Jarak yang tersisa di antara kami hanya hitungan milimeter. Aku bisa mencium aroma kopi hitam dan mint dari napas Arkana, bercampur dengan wangi maskulin yang kini mulai masuk ke dalam mimpinya setiap malam. Pria ini baru saja mengunci pintu kantor, mengubah ruangan mewah ini menjadi penjara pribadi bagi kami berdua.Aku mencoba mengatur napas, namun dadaku naik turun dengan tidak beraturan. Tatapan Arkana tidak lagi sedingin es; ada percikan api yang menyala di sana, jenis api yang siap menghanguskanku jika aku berani melangkah lebih dekat."Pak Arkana, ini kantor," bisikku parau, mencoba mengembalikan sisa-sisa kewarasanku.Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya yang besar justru berpindah dari telingaku ke tengkuk, mencengkeramnya dengan tekanan yang pas, tidak menyakitkan, namun penuh peringatan bahwa aku tidak punya jalan untuk kabur."Di kantor ini, aku adalah hukumnya, Anindya," suaranya rendah, menggetarkan saraf di tulang belak
Last Updated : 2026-05-01 Read more