“Kak, temanin jajan yok.” Rayhan yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur langsung menghela napas panjang. “Aku capek, Naresa. Aku mau istirahat.” Naresa yang berdiri di depan pintu kamar langsung cemberut. “Ayok kak, temanin jajan.” “Aku capek, Naresa.” Namun gadis itu masih belum menyerah. “Aku cuma mau keluar sebentar.” “Besok saja.” “Nanti keburu malas.” Rayhan langsung menutup matanya. Karena seharian ini dirinya memang cukup lelah. Kuliah. Tugas. Belum lagi harus menyempatkan waktu menghubungi Sonia. “Aku capek, Naresa,” ulangnya sekali lagi. Dan kali ini— Naresa langsung terdiam. Entah kenapa. Jawaban itu terasa berbeda. “Oh…” Gadis itu menundukkan pandangannya sesaat. Lalu tertawa kecil. “Jadi gitu ya sekarang, Kak?” Rayhan langsung membuka matanya. “Hah?” “Mentang-mentang sudah pacaran sama Sonia, sekarang temanin aku jajan pun gak mau.” “Naresa—” Namun gadis itu sudah lebih dulu memotongnya. “Iya sudah.” Naresa tersenyum kecil. M
Mehr lesen