Hujan turun membasahi Jakarta tepat saat jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku berdiri di depan lobi gedung perkantoran yang sudah mulai sepi, meremas tali tas bahuku hingga jemariku memutih.Lantai paling atas gedung ini adalah tempat di mana Arkana Wijaya menghabiskan malamnya untuk membedah nasib perusahaan orang lain. Aku sempat berpikir untuk lari, memblokir nomornya, dan menghilang dari kota ini selamanya.Namun, wajah rekan-rekan setimku yang tadi pagi menatapku penuh harap terus terbayang di kepala. Jika aku tidak datang, besok pagi mereka semua akan menjadi pengangguran karena kesalahanku di malam itu.Aku melangkah keluar dari lift dan disambut oleh keheningan koridor yang terasa mencekam. Di ujung ruangan, melalui dinding kaca yang luas, aku bisa melihat sosok Arkana yang sedang berdiri membelakangiku, menatap lampu-lampu kota."Anda terlambat dua menit, Anindya," suaranya memecah kesunyian tanpa perlu menoleh sedikit pun.Aku menelan ludah, mencoba mengatu
Terakhir Diperbarui : 2026-04-23 Baca selengkapnya