Di aula utama Kediaman Gu, tempat itu sudah ramai dipadati oleh para pengawal, dan keluarga besar Gu. Gu Jixuan berdiri di depan, dengan Lu Anxi yang dipaksa berlutut oleh para pengawal. Gu Yanli hanya bisa diam, sembari menutup mulutnya tak percaya. Dia kira, Lu Anxi si wanita putih teratai adalah wanita lemah lembut, ternyata dia menyimpan bangkai di dalamnya. Tidak jauh di sana, Nyonya Tua Gu—Gu Lanying—mencengkeram tongkat gioknya, nyaris membuat urat-urat di tangannya mencuat. Wajahnya memerah, bagaimanapun dia sangat menyukai Lu Anxi dan menganggap hal ini adalah fitnah keji. "Jixuan, apa yang kau lakukan! Nona Lu adalah wanita terhormat, tapi kau malah menyeretnya seperti sampah. Kau membuatnya malu, Jixuan!" teriak Gu Lanying. Tongkatnya dihentakkan beberapa kali, hingga belum sempat Gu Jixuan menjawab, sosok Gu Qingran muncul sembari menggandeng tangan Gu Jinyi. "Memalukan? Ibu apa tidak tahu apa yang wanita ini lakukan padaku?" "Qingran, jangan coba memfitnah
Leer más