เข้าสู่ระบบAku hanya ingin satu malam pelarian untuk melupakan pengkhianatan mantan kekasihku. Sialnya, pria yang kutemui di bar dan hampir tidur denganku semalam adalah Arkana Wijaya, eksekutor perusahaan yang dikirim untuk memecat seluruh departemenku. Sekarang aku harus berhadapan dengannya di ruang rapat jam delapan pagi atau karierku berakhir saat itu juga.
ดูเพิ่มเติม"Lagi," kataku pada bartender, sambil menyodorkan gelas martini kosong yang keempat.
Pria di balik bar itu menatapku ragu. "Mbak, ini sudah terlalu banyak untuk satu malam." "Aku ke sini untuk minum, bukan untuk mendengar khotbah kesehatan," jawabku dingin. Aku tidak butuh simpati dari siapa pun malam ini. Tepat saat gelas akan kembali diisi, sebuah tangan besar dengan jemari yang terawat rapi menahan gerakan sang bartender. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal mendadak menyerbu indra penciumanku, begitu dominan hingga menembus kabut alkohol di kepalaku. "Air putih untuknya. Masukkan tagihannya ke mejaku," suara itu berat, rendah, dan memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah. Aku menoleh dengan sisa-sisa kesadaran yang kupunya. Di hadapanku, berdiri seorang pria dengan jas hitam yang dipotong sempurna, membungkus bahu yang lebar dan kokoh. Tatapan matanya setajam elang, seolah-olah ia bisa melihat langsung ke dalam lubang hitam yang baru saja tercipta di dadaku. Ia tidak tampak seperti pria yang biasa menghabiskan waktu untuk mengasihani orang asing. "Siapa kamu? Berhenti mencampuri urusanku," usirku sambil mencoba mendorong bahunya yang keras seperti batu. "Orang asing yang terganggu karena caramu menghancurkan diri merusak pemandangan di bar ini," jawabnya tenang tanpa bergeser satu inci pun. Sejujurnya, aku punya alasan kuat untuk menghancurkan diri malam ini. Beberapa jam lalu, tujuh tahun hidupku resmi kumasukkan ke dalam tempat sampah setelah melihat foto Pandu menyematkan cincin di jari wanita lain. Tujuh tahun aku menjadi pondasi kariernya, mencicilkan mobilnya, hingga membayari kursusnya agar dia bisa sukses seperti sekarang. Namun, setelah di puncak, aku dibuang demi wanita "pilihan keluarga" yang dianggap lebih setara secara kasta. Itulah sebabnya aku berada di sini, menatap pria asing ini dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia melangkah lebih dekat, menunduk hingga bibirnya berada tepat di samping telingaku. "Ikut aku. Aku bisa membuatmu lupa kalau pria bernama Pandu itu pernah ada di dunia ini." Aku menatap matanya yang gelap sedalam obsidian. Di titik terendah ini, tawaran itu terdengar seperti satu-satunya pelarian yang kutunggu-tunggu. "Tanpa nama. Tanpa janji," tantangku dengan napas yang mulai tidak beraturan. "Tanpa hari esok," balasnya dengan senyum tipis yang terasa mematikan sekaligus menggoda. Ia menuntunku keluar dari bar menuju lift khusus yang langsung membawa kami ke lantai penthouse. Keheningan di dalam lift itu terasa begitu menyesakkan, dipenuhi oleh ketegangan fisik yang membuat kulitku meremang. Sesampainya di dalam ruangan luas yang hanya diterangi lampu kota, ia tidak membuang waktu. Pintu tertutup dengan suara klik yang final, seolah mengunci dunia luar di belakang kami. Ia menekanku ke dinding, kedua tangannya mengurung tubuhku dengan posesif. Napasnya terasa panas di kulit leherku saat ia meraup bibirku dengan ciuman yang kasar dan penuh tuntutan. Tangannya mulai merayap liar ke tengkukku, dan aku siap menyerahkan segalanya untuk pelarian sesaat ini. Aku ingin terbakar, aku ingin hilang, dan aku ingin orang asing ini menghapus setiap jejak Pandu dari ingatanku. Namun, tepat sebelum segalanya menjadi tak terkendali, ia berhenti secara mendadak. Ia menarik diri, menatapku dengan kilat mata yang seketika berubah menjadi dingin dan penuh perhitungan. Gairah yang tadi memenuhi ruangan seolah lenyap, digantikan oleh suasana kaku yang mencekam. Ia merapikan jam tangan mahalnya dengan gerakan yang sangat tenang. "Akting yang cukup meyakinkan di bar tadi, Anindya Larasati," ucapnya dengan nada profesional yang mengerikan. Aku membeku, seluruh darahku seolah berhenti mengalir. "Kamu... bagaimana kamu tahu namaku? Kita sepakat tanpa identitas." "Tentu saja aku tahu. Aku tidak pernah melakukan transaksi, atau interaksi, tanpa memeriksa latar belakangnya lebih dulu," ia menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. Ia merapikan dasinya tanpa rasa bersalah sedikit pun, sementara aku berdiri di sana dengan napas yang masih terengah-engah dan perasaan malu yang