Malam pertama sebagai Wakil Direktur Pelaksana tidak terasa seperti kemenangan yang selama ini aku bayangkan. Aku duduk di balik meja jati besar di dalam penthouse, menatap dokumen restrukturisasi yang baru saja kutandatangani. Di sampingku, segelas anggur merah yang dituangkan Arkana masih tak tersentuh, warnanya yang pekat mengingatkanku pada cara Pandu menatapku tadi sore, hancur, berdarah, dan penuh dendam.Aku menyentuh bibirku yang masih terasa sedikit bengkak akibat ciuman Arkana. Jabatan ini, kekuasaan ini, semuanya terasa seperti mahkota yang terbuat dari duri. Semakin erat aku memakainya, semakin dalam ia menusuk kulitku. Aku telah menyelamatkan rekan-rekanku, tapi aku juga telah menjadi orang yang mereka takuti."Berhenti memikirkan pecundang itu, Anindya," suara Arkana muncul dari kegelapan ruang tengah.Ia berjalan mendekat, hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka. Ia tampak lelah, namun matanya teta
Última actualización : 2026-05-06 Leer más