"Kau melangkah terlalu jauh ke dalam ruang gelapku, Anindya," geramnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang mematikan. Ia maju satu langkah, mencengkeram pinggangku dengan kasar, menarik tubuhku hingga menempel pada kemeja hitamnya yang hangat oleh peluh. "Aku menyukai taringmu, tapi jika kau menggunakannya untuk menggigitku, aku tidak akan ragu untuk mencabutnya dari mulutmu." "Maka cabutlah, Arkana!" teriakku pelan, memukul dadanya dengan tinjuku yang bergetar. "Hancurkan aku seperti kau menghancurkan Pandu! Tapi ingat, kali ini kau tidak menghadapi wanita lemah di bar kotor itu. Aku memegang kendali atas Singapura sekarang!" Arkana tidak menjawab dengan ancaman baru. Ia justru membungkam bibirku dengan ciuman yang brutal, lapar, dan penuh dengan dominasi yang mutlak. Lidahnya menjelajah dengan paksa, meruntuhkan seluruh argumen korporat dan kewarasan yang kutampilkan di depan para komisaris tadi. Aku mengerang rendah di dalam tenggorokannya, ta
Última actualización : 2026-05-25 Leer más