Share

Tujuh Puluh

Author: Khody Didi
last update publish date: 2026-06-15 10:47:11

70

Carmen benar-benar berterima kasih pada siapa pun itu penemu mesin cuci, sehingga dia bisa sesantai ini mengerjakan pekerjaan mencucinya. Duduk bersila di lantai yang masih sedikit lembap, Dia menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap mesin cuci yang berputar pelan seperti sebuah keajaiban kecil dalam hidupnya yang kini berubah drastis.

Suara putaran mesin itu terdengar konstan. Tidak berisik, tidak mengganggu. Justru terasa menenangkan.

Untuk pertama kalinya sejak

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Lima

    “Nek, nenek!” panggil Carmen sok akrab, suaranya sedikit terburu-buru, seperti orang yang sedang dikejar sesuatu yang tidak terlihat.Tak lama kemudian, muncullah nenek itu dari arah samping rumah, menenteng ember berisi air. Langkahnya pelan, tapi stabil. Wajahnya tenang, seolah tidak ada hal di dunia ini yang perlu diburu.“Sini aku bantu,” ujar Carmen cepat, langsung mengambil ember itu dari tangan sang nenek tanpa menunggu jawaban.Nenek itu sedikit mengernyit, heran dengan sikap Carmen yang tiba-tiba datang dan langsung sigap seperti itu.“Ada apa?” tanya sang nenek, memperhatikan wajah Carmen yang terlihat sedikit pucat.“Ehmm … enggak apa-apa … aku hanya iseng aja, mau main. Nenek enggak ke mana-mana kan?” tanya Carmen, berusaha terdengar santai meski napasnya belum sepenuhnya teratur.Dia membawa ember itu ke warung kecil milik nenek. Warung itu terpisah dari rumah utama,

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Empat

    Setelah makan bersama Dandy tadi, Carmen tak makan lagi dia bahkan sangat tidak bernafsu makan. Perutnya kosong, tapi bukan itu yang paling dia rasakan. Ada sesuatu yang lebih berat, rasa takut yang terus mengendap di dadanya sejak pagi tadi.Dia hanya duduk di kamarnya. Dia melamun dan menatap kosong ke arah dinding yang mulai kusam. Pintu kamar itu dia kunci rapat. Bukan sekadar kebiasaan. Tapi kebutuhan. Dia tidak ingin siapa pun masuk.Terutama ayah mertuanya. Tak lama dari habis makan tadi pagi, Dandy pergi lagi dan rumah kembali sepi membuat Carmen kembali dihantui rasa takut.Setiap kali mengingat kejadian subuh tadi, jantung Carmen langsung berdegup lebih cepat. Tangannya terasa dingin, dan napasnya menjadi pendek. Dia bahkan beberapa kali mengecek pintu itu, memastikan benar-benar terkunci.Dia mengeceknya berkali-kali seolah jika dia lengah sedikit saja, sesuatu buruk akan terjadi.Waktu terasa berjalan lambat. Cahaya matahari yang masuk

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Tiga

    Carmen baru ke luar kamar setelah memastikan bahwa orang-orang sudah pergi semua. Dia membuka pintu perlahan, hanya sedikit celah, mengintip ke luar seperti seseorang yang takut tertangkap basah. Rumah terasa sunyi, tidak ada suara percakapan, tidak ada langkah kaki, hanya suara kipas angin tua yang berputar di ruang tengah.Dia menarik napas lega. Namun, rasa lega itu tidak sepenuhnya dia rasakan.Bayangan kejadian subuh tadi masih terus menghantuinya. Wajah ayah mertuanya, tatapan tajam itu, suara yang menyudutkan ... semuanya masih terasa begitu nyata. Bahkan saat ini, Carmen masih bisa merasakan panas di wajahnya karena malu.Dia menggigit bibir. Tidak.Dia tidak akan menceritakan ini ke Keanu. Dia bahkan sudah bisa membayangkan reaksi suaminya. Bukan membela apalagi menenangkan. Keanu pasti akan marah dan menyalahkannya.Dia pasti akan menganggapnya ceroboh dan tidak bisa menjaga diri. Dan Carmen … tidak sanggup menerima itu.Dia

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Dua

    Keanu tiba-tiba mendekat, membungkam kata-katanya dengan ciuman yang datang tanpa peringatan. Gerakannya tergesa, penuh dorongan emosi yang sulit dipahami Carmen.Dia tidak sempat bereaksi. Tubuhnya menegang, napasnya tersendat.Tangannya yang terikat membuatnya tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menggerakkan kakinya dengan gelisah. Dia mencoba menyesuaikan diri, mencoba memahami, tapi semuanya terasa terlalu cepat, terlalu memaksa.Keanu seperti melampiaskan sesuatu. Bukan sekadar kedekatan, bukan sekadar keinginan. Ada kemarahan yang tidak diucapkan juga tekanan yang tidak disalurkan.Dan Carmen … hanya menjadi tempatnya. Keanu hampir merobek pakaiannya dengan kasar, membiarkan tubuh Carmen tak berbusana dengan tangan terikat.Lalu dengan cepat dia melampiaskan hasratnya yang diliputi kemarahan, Carmen belum siap. Miliknya kembali terasa perih seperti saat awal menikah. Lalu dengan kasar Keanu memuntahkan cairan tubuhnya di atas tubuh C

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Satu

    Keanu belum pulang ke rumah di saat hari sudah mulai malam, dan suasana rumah itu perlahan berubah menjadi sunyi. Lampu di lorong menyala redup, memantulkan bayangan samar di dinding yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian.Dari kamar berukuran kecil di bagian belakang rumah, kamar yang kini ditempati Carmen, dia bisa mendengar suara benda berat yang terseret dari arah dapur. Bunyi gesekan itu kasar, seperti logam bertemu lantai semen yang tidak rata.Penasaran, sekaligus merasa tidak tenang, Carmen pun bangkit dari tempat tidurnya. Dia melangkah perlahan keluar kamar, membuka pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Udara malam terasa lembap, sedikit pengap karena ventilasi yang tidak terlalu baik. Saat dia sampai di ambang dapur, pandangannya langsung tertuju pada kedua mertuanya yang sedang menyeret mesin cuci ke dalam rumah.Ukuran mesin cuci itu memang cukup besar dan berat, sehingga ayah Keanu harus menariknya dengan tenaga penuh, semen

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh

    70Carmen benar-benar berterima kasih pada siapa pun itu penemu mesin cuci, sehingga dia bisa sesantai ini mengerjakan pekerjaan mencucinya. Duduk bersila di lantai yang masih sedikit lembap, Dia menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap mesin cuci yang berputar pelan seperti sebuah keajaiban kecil dalam hidupnya yang kini berubah drastis.Suara putaran mesin itu terdengar konstan. Tidak berisik, tidak mengganggu. Justru terasa menenangkan.Untuk pertama kalinya sejak Dia tinggal di rumah ini, Carmen tidak perlu membungkuk terlalu lama, tidak perlu meremas kain berkali-kali sampai tangannya perih, dan tidak perlu menahan pegal di pinggang yang terasa seperti akan patah.Dia menghela napas pelan, lalu meraih ponselnya. Layarnya menyala. Seperti refleks, jarinya langsung membuka media sosial. Sudah lama dia tidak benar-benar melihat dunia luar, dunia yang dulu begitu dekat dengannya.Scroll.Satu per satu story teman-temannya muncul.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status