Kallias perlahan melangkah mendekat hingga hanya menyisakan sedikit jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu dengan gerakan yang begitu hati-hati menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipi Ishrina menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu begitu lembut hingga membuat Ishrina memejamkan mata sesaat.Bukan karena nyaman. Melainkan karena ia terlalu lelah untuk kembali menyembunyikan perasaannya."Mulai malam ini," ucap Kallias pelan, "kau tidak perlu lagi menghadapi semuanya seorang diri."Ishrina membuka matanya perlahan dan menatap pria itu. Selama bertahun-tahun ia mengenal Kallias sebagai seseorang yang dingin, keras kepala, dan nyaris tidak pernah memperlihatkan emosinya kepada siapa pun. Bahkan ketika mereka masih menjalin hubungan, pria itu lebih sering menunjukkan perhatian melalui tindakan daripada kata-kata.Karena itulah, setiap janji yang keluar dari mulutnya selalu memiliki arti yang jauh lebih besar."Aku sudah mengatakan kepadamu," lanjut Kallias denga
Read more