Eryx menepis kasar tangan Selena dari kerahnya, melangkah mundur satu blok marmer untuk menegaskan batas di antara mereka. Tatapannya laksana pedang beralur es yang siap menguliti kebohongan adiknya. "Kau tidak pernah melakukan apa pun demi orang lain kecuali dirimu sendiri, Selena. Jangan menjual kata 'tulus' di hadapanku."Selena terengah kecil, menatap tangannya yang baru saja dihempaskan. Alih-alih murka, ia justru mengembuskan napas panjang, mengubah raut wajahnya menjadi topeng kerapuhan yang teramat manipulatif. Ia menatap Eryx dengan sepasang mata yang berkaca-kaca."Kau salah, Eryx," ucap Selena, suaranya melunak, bergetar oleh emosi yang tertahan. "Kali ini aku bersungguh-sungguh. Semua yang kulakukan di balik layar—memalsukan dokumen itu, menahan informasi dari publik—adalah karena aku ingin kebahagiaan untukmu. Aku ingin kau naik takhta tanpa ada batu sandungan yang bisa menghancurkanmu!""Kebahagiaanku?" Eryx menyangkalnya dengan tawa hambar yang memotong kalimat Selena t
اقرأ المزيد