"Kenapa kamu menyembunyikannya, Liora?" bisik Xavier parau. Ia melangkah cepat, meraih kedua pundak ringkih gadis itu, lalu menahannya agar menatap langsung ke dalam manik mata elangnya yang kini berkaca-kaca. "Kamu bahkan ikut baku tembak dan melompat dari mobil dengan kondisi rusuk patah dan kaki seperti ini?! Apa kamu sudah gila?!"Liora sempat tertegun melihat kilat frustrasi, amarah, dan luka yang teramat dalam di mata Xavier. Namun, bukannya menangis ketakutan atau mengeluh sakit, seulas senyum tipis—senyuman yang terasa sangat getir namun begitu tenang—perlahan terbit di bibir pucatnya."Aku tidak gila, calon suamiku," sahut Liora lirih. Suaranya terdengar begitu datar dan tenang, seolah rasa sakit ragawi memang benar-benar sudah mati rasa di dalam dirinya. "Di dalam sana, jika kamu menunjukkan rasa sakit, mereka justru akan semakin menginjakmu tanpa ampun. Jika kamu menangis, mereka akan menyiksamu dengan lebih brutal. Jadi, aku belajar untuk melupakan rasa sakit itu agar bisa
Leer más