memuncak. "Sampai jumpa di ruang rapat besok jam delapan pagi, Anindya," ucapnya dingin. "Pastikan presentasimu besok jauh lebih memuaskan daripada caramu menggoda pria asing di bar." Duniaku runtuh untuk kedua kalinya dalam semalam. Otakku baru saja menyadari satu hal yang seharusnya kulihat sejak awal dari logo di kartu aksesnya. Pria ini adalah Arkana Wijaya. Dia adalah liquidator atau eksekutor perusahaan yang dikirim untuk memangkas departemenku, dan baru saja aku goda habis-habisan!Aku terbangun tepat saat cahaya abu-abu fajar menyusup melalui celah gorden kamar hotel yang asing. Kepalaku berdenyut, sisa dari ketegangan semalam yang tidak kunjung surut. Aku menoleh ke sisi tempat tidur yang kosong, menyadari Arkana benar-benar menepati ucapannya untuk tidak menyentuhku lebih jauh semalam.Pukul enam pagi lewat dua menit, aku sudah berdiri di ruang tengah dengan pakaian yang sedikit kusut namun tetap rapi. Arkana sudah di sana, duduk di sofa sambil menyesap kopi hitam tanpa gula, matanya tertuju pada tablet yang menampilkan grafik penurunan saham perusahaanku."Kamu terlambat dua menit dari jadwal bangun yang saya instruksikan di kepala saya," ucapnya tanpa menoleh sedikit pun.Aku tidak menjawab, hanya berdiri kaku sambil menunggu instruksi selanjutnya. Pria ini tidak butuh asisten yang pintar menjawab; dia butuh asisten yang patuh dan bisa bergerak cepat.Perjalanan menuju kantor terasa seperti menuju tiang gantungan. Begitu kami melangkah masuk ke lobi, s
Lampu-lampu kota Jakarta tampak seperti aliran cahaya yang kabur dari balik jendela mobil Arkana. Aku duduk membatu di kursi penumpang, meremas jemariku yang terasa dingin sementara pria di sampingku mengemudi dengan ketenangan yang memuakkan.Kami tidak menuju ke kantor lain, melainkan ke hotel bintang lima di mana ia menyewa kamar suite permanennya. Aku tahu apa yang mungkin terjadi, dan anehnya, ada bagian dari diriku yang lebih memilih kehancuran ini daripada harus pulang ke apartemen sepi dan mengingat wajah Pandu."Turun," ucapnya singkat setelah mobil berhenti sempurna di lobi pribadi.Aku mengikutinya masuk ke dalam lift yang bergerak cepat menuju lantai teratas. Keheningan di antara kami terasa begitu tebal hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu liar.Begitu pintu kamar terbuka, Arkana melemparkan kunci mobilnya ke atas meja marmer. Ia berbalik, menatapku dengan sorot mata yang tidak lagi sedingin saat di ruang rapat tadi siang."Kamu punya waktu
Hujan turun membasahi Jakarta tepat saat jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku berdiri di depan lobi gedung perkantoran yang sudah mulai sepi, meremas tali tas bahuku hingga jemariku memutih.Lantai paling atas gedung ini adalah tempat di mana Arkana Wijaya menghabiskan malamnya untuk membedah nasib perusahaan orang lain. Aku sempat berpikir untuk lari, memblokir nomornya, dan menghilang dari kota ini selamanya.Namun, wajah rekan-rekan setimku yang tadi pagi menatapku penuh harap terus terbayang di kepala. Jika aku tidak datang, besok pagi mereka semua akan menjadi pengangguran karena kesalahanku di malam itu.Aku melangkah keluar dari lift dan disambut oleh keheningan koridor yang terasa mencekam. Di ujung ruangan, melalui dinding kaca yang luas, aku bisa melihat sosok Arkana yang sedang berdiri membelakangiku, menatap lampu-lampu kota."Anda terlambat dua menit, Anindya," suaranya memecah kesunyian tanpa perlu menoleh sedikit pun.Aku menelan ludah, mencoba mengatu
Aku hanya punya waktu tiga jam untuk memejamkan mata dalam ketakutan. Begitu alarm berbunyi, aku langsung mandi air dingin, berharap rasa menggigil ini bisa melunturkan sisa aroma kayu cendana yang masih menempel di kulitku.Pakaian formal yang kupakai pagi ini terasa seperti baju zirah yang sesak. Di depan cermin, aku memoles lipstik merah sedikit lebih tebal untuk menutupi bibirku yang masih terasa sensitif akibat kejadian semalam."Kamu bisa, Anindya. Jangan biarkan dia menang," bisikku pada bayangan di cermin, meski jantungku berdegup tidak keruan.Tepat jam delapan pagi, aku sudah berdiri di depan pintu ruang rapat utama. Seluruh rekan timku tampak pucat karena mereka tahu hari ini adalah penentuan apakah divisi pemasaran akan tetap ada atau dilikuidasi selamanya.Pintu terbuka, dan aroma yang sangat kukenali itu kembali menyerang indra penciumanku. Di sana, di kursi utama, duduk pria yang semalam menekanku ke dinding penthouse-nya dengan penuh gairah.Arkana Wijaya tampil s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.