LOGINKekasihku, Grand Duke, akan menikah dengan wanita lain. Kupikir itu akhir dari kami. Aku salah. Alih-alih melepaskanku, dia justru memaksaku tetap di sisinya sebagai simpanannya!
View More“Kita sudahi saja hubungan ini.”
Suara Ishrina pelan, tapi jelas. Tidak bergetar, tidak ragu. Justru karena terlalu tenang, kalimat itu terasa lebih berat dari seharusnya.
Kallias yang sedang mengenakan jubahnya berhenti. Tangannya tertahan di udara, lalu perlahan turun. Ia menyibakkan rambut hitamnya ke belakang sebelum akhirnya berbalik.
Tatapan mata merah itu langsung jatuh pada Ishrina.
“Apa kau bilang?”
Nada suaranya rendah. Bukan bertanya, lebih seperti memastikan ia tidak salah dengar.
Ishrina tetap berdiri di tempatnya. Punggungnya tegak, meski jari-jarinya di balik lipatan gaun saling menggenggam erat.
“Aku dengar tentang pertunanganmu dengan Irish.”
Setelah mengatakan itu, ia sempat mengalihkan pandangan. Bukan karena takut, tapi karena ia sudah terlalu lelah untuk terus menatapnya.
Tiga tahun.
Selama itu ia berada di sisi Kallias. Pria itu bahkan tidak pernah memberi kejelasan tentang hubungan ini, tapi dirinya juga tidak pernah benar-benar dilepaskan. Dan bodohnya, Ishrina percaya itu cukup.
Ia pikir… pada akhirnya Kallias akan memilihnya, tapi ternyata tidak. Tiga hari lalu, semuanya runtuh begitu saja saat ia mendengar dari ayahnya bahwa Kallias, sang Grand Duke, menyetujui pertunangan dengan Irish, kakak tirinya sendiri.
Dan yang paling menyakitkan, ia tidak mendengarnya dari Kallias sendiri.
“Siapa yang memberitahumu?” tanya Kallias dingin.
Ishrina kembali menatapnya. “Itu tidak penting.”
Kallias menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk tipis. “Apa kau tidak terima?”
Jawaban itu terasa… kosong. Seolah yang terjadi bukan sesuatu yang perlu dibicarakan.
Ishrina menarik napas pelan. “Menurutmu?” katanya, “dari semua wanita… kenapa harus kakakku?”
Tatapan Kallias tidak berubah.
“Bukan urusanmu.” Jawaban itu singkat.
Dan jawaban itu cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Ishrina benar-benar jatuh. Ia diam sejenak. Mencerna. Lalu mengangguk pelan, lebih pada dirinya sendiri.
“Kalau begitu… seharusnya Anda tidak keberatan kalau kita mengakhiri ini, Yang Mulia”
Kali ini ia menatap Kallias lagi. Tatapannya lurus, tidak lagi mencari jawaban.
Kallias menyipitkan mata. Ia melangkah mendekat, sampai jarak di antara mereka nyaris hilang.
“Apakah ini caramu untuk menarik perhatianku?”
Tatapannya menembus, seolah mencoba membaca isi pikirannya.
Ishrina menatap Kallias yang kini berdiri tepat di depannya. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat jelas mata merah pria itu tajam, dingin, dan penuh tekanan seperti biasanya.
Dulu... tatapan itu selalu cukup untuk membuatnya menunduk. Namun kali ini, ia tetap berdiri tegak, tidak menghindar sedikit pun.
“Aku serius,” ucapnya pelan, namun jelas.
“Sudah kuduga!” suara Kallias langsung meninggi.
Amarah yang biasanya tersembunyi kini terlihat jelas di wajahnya. Ia sempat mengalihkan pandangan, seolah menahan sesuatu, tetapi dalam sekejap ia kembali bergerak.
Tanpa peringatan, tubuh Ishrina terdorong ke belakang hingga punggungnya membentur dinding. Napasnya tercekat sesaat. Belum sempat ia bereaksi, Kallias sudah mengurungnya, kedua tangannya bertumpu di dinding di sisi tubuh Ishrina, menutup semua jalan keluar.
Jarak di antara mereka terlalu dekat.
“Apa ini?” suara Kallias rendah, namun jelas penuh emosi. “Kau minta diakhiri hanya karena kau cemburu pada Irish?”
Ishrina menatapnya dalam diam sejenak. Meski dadanya masih terasa sesak, suaranya tetap tenang saat akhirnya menjawab,
“Aku hanya memberi jalan untukmu.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Kallias kehilangan kendali.
Bugh!
Tinju pria itu menghantam dinding tepat di samping kepala Ishrina. Suaranya keras, membuat tubuh Ishrina refleks menegang. Ia menahan napas, menyadari betapa dekatnya jarak itu.
“Kau pikir kau siapa, Ishrina?” suara Kallias turun, lebih dingin dan berbahaya. “Kau tidak punya pilihan.”
Ishrina menggeleng pelan. Gerakan kecil, tapi penuh kepastian. “Aku punya.”
