Aroma cendana langsung menguar di indera penciuman Gu Qingran ketika wanita itu membuka mata. Dia tidak lagi di hutan tempat pembunuh bayaran itu menyerang, melainkan di kamarnya—Paviliun Teratai. Begitu dia menoleh, suara kecil Gu Jinyi langsung menyambutnya. "Ibu, Ibu jangan mati. Ibu baik-baik saja, kan? Jinyi tidak mau Ibu pergi." Gu Qingran tersenyum begitu lembut, lalu memeluk putranya. Entah kenapa, ketika memeluk bocah itu rasanya begitu hangat. Ada perasaan nyaman yang tak bisa dia ucapkan dengan kata-kata. "Jinyi, itu tidak apa-apa. Ibu baik-baik saja, ibu hanya lelah." Gu Jinyi melepaskan pelukan ibunya, lalu mengelus lembut pipi seputih pualam wanita itu. "Ibu, aku takut. Para pengawal bilang, ibu dihadang oleh para perampok. Untung saja ayah datang menyelamatkan ibu." Gu Qingran hanya bisa mengangguk dengan kikuk, dalam hati dia berkata, 'Apanya yang ditolong oleh Gu Jixuan. Aku sendiri yang menghabisi para pembunuh itu. Tapi sudahlah, asalkan Jinyi senang, berb
Leer más