LOGIN“Ah, nggak terasa sudah satu bulan. Sisa satu bulan lagi magang kita berakhir,” gerutu Sonia sambil merebahkan kepalanya di atas meja. “Benar,” sahut Naresa sambil menghela napas panjang. “Aku sangat capek. Aku mengira cuma magang, nggak tahunya tugas juga banyak.” Sonia hanya menganggukkan kepalanya setuju. “Belum lagi laporan.” “Iya.” “Belum lagi revisi.” “Iya.” “Belum lagi pembimbing kita yang—” “Jangan diteruskan.” Membuat Sonia langsung tertawa kecil. Karena mereka berdua sama-sama tahu siapa yang sedang dibicarakan. “Eh.” “Hm?” Sonia tiba-tiba menyeringai. Membuat Naresa langsung punya firasat buruk. “Sudah sebulan ya sejak kamu menjawab Kak Zavian.” Deg. Seketika tangan Naresa berhenti menulis. Namun hanya sesaat. Lalu kembali berpura-pura fokus. “Terus?” “Malah sekarang sepertinya kamu sering ditinggal ke dinas luar?” “Diam, jangan dibahas!” Sonia langsung tertawa. “Loh kenapa?” “Aku lagi kesal sama dia.” “Hah?” Kali ini Sonia langsung duduk tegak.
“Kak.” “Hm?” sahut Zavian sambil fokus menyetir. “Lain kali kalau jemput jangan terlalu ganteng bisa kan?” Seketika Zavian menoleh sekilas ke arahnya. Sedangkan Naresa masih terlihat kesal sambil menatap ke luar jendela. “Apa?” “Naresa kesal melihat mereka menatap Kakak gimana gitu.” Membuat sudut bibir Zavian perlahan terangkat. “Siapa?” “Anak-anak tadi.” “Hm.” “Jangan hmm terus.” “Kamu sedang cemburu?” Seketika Naresa langsung menoleh. “Hah?” “Karena mereka melihatku?” “Tentu saja tidak!” Jawaban itu keluar terlalu cepat. Membuat Zavian semakin yakin. “Kalau begitu kenapa kesal?” Naresa langsung mengerucutkan bibirnya. Karena jujur saja. Dia juga tidak tahu kenapa dirinya kesal. Yang jelas. Sejak melihat beberapa siswi tadi diam-diam memperhatikan Zavian. Suasana hatinya langsung berubah. “Pokoknya kesal.” “Alasan yang bagus.” “Heh.” Membuat Zavian terkekeh pelan. Sedangkan Naresa semakin kesal. “Bahkan ada yang sampai pura-pura jalan pelan.” “Hm.” “
“Naresa.” panggilan Sonia membuat Naresa mengangkat kepalanya dari buku magang yang sedari tadi dibacanya. “Ada apa?” tanya Naresa. Saat ini mereka sedang berada di laboratorium. Waktu istirahat baru saja dimulai. Sedangkan Naresa memilih duduk sambil memeriksa kembali catatan magangnya. “Aku dengar dari Kak Rayhan.” “Hm?” “Dua hari yang lalu Kak Zavian ngomong sama Om dan Tante ya?” “E-eh?” Seketika Naresa langsung menegang. Membuat Sonia menyipitkan matanya curiga. “Nah kan!” “Apa sih?” “Jadi benar?” Naresa langsung memalingkan wajahnya. Namun telinganya yang mulai memerah membuat Sonia semakin yakin. “Ya ampun, jadi benar!” “Sonia, kecilin suaramu.” “Terus?” “Terus apa?” “Jangan pura-pura tidak tahu.” Sonia langsung menarik kursinya mendekat. “Ceritakan semuanya.” “Tidak mau.” “Kenapa?” “Malu.” “Loh?” Naresa langsung memegangi dahinya. Karena dirinya sudah bisa menebak bagaimana reaksi Sonia jika mengetahui semuanya. “Naresa.” “Apa?” “Aku sahabatmu.”
