"Nyonya, kenapa Anda melamun?" Gu Qingran yang sejak tadi duduk di jendela kamarnya menghadap kolam teratai yang tenang di bawah cahaya bulan purnama langsung tersentak. Dia menoleh cepat, dan mendapati Chen Duhan berdiri dengan makanan di atas nampan. "Duhan, aku tidak melamun." Chen Duhan menaruh baki berisi makanan di atas meja. Lalu duduk bersimpuh di sisi ranjang. "Hamba melihat Nyonya jadi pendiam akhir-akhir ini. Apa ada sesuatu yang Nyonya pikirkan?" Gu Qingran diam untuk sesaat. Sekarang dia membutuhkan teman untuk bercerita, dan satu-satunya orang yang bisa dia percaya adalah Chen Duhan. "Duhan, aku ingin bertanya sesuatu?" "Hamba akan menjawab semampu hamba, Nyonya." Gu Qingran berdiri, lalu berjalan ke arah ranjang, kemudian duduk di sana. Napasnya terhela pasrah ketika dia menunduk, lalu kembali menatap Chen Duhan. "Duhan, sudah berapa lama kau bekerja di kediaman menteri, dan menjadi pelayan setiaku?" Meskipun di ingatan Gu Qingran asli dia sudah tahu, jika Che
Leer más