Cahaya matahari yang menusuk dari celah gorden apartemen terasa seperti sembilu yang menyayat mata Camelia. Ia mengerang malas, menarik bantal untuk menutupi wajahnya, namun denyut di pelipisnya tidak bisa diajak kompromi. Efek sisa whisky dan bir semalam benar-benar menghantamnya tanpa ampun. Dengan gerakan sangat lambat, ia bangkit duduk dan segera berjalan keluar kamar, membiarkan rambutnya yang berantakan menutupi wajah."Sudah bangun, Cantik?" suara bariton Restu terdengar dari arah dapur, diikuti aroma kopi dan roti panggang.Camelia berjalan sempoyongan, hanya untuk menemukan pemandangan yang lebih berantakan dari kepalanya. Kenzo masih terkapar di sofa dengan posisi kepala menggantung ke lantai, mendengkur halus seolah-olah dunia tidak sedang berputar bagi orang lain. Restu, di sisi lain, sudah tampak segar meski matanya masih sedikit merah. Pria itu menyodorkan segelas air lemon hangat dan sebutir aspirin ke hadapan Camelia."Minum ini. Nyawa kamu sepertinya masih tertingg
Terakhir Diperbarui : 2026-05-06 Baca selengkapnya