Hari keempat, Arkana belum juga sadarkan diri ketika Rafael datang ke rumah sakit. Anindya yang sedang duduk di sisi ranjang mengangkat kepala saat mendengar pintu kamar terbuka. Begitu melihat siapa yang datang, wajahnya langsung berubah dingin.Rafael berdiri di ambang pintu dengan sekotak buah di tangannya. Penampilannya sedikit berantakan, seolah-olah ia juga tidak tidur dengan baik selama beberapa hari terakhir. Tatapannya beralih kepada Arkana yang terbaring tak bergerak, kemudian kembali kepada Anindya."Aku datang untuk menjenguk Arkana."Anindya tidak menjawab. Ia kembali memandang Arkana, seolah-olah keberadaan Rafael sama sekali tidak penting.Rafael menarik napas, lalu masuk dan meletakkan kotak buah itu di meja dekat pintu. "Bagaimana keadaannya?""Kalau kamu sudah melihat sendiri, seharusnya kamu bisa menilai." Nada suara Anindya datar, tetapi dinginnya terasa jelas.Rafael mengatupkan rahang. Ia tahu Anindya masih marah kepadanya. Setelah kejadian di rumah Wijaya, setel
Read more