Jawaban itu membuat ekspresi Kallias berubah. Amarahnya semakin jelas, dan Ishrina tahu pria itu sedang menahan diri. Ia bisa melihatnya dari sorot matanya, dan rahangnya yang mengeras.
Tiba-tiba, tangan Kallias mencengkeram pipinya. Kuat. Menyakitkan. Memaksanya tetap menatap lurus ke arahnya.
“Jangan memancing amarahku,” bisiknya rendah. “Kau tidak akan sanggup menghadapinya.”
Ishrina mengernyit sedikit, menahan rasa sakit itu. Namun ia tidak mencoba melepaskan diri. Tatapannya tetap bertahan, meski matanya mulai sedikit berkaca-kaca.
Cengkeraman itu sempat menguat, sebelum akhirnya Kallias berkata dengan suara yang jauh lebih dingin,
“Sampai kau mati… kau tetap milikku.”
Setelah mengatakan itu, Kallias perlahan melonggarkan cengkeramannya. Jari-jari yang tadi menekan pipi Ishrina kini justru bergerak lebih lembut, mengusapnya seolah ingin menghapus bekas yang ia tinggalkan sendiri.
Ishrina tidak bergerak. Ia hanya menatapnya dalam diam, mencoba memahami sosok di hadapannya yang selama ini ia yakini. Namun semakin lama ia menatap, semakin ia sadar bahwa Kallias tidak pernah benar-benar bisa ia pahami.
Kallias menghela napas pendek, lalu melepaskan tangannya sepenuhnya. Ia berbalik tanpa menunggu jawaban, seakan diamnya Ishrina sudah cukup untuk dianggap sebagai persetujuan.
“Bersiaplah. Aku akan mengantarmu pulang.”
Nada suaranya datar, seperti perintah yang tidak perlu dipertanyakan.
Ishrina tetap berdiri di tempatnya. Tangannya yang tersembunyi di balik lipatan gaun menggenggam erat kain itu, menahan sesak di dalam dadanya. Ia tidak menjawab, hanya melihat punggung Kallias yang perlahan menjauh.
Pria itu tidak menoleh.
Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan suara pelan yang menggema di ruangan yang kini terasa kosong.
Dan pada saat itulah, kekuatan yang selama ini ia paksa untuk bertahan perlahan runtuh. Ia terhuyung pelan sebelum akhirnya bersandar pada meja di dekatnya, jemarinya mencengkeram kuat permukaan kayu itu hingga buku-buku jarinya memutih.
Dadanya semakin sesak, hingga akhirnya ia tidak mampu menahan air matanya lagi.
Bahu Ishrina bergetar pelan. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan semua yang selama ini ia tahan akhirnya keluar begitu saja.
Kallias tahu segalanya tentang dirinya.
Pria itu tahu bahwa ibu Ishrina meninggal saat ia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. Ia juga tahu ayahnya membawa pulang wanita lain bersama seorang anak perempuan, yaitu Irish… dan menjadi kakak tirinya.
Sejak hari itu, hidup Ishrina berubah drastis.
Dengan wajah polosnya, Irish mengambil segalanya. Apa pun yang diinginkannya, selalu ia dapatkan. Sementara Ishrina hanya bisa terdiam melihat segala hal yang menjadi miliknya hilang perlahan.
Setelah mengambil segalanya, Irish kini mengambil Kallias juga.
Padahal Kallias adalah orang yang paling tahu.
Ia mengatupkan matanya erat.
Ishrina tertawa kecil di sela tangisnya. Bodohnya ia selama ini sudah percaya pada Kallias, bahwa pria itu akan selalu berada di pihaknya.
Pintu terbuka pelan.
Ishrina segera menghapus air matanya dan menoleh. Annie, pelayannya, masuk dan berjalan mendekat dengan langkah hati-hati.
“Nona,” ucapnya pelan, “Yang Mulia Grand Duke ada urusan. Beliau tidak bisa mengantar Anda pulang dan meminta Anda untuk menginap malam ini.”
Ishrina terdiam.
Dulu, alasan seperti itu hampir tidak pernah ada. Sekarang, justru terasa biasa. Ia mengalihkan pandangan sejenak. Entah sejak kapan, perhatian Kallias tidak lagi hanya untuknya.
“Katakan pada kepala pelayan… aku akan pulang.”
