Deru mesin jip tua itu membelah suara gemuruh angin laut dan rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi. Eryx menginjak pedal gas dalam-dalam, melajukan kendaraan itu melintasi jalur berkerikil menembus rapatnya hutan pinus. Di kursi samping kemudi, Aeri duduk bersiaga, senapan otomatis masih terpangku di atas pangkuannya sambil matanya terus meneliti kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan musuh yang menyusul.Di kursi belakang, kedua orang tua Aeri saling bergenggaman tangan rapat-rapat. Raut ketakutan masih membayang di wajah mereka setelah mendengar rentetan tembakan yang memekakkan telinga beberapa menit lalu, namun tatapan haru dan lega tak lepas dari punggung putri mereka."Mereka tidak mengejar kita," bisik Aeri, perlahan menurunkan senjatanya. Ketegangan di bahunya mendadak meluruh, memicu rasa perih yang melilit dari luka-luka memar di sekujur tubuhnya.Eryx meliriknya sejenak, melepas satu tangannya dari roda kemudi untuk meraih jemari Aeri. "Bagus. Ozias bukan tipe pr
Read more