Langkah kakiku di atas lantai marmer lobi keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta pagi ini terdengar begitu konstan. Di genggaman tangan kiriku, paspor dan tiket penerbangan kelas bisnis menuju Singapura terasa dingin. Arkana berjalan di sampingku, mengenakan setelan kasual formal kelabu tua tanpa dasi. Di depan publik, ia tampak seperti seorang mentor yang sedang mengantar tangan kanannya untuk sebuah ekspansi besar. Namun, genggaman tangannya yang erat di siku lenganku adalah pengingat bahwa rantai emas ini tidak pernah benar-benar dilepaskan."Pihak investor di Singapura tidak sekaku para komisaris tua di Jakarta, Anindya," ucap Arkana, suaranya rendah, nyaris tenggelam di antara pengumuman keberangkatan bandara. "Mereka lebih agresif. Mereka akan menguliti setiap detail laporan keuangan yang kau bawa.""Aku sudah menghafal setiap angka dan celah di dalam laporan itu, Arkana," jawabku tanpa menoleh padanya, mataku lurus menatap gerbang pemeriksaan.
Última actualización : 2026-05-16 Leer más