggak ..., biasanya kan kamu tidur jam segini."Bu Mira menyipitkan mata, "Loh, ini kan masih sore," ia bangkit setelah selesai membereskan pecahan gelas dan membuangnya ke tempat sampah. "Biasanya kan aku bikinin Mas kopi dulu.""Nggak usah!" ujar Pak Andre cepat, suaranya sedikit meninggi, membuat Bu Mira semakin curiga. "Kenapa?""Itu ... aku ..." Mata pria itu bergetar memilih kata-kata. "... udah bikin sendiri." ucapnya gugup. Tatapan Bu Mira semakin lekat, ia melihat tangan suaminya sedikit gemetar."Kenapa Bu?" suara Sulis dari lantai atas me
Bu Mira maju dan melangkah masuk. “Rini, kamu keluar pake baju kayak gini?”Rini langsung salah tingkah. Tangan yang tadi terlipat di dada turun dengan cepat, jari-jarinya buru-buru menarik ujung tanktop tipis yang seolah bisa tiba-tiba panjang sendiri. “E-enggak keluar kok, Tante ... cuma di rumah aja,” jawab Rini cepat dengan senyum yang dipaksakan.Sulis diam memerhatikan. Dalam hati ia sudah yakin kalau ayahnya bakal marah besar. Biasanya sedikit saja bajunya terlalu pendek, Pak Andre langsung menegur panjang lebar. Bahkan pernah menyuruhnya ganti pakaian sebelum duduk makan bersama.Namun sekarang ...Pak Andre justru berjalan santai melewati mereka. Tatapannya berhenti pada Rini, dan tak lama ia berlalu pergi.Rini menangkap perubahan sikap Pak Andre dari tatapan matanya. Dibalik wajah polosnya, ia mulai merencanakan sesuatu.Sulis mengernyit kecil, wajahnya terlihat jelas keheranan. Sikap tak biasa ayahnya menganggu pikirannya.Bu Mira menghela napas pelan. “Bukan masalah kelua
Sulis terbelalak melihat lebam di pipi kiri Fani. Ia langsung berlari dan memeluk Fani."Fani, maaf ... karena aku kamu jadi sasaran Rohmat." Sulis memeluk Fani erat membuat napas Fani tercekat."Udah, jangan kenceng-kenceng meluknya, Fani nggak bisa napas tuh." Reza duduk di kursi dekat pintu.Dengan cepat Sulis melepaskan pelukannya. "Eh, maaf Fani."Fani terbatuk. "Nggak papa kok mbak."Fani menatap Reza dan Sulis bergantian. "Mbak Sulis siapanya Reza?" tanyanya."Aku ...""Teman!" potong Reza.Fani tak langsung percaya, ia menatap Sulis dan bertanya lagi. "Bener mbak?"Sulis menoleh melirik Reza, Reza pura-pura sibuk memainkan ponsel. Sulis pun mengangguk. "Iya, kita temenan."Sulis duduk mendekat, ia menyentuh pipi Fani pelan. "Masih sakit?"Fani menggeleng. "Nggak. Cuma kebas aja.""Maafin Mbak ya, karena Mbak kamu jadi begini. Mbak nggak tahu kalau Rohmat malah nuduh kamu." ucap Sulis dengan suara sedikit bergetar sambil tertunduk malu.Fani meraih tangan Sulis dan menggenggamn
"Selamat pagi, Pak Rudi." Pak Joshua maju selangkah menyalami Pak Rudi yang baru sampai. Pak Rudi menyambut sambil sedikit menunduk, senyum tipis terlihat di sudut bibirnya. "Pagi, Pak." Matanya langsung menangkap Rohmat yang tengah berlutut.Wajah Rohmat berubah pucat pasi ketika melihat tatapan Pak Rudi yang begitu dingin. Pak Rudi beralih menatap Pak Joshua. "Maaf Pak, sebenarnya kenapa dengan keponakan saya?" tanyanya sopan."Keponakan Anda sudah menampar keponakan saya. Jadi saya beri dia sedikit pelajaran." ujar Pak Joshua.Ekspresi murka tampak jelas di wajah Pak Rudi, namun ia berusaha menutupinya dengan senyuman kaku. "Ah, maafkan saya karena tak bisa mengawasi tingkah keponakan saya, sekarang saya akan beri dia pelajaran ...""Jangan." potong Pak Joshua menghentikan gerak tubuh Pak Rudi. "Saya sudah cukup memberi pelajaran padanya, anda cukup didik dia agar tak berurusan dengan keluarga saya lagi." sambungnya.Pak Joshua melangkah mendekat, kini jarak di antara mereka hanya
Setelah berbelok ke dalam gang, Sulis memegangi dadanya yang naik turun karena panik, ia menghela napas panjang karena berhasil lolos.Ia melirik dari balik dinding, tidak ada seorang pun yang mengejarnya, "Untung aja nggak ada yang ngejar, kalau dikira maling beneran bisa mati aku." gumamnya.Suli
Suasana kafe sangat ricuh, semua orang memandangi tempat mereka berdiri. Bisik-bisik memenuhi udara di ruang publik itu.Sulis memperhatikan punggung Om Indra. Napasnya tersengal layaknya orang yang hampir ketahuan mau menipu."Saya emang kenal Pak Toni dari lama, tapi saya nggak tahu kalau dia itu
"Silahkan duduk." Om Indra menuntun Pak Andre dan kliennya, Pak Toni, ke salah satu meja kafe yang tak terlalu ramai. Selang beberapa menit, Sulis masuk mengenakan jaket besar dan tebal milik ayahnya yang tertinggal di kursi belakang mobil. Penutup kepala dan masker menutupi hampir seluruh wajahn
Setelah beberapa saat Sulis terdiam, ponselnya bergetar, bertanda pesan masuk. Nama Rohmat terpampang jelas tepat di depan layar. "Gimana Lis? Kamu jadi dijodohin hari ini?" isi chat dari orang yang paling ingin Sulis hindari. Sulis mengernyit. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dan menjatuhkan d







