“Ah, nggak terasa sudah satu bulan. Sisa satu bulan lagi magang kita berakhir,” gerutu Sonia sambil merebahkan kepalanya di atas meja. “Benar,” sahut Naresa sambil menghela napas panjang. “Aku sangat capek. Aku mengira cuma magang, nggak tahunya tugas juga banyak.” Sonia hanya menganggukkan kepalanya setuju. “Belum lagi laporan.” “Iya.” “Belum lagi revisi.” “Iya.” “Belum lagi pembimbing kita yang—” “Jangan diteruskan.” Membuat Sonia langsung tertawa kecil. Karena mereka berdua sama-sama tahu siapa yang sedang dibicarakan. “Eh.” “Hm?” Sonia tiba-tiba menyeringai. Membuat Naresa langsung punya firasat buruk. “Sudah sebulan ya sejak kamu menjawab Kak Zavian.” Deg. Seketika tangan Naresa berhenti menulis. Namun hanya sesaat. Lalu kembali berpura-pura fokus. “Terus?” “Malah sekarang sepertinya kamu sering ditinggal ke dinas luar?” “Diam, jangan dibahas!” Sonia langsung tertawa. “Loh kenapa?” “Aku lagi kesal sama dia.” “Hah?” Kali ini Sonia langsung duduk tegak.
Baca selengkapnya