“M-maafkan Naresa, A-ayah... Ibu...” ucap Naresa dengan suara yang bergetar. Air matanya terus mengalir. “M-maafkan Naresa...” Seketika Liana langsung berdiri dari duduknya. Namun Naresa lebih dulu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “M-maaf karena sudah mempunyai perasaan seperti ini...” lanjutnya sambil menangis. “Naresa benar-benar tidak pernah berniat seperti ini.” Ruangan kembali hening. Hanya suara isak tangis Naresa yang terdengar. “Aku sudah berusaha menganggap Kak Zavian hanya sebagai kakak.” Tangisnya semakin menjadi. “Aku juga berusaha menjauh.” “Aku berusaha melupakannya.” “Tapi aku tidak bisa...” Membuat hati Liana langsung terasa sesak. Karena selama ini. Putrinya menanggung semua itu sendirian. “Aku takut Ayah dan Ibu kecewa.” “Aku takut Ayah dan Ibu marah.” “Aku takut keluarga kita jadi hancur karena aku.” Tangannya mengepal erat. Bahkan tubuhnya sedikit gemetar. “M-maafkan Naresa...” “Naresa.” Suara Rendra akhirnya terdengar. Membuat gadis itu p
“Kak, jangan bilang dulu,” ucap Naresa kepada Zavian. Saat ini mereka sudah tiba di kediaman Pratama. Mobil baru saja berhenti beberapa menit yang lalu. Dan sekarang. Naresa mengikuti langkah Zavian dari belakang sambil terus mencoba menghentikannya. “Kak,” panggilnya lagi dengan wajah panik. Namun Zavian tetap berjalan santai menuju pintu masuk. “Kamu tidak perlu sepanik itu, Naresa.” “Tapi Kak—” “Aku akan mengatakan semuanya kepada Ayah dan Ibu.” Deg. Seketika wajah Naresa langsung pucat. “K-kak!” “Apa?” “Jangan sekarang.” “Kenapa?” “Karena aku belum siap.” Membuat Zavian akhirnya berhenti melangkah. Pria itu berbalik menghadap Naresa. Lalu menatap gadis itu beberapa saat. “Apa kamu tidak memiliki perasaan kepadaku sehingga kamu takut jika aku berbicara dengan Ayah dan Ibu?” Seketika Naresa langsung membeku. Wajahnya berubah kesal. “Kenapa Kakak malah bertanya seperti itu?” tanyanya dengan nada yang mulai meninggi. Karena menurutnya. Pertanyaan itu sangat ti
“Memang salah jika aku memanggilmu sayang?” Seketika tubuh Naresa langsung menegang. Matanya membulat lebar. Sedangkan wajahnya sudah merah sepenuhnya. “K-kak!” “Apa?” “Kakak jangan ngomong sembarangan saat menyetir!” Membuat Zavian mengangkat satu alisnya. “Itu ada hubungannya dengan menyetir?” “Ada!” “Apa hubungannya?” Naresa langsung membuka mulutnya. Namun tidak ada jawaban yang keluar. Karena dirinya sendiri tidak tahu apa hubungannya. Pokoknya gugup. Sangat gugup. “Kamu belum menjawab pertanyaanku,” ucap Zavian santai. Naresa langsung memeluk kotak macaronnya semakin erat. “Pertanyaan apa?” “Memang salah jika aku memanggilmu sayang?” Deg. Jantung Naresa kembali berdetak tidak karuan. “Kak...” “Hm?” “Kita lagi di jalan.” “Iya.” “Jangan bahas begitu.” “Kenapa?” “Malu.” Jawaban jujur itu akhirnya keluar juga. Membuat Zavian meliriknya sekilas. Dan benar saja. Wajah Naresa benar-benar merah sampai ke telinga. Seolah ingin menghilang dari dalam mobil.







