LOGINLeon dan Deon tidak diperbolehkan melangkah masuk ke dalam ruang interogasi. Kedua pria itu hanya bisa duduk termenung di kursi tunggu koridor kantor polisi dengan jantung yang berdegup kencang nan cemas."Menurutmu... apa yang membuat keluarga kita hancur lebur seperti ini?" gumam Leon lirih, matanya menatap kosong ke arah lantai.Deon menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ada beban rasa bersalah yang teramat berat menindih dadanya."Kesalahannya ada pada kita sendiri," sahut Deon dengan suara serak. "Kita yang terlalu jahat dan zalim pada Liora. Kita tahu kebenaran di masa lalu, tapi kita justru memilih menutup mata. Kita menganggap keputusan Papi dan Mami adalah hal yang paling benar. Padahal... justru keputusan menzalimi Liora itulah yang menjadi awal hancurnya keluarga kita."Leon mengangguk pelan, menyetujui penyesalan adiknya. "Dan menurutmu... siapa penyebab utama dari seluruh kehancuran ini?""Mami," jawab Deon tanpa ragu."Bukan Cynthia?"Leon menggelengkan
Penyidik tidak membantah.Ia hanya mengambil sebuah laptop di atas meja.“Kalau begitu, mari kita dengarkan apa yang dikatakan wanita ini.”Sebuah rekaman diputar.Suara seorang narapidana perempuan terdengar jelas memenuhi ruangan.“Saya dibayar oleh Nona Cynthia.”Cynthia langsung membeku.“Dia meminta saya menyiksa Liora di dalam penjara.”Wajah Cynthia semakin pucat.“Dia membayar saya setiap kali saya melakukannya. Bahkan dia memberikan uang tambahan dan meminta saya membuat Liora mengalami luka parah agar wanita itu cacat.”“Tidak!”Cynthia langsung berteriak.“Itu bohong!”Penyidik menghentikan rekaman.“Masih mau mengatakan tidak mengenalnya?”Cynthia terdiam.Keringat dingin mengalir di pelipisnya.Penyidik kemudian menggeser beberapa lembar dokumen ke hadapannya.“Ini catatan transaksi.”Cynthia menatap dokumen tersebut.Nama pemilik rekening.Nomor rekening.Tanggal transaksi.Jumlah transfer.Semuanya tercatat dengan jelas.“Nona Cynthia, transaksi ini dilakukan secara ber
Leon dan Deon tidak diperbolehkan memasuki ruang interogasi.Keduanya hanya bisa duduk di deretan kursi tunggu di sepanjang koridor kantor polisi. Pintu ruang pemeriksaan yang tertutup rapat di hadapan mereka terasa seperti dinding pemisah antara masa lalu dan kenyataan yang kini harus mereka hadapi.Leon menatap lantai cukup lama.“Menurutmu...” suaranya terdengar lirih, “apa yang membuat keluarga kita hancur seperti ini?”Deon menarik napas panjang.Dadanya terasa sesak oleh penyesalan yang selama ini terus menghantuinya.“Kesalahannya ada pada kita sendiri.”Leon menoleh.Deon menundukkan kepala.“Kita terlalu jahat kepada Liora. Kita tahu banyak hal tentang masa lalu, tetapi memilih menutup mata karena lebih mudah mempercayai Papi dan Mami daripada mencari tahu kebenarannya.”Tangannya mengepal.“Kita selalu menganggap keputusan mereka benar. Padahal, keputusan untuk mengorbankan Liora justru menjadi awal dari semua ini.”Leon terdiam.Beberapa saat kemudian, ia mengangguk perlaha
Ruang pemeriksaan kantor kepolisian terasa teramat dingin dan mencekam. Di balik meja kayu tebal, seorang penyidik senior menatap lurus ke arah Cynthia dan Leli dengan pandangan tajam nan mengintimidasi.Cynthia memeluk tubuhnya sendiri, gemetar hebat dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya yang pucat. "Pak... tolong dengarkan aku! Itu semua salah paham! Bukan aku pelakunya! Malam itu Liora yang mengendarai mobil! Dia yang menabrak orang itu!" ceroscos Cynthia dengan suara bergetar panik, mencoba sekuat tenaga menyusun kebohongan baru."Cukup, Nona Cynthia," potong penyidik itu tegas. Ia memutar layar monitor komputer ke arah mereka. "Kami tidak butuh bualan Anda lagi. Perhatikan baik-baik!"Sebuah rekaman video definisi tinggi diputar. Gambar tersebut berasal dari kamera pengawas toko swalayan di seberang jalan yang selama ini disangka telah rusak dan tak menyisakan berkas. Di sana, terekam sangat jelas dari sudut samping: Cynthia keluar dari pintu kemudi dengan wajah pan
Sudah tiga hari Leli dan Cynthia menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat sabetan cambuk hukuman keluarga Dominic. Namun selama tiga hari itu pula, Martin tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di ruang rawat tersebut. Hanya Leon dan Deon yang bergantian datang menjenguk kondisi mereka. "Kenapa papimu sama sekali tidak mau datang menjenguk Mami?!" ceroscos Leli dengan raut wajah berang menahan nyeri di punggungnya. Leon menatap ibunya dengan pandangan dingin nan lelah. "Papi tegaskan Mami bukan lagi istrinya. Surat gugatan perceraian kalian sudah resmi didaftarkan Papi ke pengadilan." Mendengar hal itu, Leli seketika menjerit panik. "T-tidak! Mami tidak sudi bercerai dari papimu!" Baru detik ini rasa penyesalan yang teramat sangat menghantam kesadaran Leli. Selama ini ia sudah kelewat terbiasa hidup bergelimang kemewahan. Bagaimanakah nasib kehidupannya kelak tanpa adanya 'donatur' setia seperti Martin—pria yang selama puluhan tahun selalu menuruti setiap kegilaan dan keh
“Kamu yang menabrak orang itu, Cynthia. Kamu yang menyebabkan semuanya terjadi.” Suara Leon semakin tegas. “Jadi sekarang, kamu sendiri yang harus mempertanggungjawabkannya di hadapan hukum.”“T-tidak...” Cynthia menggeleng keras.Leon mengepalkan tangan.“Aku menyesal.”Cynthia menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.“Aku menyesal karena dulu ikut menutup mata. Aku menyesal pernah melindungimu dan membiarkan Liora menanggung kesalahan yang bukan miliknya.”“T-tidak! Aku tidak mau dipenjara!”Cynthia kembali menangis.Ia buru-buru merangkak ke arah Deon.“Kak Deon! Tolong aku! Aku takut!”Deon membeku.Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia bahkan tidak sanggup menatap mata Cynthia.“Belajarlah bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan.”“Kak...”“Dua tahun lalu, Liora harus membusuk di dalam penjara demi menanggung kesalahanmu.” Suara Deon bergetar, tetapi ia memaksa dirinya tetap tegas. “Sekarang... giliranmu menghadapi konsekuensinya.”Cynthia terisak semaki
Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya
Liora melangkah masuk ke dalam rumah.Langkahnya tenang.Namun tatapannya dingin.Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat in
Ada perubahan kecil di mata Dion.Hanya sesaat.Namun Liora melihatnya.Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.Pintu tertutup.Mesin menyala.Mobil mulai bergerak.Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.Cahaya pagi masuk melalui k
"Sayang, ayo kita pulang."Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.Namun,