Kallias perlahan melangkah mendekat hingga hanya menyisakan sedikit jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu dengan gerakan yang begitu hati-hati menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipi Ishrina menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu begitu lembut hingga membuat Ishrina memejamkan mata sesaat.Bukan karena nyaman. Melainkan karena ia terlalu lelah untuk kembali menyembunyikan perasaannya."Mulai malam ini," ucap Kallias pelan, "kau tidak perlu lagi menghadapi semuanya seorang diri."Ishrina membuka matanya perlahan dan menatap pria itu. Selama bertahun-tahun ia mengenal Kallias sebagai seseorang yang dingin, keras kepala, dan nyaris tidak pernah memperlihatkan emosinya kepada siapa pun. Bahkan ketika mereka masih menjalin hubungan, pria itu lebih sering menunjukkan perhatian melalui tindakan daripada kata-kata.Karena itulah, setiap janji yang keluar dari mulutnya selalu memiliki arti yang jauh lebih besar."Aku sudah mengatakan kepadamu," lanjut Kallias denga
Ishrina tertegun.Countess Arlis menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum puas yang perlahan mengembang di bibirnya. Sorot matanya begitu tenang, seolah semua yang baru saja mereka bicarakan hanyalah urusan biasa yang tidak menyisakan sedikit pun rasa bersalah."Karena itulah kita harus tetap berada di pihak Yang Mulia Ratu," ucapnya sambil mengangkat cangkir teh ke bibir. "Selama beliau berhasil menyingkirkan Putra Mahkota dan mengangkat pewaris yang baru, keluarga Arlis tidak akan pernah tersentuh. Semua yang kita lakukan akan terkubur selamanya."Iris mengangguk tanpa sedikit pun keraguan. Wajah cantiknya dihiasi senyum yang begitu puas hingga sulit dipercaya bahwa wanita itu baru saja membicarakan pembunuhan ibu kandung kakaknya sendiri."Tidak akan ada yang mampu menyelidiki kematian wanita itu lagi," katanya pelan. "Dan kalau Ishrina ikut mati, maka tidak akan ada lagi yang mengetahui bahwa Gunung Endless maupun seluruh warisan itu seharusnya menjadi miliknya."Countess t
Suara Iris.Ishrina seharusnya tetap berjalan. Ia tidak memiliki alasan untuk berhenti. Namun entah mengapa kakinya seakan kehilangan keinginan untuk bergerak. Pintu ruang di ujung lorong tidak tertutup sempurna. Dari celah kecil itulah suara percakapan di dalam ruangan terdengar jelas."Bersabarlah." Kali ini suara Countess Arlis yang terdengar. "Pernikahanmu dengan Grand Duke tetap akan berlangsung."Iris tertawa sinis. Tawa yang terdengar begitu tajam hingga membuat suasana di lorong terasa dingin."Setelah semua yang terjadi, Ibu masih bisa mengatakan itu?""Kallias hanya sedang bingung.""Dia tidak terlihat bingung." Jawaban Iris datang cepat. "Dia terlihat seperti pria yang kehilangan akal hanya karena melihat Ishrina."Ishrina menundukkan pandangan. Tidak ada perubahan di wajahnya. Ia sudah terlalu sering mendengar hal-hal seperti itu. Terlalu sering menjadi bahan pembicaraan mereka.Karena itulah kata-kata tersebut tidak lagi mampu melukainya seperti dahulu. Namun percakapan d
Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.Tidak ada lagi pembicaraan mengenai Kaisar, Axion, ataupun Gunung Endless. Setelah semua yang dikatakan Kallias, suasana di antara mereka justru terasa jauh lebih rumit daripada sebelumnya. Ishrina berdiri di tempatnya sambil menatap pria yang sejak tadi tidak pernah mengalihkan pandangan darinya.Selama ini semuanya selalu sederhana. Kallias memilih Iris. Kallias mengabaikannya. Kallias membuatnya terluka berkali-kali. Karena itu, ia selalu tahu bagaimana harus bersikap terhadap pria tersebut.Namun sekarang? Sekarang pria yang sama berdiri di hadapannya dan mengatakan bahwa ia bersedia memberikan apa pun selama Ishrina tetap berada di sisinya."Jawab aku, Ishrina." Suara Kallias memecah keheningan yang panjang.Membuat Ishrina kembali menatapnya. Pria itu tidak bergerak dari tempatnya. Kedua tangannya berada di belakang punggung, sementara sorot matanya tetap terkunci pada wajah wanita itu."Kau harus memberiku jawaban."Ishrina menghe
Teriakan Kallias terdengar lebih dekat.“Aku tidak melakukan apapun!”Dalam sekejap, tangan Ishrina ditarik paksa ke belakang. Tubuhnya ikut tertarik menjauh, membuat jarak dengan Iris.Napas Ishrina memburu. Dadanya naik turun, matanya masih tertuju pada Iris, tapi Kallias sudah berdiri di antara
Ishrina terdiam cukup lama setelah semua itu diucapkan. Tatapannya tidak lepas dari wajah ayahnya, mencoba menemukan sesuatu penjelasan atau sekadar sisa kepedulian yang dulu pernah ada. Namun yang ia lihat sekarang justru semakin menegaskan satu hal yang selama ini ia sangkal.Dari cara ayahnya me
Urusan penting.Kata-kata itu terus terngiang di kepala Ishrina sejak tadi. Awalnya ia tidak terlalu memikirkannya, mencoba menerima seperti biasanya. Namun sekarang, berdiri di lorong panjang kediaman Count Arlis, ia akhirnya mengerti arti sebenarnya dari “urusan” yang dimaksud Kallias.Langkahnya
“Kita sudahi saja hubungan ini.”Suara Ishrina pelan, tapi jelas. Tidak bergetar, tidak ragu. Justru karena terlalu tenang, kalimat itu terasa lebih berat dari seharusnya.Kallias yang sedang mengenakan jubahnya berhenti. Tangannya tertahan di udara, lalu perlahan turun. Ia menyibakkan rambut hitam












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore