“Nek, nenek!” panggil Carmen sok akrab, suaranya sedikit terburu-buru, seperti orang yang sedang dikejar sesuatu yang tidak terlihat.Tak lama kemudian, muncullah nenek itu dari arah samping rumah, menenteng ember berisi air. Langkahnya pelan, tapi stabil. Wajahnya tenang, seolah tidak ada hal di dunia ini yang perlu diburu.“Sini aku bantu,” ujar Carmen cepat, langsung mengambil ember itu dari tangan sang nenek tanpa menunggu jawaban.Nenek itu sedikit mengernyit, heran dengan sikap Carmen yang tiba-tiba datang dan langsung sigap seperti itu.“Ada apa?” tanya sang nenek, memperhatikan wajah Carmen yang terlihat sedikit pucat.“Ehmm … enggak apa-apa … aku hanya iseng aja, mau main. Nenek enggak ke mana-mana kan?” tanya Carmen, berusaha terdengar santai meski napasnya belum sepenuhnya teratur.Dia membawa ember itu ke warung kecil milik nenek. Warung itu terpisah dari rumah utama,
Magbasa pa